PELITA MAJALENGKA - Dunia telah berubah, dan cara manusia menerima pesan pun ikut berubah. Jika dahulu dakwah identik dengan mimbar masjid, majelis taklim, dan kitab-kitab cetak, hari ini ruang dakwah meluas hingga ke layar gawai. Seorang dai tidak lagi hanya berdiri di depan jamaah yang terlihat oleh mata, tetapi juga berbicara kepada ribuan bahkan jutaan orang yang tersebar di berbagai kota dan negara. Inilah realitas baru yang menuntut kesiapan mental, intelektual, dan spiritual. Dakwah tidak boleh tertinggal oleh zaman, karena Islam sendiri adalah agama yang relevan sepanjang masa.
Perubahan ini bukan sekadar soal teknologi,
melainkan perubahan budaya komunikasi. Media sosial, video pendek, podcast, dan
platform digital lainnya telah menjadi “ruang publik” baru. Jika dahulu orang
menunggu ceramah di masjid, kini mereka menunggu notifikasi di ponsel. Karena
itu, transformasi media dakwah menjadi sebuah keniscayaan. Dakwah harus hadir
di tempat manusia berada. Ketika manusia banyak menghabiskan waktunya di dunia
digital, maka di situlah cahaya nasihat dan ilmu perlu dihadirkan.
Namun transformasi media dakwah bukan berarti
mengubah substansi ajaran. Nilai Al-Qur’an dan Sunnah tetap menjadi fondasi utama.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an agar kita berdakwah dengan hikmah dan nasihat
yang baik. Prinsip ini tidak berubah, hanya medianya saja yang berkembang. Jika
dahulu hikmah disampaikan lewat lisan langsung, kini ia bisa hadir dalam bentuk
video singkat yang menyentuh hati atau tulisan ringan yang mudah dipahami.
Di era digital, seorang dai juga perlu
memahami pentingnya membangun citra diri yang baik. Branding bukan berarti
mencari popularitas kosong, tetapi menghadirkan identitas yang jelas, konsisten,
dan terpercaya. Masyarakat digital cenderung memilih figur yang mereka anggap
autentik. Kejujuran, konsistensi, dan kesederhanaan akan lebih berpengaruh
dibanding sekadar tampilan yang mewah. Dalam Islam, keteladanan adalah ruh
dakwah. Nabi Muhammad ﷺ dikenal sebagai
Al-Amin jauh sebelum diangkat menjadi Rasul. Artinya, kredibilitas adalah
pondasi utama sebelum pesan disampaikan.
Etika bermedia sosial juga menjadi tantangan
tersendiri. Dunia digital sering kali memancing emosi dan perdebatan yang tidak
sehat. Seorang dai harus menjadi teladan dalam menjaga adab. Tidak mudah
terpancing provokasi, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas
kebenarannya, dan tidak merendahkan pihak lain. Allah mengingatkan dalam
Al-Qur’an agar setiap berita diperiksa kebenarannya sebelum disebarkan. Prinsip
tabayyun ini sangat relevan di era banjir informasi seperti sekarang.
Selain itu, dai perlu memahami manajemen
konten yang edukatif. Konten bukan hanya soal seberapa sering kita mengunggah,
tetapi seberapa bermakna pesan yang disampaikan. Materi dakwah yang baik adalah
yang mampu menjawab kebutuhan umat. Ada kalanya masyarakat membutuhkan
penguatan akidah, di waktu lain mereka memerlukan bimbingan akhlak, dan di saat
tertentu mereka membutuhkan solusi atas problem sosial. Kepekaan terhadap
kondisi umat menjadi kunci dalam merancang konten.
Konten yang baik juga perlu dikemas dengan bahasa yang ramah dan mudah dipahami. Tidak semua orang memiliki latar belakang pendidikan agama yang mendalam. Karena itu, bahasa yang sederhana namun bernas akan lebih mudah diterima. Seorang dai digital harus mampu menerjemahkan nilai-nilai besar Islam ke dalam bahasa keseharian tanpa mengurangi kedalaman maknanya. Di sinilah kreativitas berperan. Ilmu yang tinggi perlu disampaikan dengan cara yang membumi.
Tantangan besar lainnya di era digital adalah
maraknya hoaks dan disinformasi. Informasi palsu dapat menyebar lebih cepat
daripada kebenaran. Dalam situasi seperti ini, dai memiliki peran strategis
sebagai penjernih suasana. Ia tidak hanya menyampaikan nasihat, tetapi juga
meluruskan kesalahpahaman yang beredar di masyarakat. Namun pelurusan ini harus
dilakukan dengan bijak, tidak dengan nada merendahkan atau mempermalukan.
Menghadapi hoaks memerlukan kesabaran dan
ketelitian. Tidak semua isu perlu ditanggapi dengan emosional. Kadang diam
lebih bijak daripada ikut memperkeruh suasana. Tetapi ketika sebuah informasi
keliru berpotensi menyesatkan umat, maka klarifikasi menjadi bagian dari amanah
dakwah. Prinsipnya tetap satu: menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun.
Karena tujuan dakwah adalah menyelamatkan, bukan memenangkan perdebatan.
Era digital juga membuka peluang besar bagi
dakwah multiplatform. Seorang dai bisa menyampaikan pesan melalui tulisan,
audio, video, hingga siaran langsung. Setiap platform memiliki karakteristik
berbeda. Video pendek cocok untuk pesan singkat yang menggugah, podcast efektif
untuk pembahasan yang lebih mendalam, sementara tulisan panjang bisa menjadi
referensi yang lebih sistematis. Kemampuan memanfaatkan berbagai platform akan
memperluas jangkauan dakwah secara signifikan.
Tidak hanya itu, kolaborasi juga menjadi kunci
penting. Dakwah tidak harus berjalan sendiri. Kolaborasi dengan akademisi,
praktisi media, atau komunitas sosial dapat memperkaya perspektif dan
memperluas dampak. Kolaborasi juga mengajarkan kerendahan hati, bahwa
perjuangan menyebarkan kebaikan adalah tugas bersama. Semangat berjamaah yang
diajarkan Islam menemukan relevansinya dalam kerja-kerja kolaboratif di ruang
digital.
Namun di tengah semua peluang itu, seorang dai
harus menjaga niatnya. Dunia digital sangat mudah memunculkan penyakit hati
seperti riya dan ujub. Jumlah pengikut, jumlah tayangan, dan komentar pujian
bisa menjadi ujian tersendiri. Karena itu, muhasabah harus menjadi rutinitas.
Setiap unggahan seharusnya diawali dengan pertanyaan: apakah ini benar-benar
untuk Allah, atau untuk pengakuan manusia? Keikhlasan adalah ruh yang
menghidupkan dakwah, tanpa itu semua aktivitas hanya menjadi rutinitas kosong.
Dai di era digital juga perlu terus belajar.
Perkembangan teknologi bergerak cepat. Algoritma berubah, tren berganti, dan
preferensi audiens dinamis. Jika seorang dai tidak mau belajar, ia akan
tertinggal. Belajar di sini bukan hanya belajar teknologi, tetapi juga belajar
memahami psikologi audiens, dinamika sosial, dan isu-isu kontemporer. Dakwah
yang responsif terhadap realitas akan lebih relevan dan menyentuh.
Pada akhirnya, dakwah digital bukan sekadar
memindahkan ceramah ke internet. Ia adalah upaya menghadirkan nilai-nilai Islam
dalam ruang kehidupan modern. Dai menjadi jembatan antara ajaran ilahi dan
realitas kekinian. Ia harus tegas dalam prinsip, namun lentur dalam metode. Ia
harus kuat dalam ilmu, namun lembut dalam penyampaian.
Kita hidup di zaman di mana satu pesan dapat
menjangkau ribuan orang dalam hitungan detik. Ini adalah peluang besar yang
mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya. Jika dimanfaatkan dengan baik,
media digital bisa menjadi ladang amal yang luas. Setiap konten yang
menginspirasi, setiap nasihat yang menyentuh hati, dan setiap klarifikasi yang
meluruskan kesalahpahaman bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Maka menjadi dai di era digital adalah amanah
sekaligus kesempatan. Amanah karena setiap kata akan dipertanggungjawabkan, dan
kesempatan karena dampaknya bisa sangat luas. Yang dibutuhkan adalah
keseimbangan antara kompetensi teknis dan kedalaman spiritual. Teknologi
hanyalah alat, sementara hati yang ikhlas dan ilmu yang benar adalah
fondasinya.
Akhirnya,
dakwah di ruang digital mengajarkan kita bahwa Islam selalu relevan. Ia mampu
menembus batas ruang dan waktu. Selama ada manusia yang mencari kebenaran,
selama itu pula dakwah akan menemukan jalannya. Dan di era ini, jalannya banyak
melalui layar-layar kecil di genggaman kita. Pertanyaannya bukan lagi apakah
dakwah harus hadir di dunia digital, tetapi sejauh mana kita siap menjadikannya
sebagai sarana menebar rahmat bagi semesta.[]

