Amal Sholeh Yang Menghidupkan: Tadabbur Qs. An-Nahl ayat 97


PELITA MAJALENGKA - 
Allah berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 97 bahwa siapa saja yang beramal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka akan diberikan kehidupan yang baik dan pahala yang lebih baik dari apa yang telah dikerjakannya. Ayat ini adalah motivasi besar bagi seluruh umat manusia. Ia bukan sekadar ajakan, tetapi juga janji yang pasti. Janji dari Dzat yang tidak pernah mengingkari janji-Nya. Karena itu, ayat ini layak menjadi pegangan hidup setiap muslim.

Menariknya, dalam ayat tersebut amal sholeh disebut lebih dahulu sebelum iman. Biasanya Al-Qur’an menyebut iman lebih dulu, lalu amal sholeh. Namun di sini, urutannya berbeda. Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan pentingnya amal nyata dalam kehidupan seorang mukmin. Iman yang benar pasti melahirkan amal, dan amal yang diterima pasti dibangun di atas iman.

Iman dan amal tidak bisa dipisahkan. Iman tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Sementara amal tanpa iman ibarat bangunan tanpa fondasi. Keduanya harus berjalan beriringan. Ketika iman menguat, amal akan semakin berkualitas. Ketika amal diperbaiki, iman pun semakin kokoh.

Ayat ini juga menegaskan bahwa amal sholeh tidak memandang gender. Laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama di sisi Allah. Ukuran kemuliaan bukan jenis kelamin, melainkan iman dan amalnya. Islam memberikan kesempatan yang adil bagi semua. Siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang mendapatkan hasilnya.

Allah menjanjikan balasan berupa hayatan thayyibah, kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik bukan sekadar kaya atau bebas masalah. Kehidupan yang baik adalah hati yang tenang dan jiwa yang damai. Ia adalah rasa cukup meski harta terbatas. Ia adalah keteguhan meski ujian datang silih berganti.

Namun kita perlu jujur melakukan introspeksi. Jangan-jangan kita merasa sudah banyak beramal, tetapi hidup masih terasa sempit dan gelisah. Mungkin amal kita belum benar-benar sholeh. Bisa jadi niatnya belum ikhlas atau caranya belum sesuai tuntunan. Atau mungkin amal itu belum memberi manfaat luas bagi orang lain.

Ada kisah di masa Nabi tentang seseorang yang dikenal rajin beribadah. Orang-orang memujinya sebagai ahli shalat dan ahli ibadah. Namun Nabi melihat ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya. Ternyata orang itu termasuk golongan yang menyimpang dalam pemahaman. Ia rajin beribadah, tetapi keras dan menyimpang dalam sikap.

Kisah ini memberi pelajaran penting bagi kita. Banyaknya ibadah belum tentu menjamin lurusnya hati. Amal sholeh bukan sekadar banyaknya sujud dan panjangnya bacaan. Amal sholeh harus benar aqidahnya, benar niatnya, dan benar dampaknya. Ia harus menghadirkan rahmat, bukan kebencian.

Amal sholeh sejati selalu membawa manfaat. Ia tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir kepada orang lain. Shalat yang benar melahirkan kejujuran dan kelembutan. Puasa yang benar melahirkan empati dan kesabaran. Tilawah yang benar melahirkan akhlak yang mulia.

Nabi menjelaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Bermanfaat berarti menghadirkan kebaikan nyata dalam kehidupan orang lain. Menggembirakan sesama muslim adalah amal besar. Menghilangkan kesulitan mereka adalah ibadah mulia. Bahkan membantu melunasi hutang dan memenuhi kebutuhan orang lain termasuk amal yang sangat dicintai Allah.

Menahan amarah ketika mampu melampiaskannya juga termasuk amal agung. Ini bukan perkara mudah, tetapi di situlah letak kemuliaan. Orang kuat bukan yang menang dalam pertengkaran. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya. Ketika kita menahan marah karena Allah, di situlah iman bekerja.

Semua amal itu harus dilakukan dalam keadaan beriman. Imanlah yang menjaga arah dan tujuan. Iman membuat amal menjadi ikhlas dan bersih dari riya. Tanpa iman, amal hanya menjadi rutinitas kosong. Dengan iman, amal menjadi cahaya yang menerangi hidup.

Para ulama menjelaskan bahwa amal sholeh memiliki banyak manfaat. Pertama, ia menjauhkan pelakunya dari keburukan dunia dan akhirat. Allah menjaga langkah orang yang suka berbuat baik. Kedua, ia menjadi sebab turunnya ampunan. Tidak ada manusia tanpa salah, tetapi amal sholeh menjadi penutup kekurangan itu.

Ketiga, amal sholeh mendatangkan hidayah. Semakin seseorang berbuat baik, semakin Allah mudahkan jalannya menuju kebaikan berikutnya. Keempat, amal sholeh menghapus kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Dan kelima, ia menjadi sebab datangnya kehidupan yang layak dan penuh keberkahan. Inilah wujud nyata dari hayatan thayyibah.

Kehidupan yang baik bukan berarti tanpa masalah. Bahkan para nabi pun diuji dengan ujian berat. Namun mereka memiliki hati yang kokoh dan tenang. Mereka yakin bahwa setiap amal tidak akan sia-sia. Mereka percaya bahwa janji Allah pasti benar.

Karena itu, jangan puas hanya dengan ibadah pribadi. Jadikan ibadah sebagai bahan bakar untuk memberi manfaat. Perluas amal dari lingkup diri menuju lingkup sosial. Jadilah pribadi yang kehadirannya dirindukan. Jadilah muslim yang membawa solusi, bukan menambah masalah.

Bayangkan jika setiap orang memahami makna amal sholeh seperti ini. Masjid tidak hanya ramai saat shalat, tetapi juga menjadi pusat kepedulian sosial. Orang kaya membantu yang kesulitan tanpa diminta. Orang berilmu membimbing yang belum paham dengan sabar. Masyarakat akan dipenuhi rasa saling peduli dan saling menguatkan.

Akhirnya, kita semua harus bertanya pada diri sendiri. Apakah kehadiran kita membawa kebaikan bagi orang lain? Apakah keluarga dan masyarakat merasakan manfaat dari diri kita? Apakah amal kita sudah menghadirkan ketenangan dalam hidup? Jika belum, maka inilah saatnya memperbaiki dan meluruskan kembali niat serta langkah kita.

Allah telah menjanjikan balasan yang agung. Kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang berlipat di akhirat. Tidak ada satu pun kebaikan yang terlewat dari perhitungan-Nya. Sekecil apa pun amal itu, jika dilakukan dengan iman dan keikhlasan, ia akan bernilai besar. Maka teruslah beramal sholeh, karena dari situlah lahir kehidupan yang benar-benar hidup.[]