Ketika Dosa Terasa Ringan di Lidah, Tapi Berat di Timbangan Allah : Tadabbur Al-Qur’an Surah An-Nūr Ayat 15


PELITA MAJALENGKA
- Ada satu penyakit hati yang sangat berbahaya, namun sering tidak kita sadari. Penyakit ini tidak menimbulkan rasa sakit di tubuh, tidak membuat kita terbaring lemah, bahkan sering dianggap sepele. Penyakit itu adalah meremehkan dosa. Ketika dosa terasa ringan di lidah, ringan di perasaan, dan dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari, padahal di sisi Allah ia bisa sangat berat.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan kita melalui firman-Nya dalam Surah An-Nūr ayat 15:

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“Dan kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah itu adalah dosa yang besar.”

Ayat ini turun dalam konteks peristiwa besar, yaitu haditsul ifk—fitnah keji terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Banyak orang terlibat bukan karena kebencian besar, tetapi karena ucapan ringan, obrolan kecil, dan komentar yang dianggap sepele. Mereka tidak merasa sedang melakukan dosa besar. Namun Allah justru menegaskan: yang kalian anggap ringan itu, di sisi Allah sangat besar.

Di sinilah letak pelajaran pentingnya: standar dosa bukan perasaan manusia, tetapi penilaian Allah.

Dosa yang Terasa Ringan di Lidah

Banyak dosa hari ini tidak lagi terasa berat. Ghibah dianggap sekadar cerita. Bohong disebut basa-basi. Melukai hati orang lain dibungkus candaan. Membuka aib diberi nama “jujur”. Melalaikan salat dianggap karena “sibuk”. Lidah begitu ringan mengucapkannya, tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah.

Padahal Rasulullah sudah mengingatkan dengan sangat jelas, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang ia anggap sepele, namun karena kalimat itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Satu kalimat. Satu ucapan. Satu dosa yang terasa ringan. Namun akibatnya sangat berat.

Lidah adalah anggota tubuh kecil, tetapi dosanya bisa paling banyak. Karena itu, ketika dosa terasa ringan di lidah, sejatinya bukan lidah yang bermasalah, tetapi hati.

Perbedaan Hati Mukmin dan Hati yang Lalai

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu menggambarkan perbedaan ini dengan perumpamaan yang sangat menyentuh. Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung yang ia takut gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang fajir melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya begitu saja.”
(HR. Al-Bukhari)

Mukmin tidak merasa aman dengan dosanya, sekecil apa pun. Ia gelisah, takut, dan segera ingin membersihkannya dengan taubat. Sebaliknya, hati yang lalai menganggap dosa seperti lalat: datang, pergi, tidak meninggalkan bekas.

Jika hari ini kita mudah berkata, “Ah, cuma ghibah sedikit,” atau “Semua orang juga begitu,” atau “Yang penting niatnya baik,” maka ayat An-Nūr: 15 seakan sedang berbicara langsung kepada kita.

Dosa Kecil yang Dikumpulkan

Sering kali kita merasa aman karena tidak melakukan dosa besar. Kita tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh. Namun kita lupa bahwa dosa kecil yang terus dikumpulkan bisa menghancurkan.

Rasulullah bersabda, “Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa kecil itu akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.” (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Para ulama menjelaskan: dosa kecil itu seperti kayu bakar kecil-kecil. Satu batang tidak cukup menyalakan api. Namun jika dikumpulkan, ia bisa menjadi api besar yang membakar segalanya.

Inilah yang sering kita lupakan. Kita merasa aman karena satu dosa kecil. Lalu terbiasa. Lalu diulang. Lalu dianggap normal. Hingga akhirnya hati mengeras tanpa disadari.

Semua Dosa Akan Ditimbang

Allah tidak pernah meremehkan apa pun yang kita lakukan. Dalam Surah Al-Zalzalah, Allah menegaskan, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah: 7–8)

Zarrah adalah sesuatu yang sangat kecil. Lebih kecil dari debu. Lebih kecil dari yang bisa kita bayangkan. Namun Allah memastikan: tidak ada dosa yang hilang begitu saja. Semua akan hadir di hari hisab. Semua akan ditimbang.

Maka yang membuat dosa itu berat bukan karena bentuknya, tetapi karena ia dicatat, dihadapkan, dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Awal Rusaknya Hati

Rasulullah menjelaskan bagaimana dosa yang diremehkan perlahan merusak hati, “Jika seorang hamba berbuat dosa, maka dititikkan satu titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya dibersihkan. Namun jika ia kembali berbuat dosa, maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Masalahnya bukan pada satu titik hitam. Masalahnya adalah ketika titik itu tidak disesali. Ketika dosa dianggap biasa. Ketika istighfar hanya di lisan, bukan di hati.

Hati yang tertutup tidak lagi sensitif terhadap maksiat. Tidak lagi merasa berat saat melanggar. Inilah fase berbahaya yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai ran—karat hati.

Merasa Aman dari Dosa adalah Bahaya

Sebagian orang berkata, “Allah Maha Pengampun.” Itu benar. Tapi Allah juga Maha Adil. Mengandalkan ampunan Allah sambil terus meremehkan dosa bukanlah harapan, melainkan tipuan nafsu.

Para ulama berkata: Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika disertai taubat. Masalahnya bukan siapa yang paling sedikit dosanya, tetapi siapa yang paling jujur menyesali dosanya.

Tadabbur yang Menyelamatkan

Surah An-Nūr ayat 15 bukan hanya tentang fitnah, tetapi tentang cara pandang kita terhadap dosa. Ayat ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah ada ucapan yang terasa ringan, tapi belum tentu ringan di sisi Allah?
Apakah ada kebiasaan yang sudah dianggap wajar, padahal itu maksiat?
Apakah istighfar kita masih lahir dari rasa takut, atau sekadar rutinitas?

Jika hari ini dosa terasa ringan di lidah, jangan-jangan timbangan kita sedang berat di sisi Allah.

Dosa besar sering membuat orang takut. Tapi dosa kecil yang diremehkan sering membuat orang binasa. Karena ia tidak disadari, tidak ditangisi, dan tidak ditaubati.

Mari belajar takut pada Allah, bukan karena besarnya dosa, tetapi karena keagungan Dzat yang kita durhakai.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang hatinya hidup, yang gemetar saat bermaksiat, dan yang ringan lidahnya bukan untuk dosa, tetapi untuk istighfar dan taubat.[BA]