Muslim Paradoks: Mengajak Berbenah Umat, Tapi Enggan Menyapu Hati Sendiri


PELITA MAJALENGKA
- Ada satu pemandangan yang kerap kita jumpai di tengah umat ini: suara lantang mengajak perubahan, namun langkahnya sendiri enggan bergerak. Lisan fasih menasihati, tetapi hati dibiarkan kotor tanpa pernah disapu. Kita pandai menunjuk arah, tapi lupa melangkah. Inilah paradoks yang menyayat—umat yang sibuk mengajak berbenah, namun lalai membersihkan dirinya sendiri.

Kita gemar berkata, “Umat ini harus berubah!” Namun jarang bertanya, “Apakah aku sudah berubah?” Kita mudah resah melihat dosa orang lain, tetapi tenang hidup dengan dosa yang kita peluk sendiri. Kita marah pada kemungkaran di luar, tapi memelihara kesombongan, iri, dan riya di dalam dada. Seolah dosa orang lain lebih berbahaya daripada penyakit hati kita sendiri.

Betapa sering kita berdiri di mimbar moral, menegur dengan nada tinggi, namun hati kita penuh debu. Kita menyeru keikhlasan, sementara amal kita haus pujian. Kita mengajak persatuan, tapi hati kita penuh dengki dan merasa paling benar. Kita bicara tentang adab, namun jari kita ringan menghakimi. Ini bukan sekadar kelalaian—ini ironi yang memalukan.

Padahal, perubahan sejati tidak pernah dimulai dari teriakan, melainkan dari keheningan hati. Islam tidak dibangun oleh pidato yang panjang, tetapi oleh jiwa yang bersih. Rasulullah ﷺ tidak mengubah dunia dengan kemarahan, melainkan dengan keteladanan. Akhlaknya adalah dakwah yang hidup, bukan slogan kosong. Namun kita—sering kali—ingin hasil instan tanpa mau melalui proses menyakitkan bernama muhasabah.

Membersihkan hati memang tidak nyaman. Ia menuntut kejujuran yang telanjang. Ia memaksa kita mengakui bahwa kita pun pendosa. Ia menghancurkan ego yang selama ini kita banggakan. Maka tak heran, banyak yang lebih memilih sibuk mengurusi orang lain daripada menatap cermin dirinya sendiri. Menegur orang lain terasa mulia; mengoreksi diri sendiri terasa hina.

Namun sadarkah kita? Dakwah tanpa perbaikan diri hanya akan melahirkan kemunafikan sosial. Ajakan tanpa keteladanan hanya melahirkan kelelahan umat. Nasihat tanpa keikhlasan hanya akan memantul kembali sebagai celaan. Allah tidak menilai seberapa keras suara kita, tetapi seberapa bersih hati kita. Tidak seberapa banyak yang kita seru, tetapi seberapa jujur kita menjalani.

Bayangkan jika setiap Muslim mulai dari dirinya sendiri. Menyapu hatinya setiap hari—dari iri, dengki, ujub, dan rasa paling suci. Menata niat sebelum menata orang lain. Menangis di sepertiga malam karena dosanya sendiri, sebelum menunjuk dosa saudaranya. Betapa dahsyatnya perubahan itu. Betapa sunyinya kebencian. Betapa hidupnya dakwah.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengajak—terutama diri kita sendiri. Sebab kita semua pernah terjebak dalam paradoks ini. Pernah merasa benar saat menyalahkan, namun lupa memperbaiki. Pernah bersemangat mengingatkan, tapi malas mengamalkan. Dan justru di situlah pintu harapan terbuka: ketika kita mau jujur mengakui kelemahan diri.

Mari kita berhenti sejenak. Turunkan jari telunjuk yang menunjuk keluar, dan arahkan ke dada sendiri. Tanyakan dengan lirih, “Sudahkah hatiku bersih hari ini?” Jika belum, sapulah. Meski perlahan. Meski menyakitkan. Sebab umat tidak butuh Muslim yang paling keras suaranya, tetapi yang paling jujur amalnya.

Jangan hanya menjadi penyeru kebaikan, jadilah pejalan kebaikan. Jangan hanya mengajak berbenah, mulailah dari menyapu hati sendiri. Karena perubahan umat tidak lahir dari mulut yang ramai, melainkan dari hati yang bersih dan tunduk. Dan dari sanalah, Islam kembali bercahaya—diam-diam, namun nyata.[]