PELITA MAJALENGKA - Zaman ini berjalan begitu cepat. Perubahan datang silih berganti, tuntutan hidup semakin beragam, dan pilihan semakin banyak. Di tengah arus itu, banyak pemuda memilih berhenti sejenak, menarik napas, dan menjalani hari dengan ritme yang lebih santai. Tidak selalu salah. Setiap orang punya cara bertahan. Namun, ada kalanya kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah santai ini sedang menyembuhkan, atau justru membuat kita lupa arah?
Pemuda selalu berada di fase penuh potensi. Energi ada, waktu masih panjang, dan kesempatan terbuka lebar. Sayangnya, potensi sering kali tertahan bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena terlalu nyaman menunda. Hari-hari berlalu tanpa disadari, malam berganti pagi, dan rencana-rencana baik tetap tinggal sebagai wacana. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena belum benar-benar dimulai.
Dalam sejarah Islam, para pemuda dikenal bukan karena kesempurnaan mereka, tetapi karena keberanian untuk melangkah. Mereka pun manusia biasa, punya rasa takut dan ragu. Bedanya, mereka tidak membiarkan keraguan itu mematikan langkah. Mereka bergerak sesuai kemampuan, melakukan yang bisa dilakukan, dan terus belajar di sepanjang jalan. Dari sana, lahir perubahan-perubahan besar.
Hari ini, tantangan pemuda terasa berbeda. Bukan lagi soal kekurangan akses, melainkan limpahan distraksi. Waktu terasa cepat habis tanpa sadar. Bukan karena sibuk berkarya, tetapi karena tenggelam dalam hal-hal yang sebenarnya tidak memberi banyak makna. Rasa lelah pun muncul, meski tubuh jarang benar-benar digunakan untuk sesuatu yang besar. Ini bukan kesalahan pribadi, melainkan fenomena zaman yang hampir semua orang rasakan.
Di sisi lain, tidak semua pemuda mendapat pendampingan yang cukup. Ada yang tumbuh tanpa arah yang jelas, tanpa teladan yang dekat, tanpa ruang aman untuk bertanya dan berkembang. Akibatnya, banyak yang berjalan sendiri, mencoba memahami hidup dengan caranya masing-masing. Wajar jika kemudian muncul kebingungan tentang tujuan, peran, dan masa depan.
Namun selalu ada kabar baik: kesadaran bisa datang kapan saja. Tidak perlu menunggu momen besar. Terkadang, perubahan berawal dari satu pertanyaan jujur dalam hati: “Aku ingin jadi apa, dan untuk apa aku hidup?” Dari sana, langkah kecil mulai menemukan jalannya. Tidak harus langsung sempurna, cukup konsisten dan jujur pada proses.
Pemuda tidak dituntut untuk hebat dalam sekejap. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk bertumbuh. Mulai dengan memperbaiki hal-hal dasar, mengatur ulang waktu, memberi ruang untuk belajar, dan mendekatkan diri pada nilai-nilai yang menenangkan jiwa. Ilmu dan iman bukan untuk membebani, tetapi untuk menuntun agar langkah terasa lebih ringan dan terarah.
Setiap pemuda punya peran, sekecil apa pun itu. Ada yang berkontribusi lewat ilmu, ada yang lewat akhlak, ada yang lewat ketekunan dalam peran sederhana. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Fokuslah pada apa yang bisa dilakukan hari ini, karena masa depan dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang diambil sekarang.
Santai tidak selalu berarti salah. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kenyamanan membuat kita lupa bergerak. Akhir zaman bukan alasan untuk putus asa, melainkan pengingat bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, memiliki nilai yang besar.
Dan barangkali, di tengah dunia yang bising dan serba cepat ini, pemuda yang paling dibutuhkan bukan yang paling lantang, tetapi yang pelan-pelan bangkit, menemukan arah, dan berjalan dengan kesadaran.[BA]
