PELITA MAJALENGKA - Ilmu adalah cahaya. Ia menerangi jalan, membuka mata, dan membedakan yang benar dari yang salah. Namun dalam perjalanan hidup, kita sering menyaksikan sesuatu yang menggelisahkan: ada orang yang ilmunya luas, dalilnya kuat, wawasannya tinggi, tetapi ucapannya melukai, sikapnya mengeraskan, dan kehadirannya justru menjauhkan orang dari kebaikan. Di titik inilah kita bertanya dengan jujur—mengapa orang berilmu bisa kehilangan hikmah?
Hikmah bukan sekadar tahu apa yang benar, tetapi tahu bagaimana, kapan, dan kepada siapa kebenaran itu disampaikan. Hikmah adalah perpaduan antara akal yang jernih dan hati yang hidup. Allah menyebut hikmah sebagai karunia besar, bukan karena sulit dipelajari, tetapi karena tidak semua orang yang berilmu sanggup menjaganya. Ilmu bisa dipelajari oleh siapa saja, tetapi hikmah lahir dari jiwa yang terus dibersihkan.
Salah satu sebab hilangnya hikmah adalah ketika ilmu tidak lagi disertai kerendahan hati. Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin sadar akan keterbatasannya, bukan semakin merasa tinggi. Ketika ilmu berubah menjadi alat pembenaran diri, ketika dalil digunakan untuk memenangkan ego, di situlah hikmah mulai menjauh. Orang yang merasa “paling tahu” sering kali lupa bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan nada menggurui.
Hikmah juga bisa hilang ketika ilmu tidak dibarengi keikhlasan. Ada saat di mana ilmu digunakan untuk mencari pengakuan, pujian, atau kemenangan dalam perdebatan. Hati yang sibuk ingin terlihat benar akan sulit mendengar, apalagi memahami perasaan orang lain. Padahal, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kelembutan sering kali lebih membuka pintu hidayah dibanding ketajaman argumen.
Sebab lain adalah terputusnya hubungan antara ilmu dan amal. Ilmu yang tidak diamalkan akan mengeras di kepala, tetapi tidak mengalir ke hati. Dari sinilah lahir ucapan-ucapan benar yang terasa dingin, bahkan menyakitkan. Hikmah tumbuh ketika seseorang lebih dahulu menasihati dirinya sebelum menasihati orang lain, lebih dahulu menangis dalam sujud sebelum berbicara di hadapan manusia.
Lingkungan juga berperan besar. Di zaman yang serba cepat dan bising, ilmu sering dipamerkan di ruang publik tanpa ruang jeda untuk merenung. Media sosial membuat banyak orang berlomba menjadi paling benar, paling lantang, paling tegas. Sayangnya, ketegasan yang kehilangan hikmah sering berbuah perpecahan. Kebenaran tetap benar, tetapi cara menyampaikannya menjauhkan hati.
Islam tidak pernah mengajarkan kebenaran yang kasar. Bahkan saat menghadapi kesalahan, Al-Qur’an mengajarkan seruan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun. Hikmah adalah kemampuan menimbang dampak, bukan hanya isi pesan. Kadang diam lebih bijak daripada bicara. Kadang menunda nasihat lebih menyelamatkan daripada menyampaikannya sekarang.
Hikmah juga menuntut empati. Setiap orang berada pada tahap perjalanan iman yang berbeda. Apa yang mudah bagi kita, bisa jadi berat bagi orang lain. Orang berilmu yang berhikmah tidak merendahkan yang tertinggal, tetapi menggandengnya perlahan. Ia tidak memaksa, tetapi mengajak. Tidak menghakimi, tetapi mendoakan.
Kabar baiknya, hikmah bukan sesuatu yang hilang selamanya. Ia bisa dirawat dan ditumbuhkan. Dengan memperbanyak muhasabah, meluruskan niat, memperdalam hubungan dengan Allah, dan belajar dari teladan Rasulullah ﷺ. Hikmah tumbuh ketika ilmu membuat kita semakin lembut, semakin sabar, dan semakin rendah hati.
Pada akhirnya, tujuan ilmu bukan untuk memenangkan perdebatan, tetapi menuntun manusia menuju kebaikan. Jika ilmu kita membuat orang merasa jauh dari Allah, mungkin yang perlu ditambah bukan dalil, tetapi hikmah. Semoga Allah menjadikan ilmu kita cahaya yang menenangkan, bukan api yang membakar; kebenaran yang menyembuhkan, bukan melukai.[]
.jpg)