PELITA MAJALENGKA - Di zaman ini, kita sering menyaksikan sebuah paradoks yang sunyi tapi nyata. Seseorang dikenal luas sebagai pengisi taklim. Jadwalnya padat. Undangan datang dari berbagai daerah. Suaranya didengar, nasihatnya dikutip, namanya disebut di banyak majelis. Namun anehnya, ketika tidak diminta mengisi, ia jarang—bahkan hampir tidak pernah—duduk sebagai jamaah di majelis ilmu. Ia rajin berbicara tentang ilmu, tapi malas menghadiri tempat ilmu itu ditumbuhkan.
Fenomena ini bukan cerita satu dua orang. Ia
menjadi gejala zaman. Orang merasa sudah cukup berilmu karena sering mengisi.
Merasa sudah “sampai” karena banyak yang mendengar. Padahal, ilmu dalam Islam
bukan hanya soal menyampaikan, tapi juga soal duduk rendah, mendengar, dan
terus belajar.
Majelis ilmu sejatinya adalah tempat
merendahkan diri. Di sana kita duduk sejajar dengan yang lain, bukan berdiri di
depan. Tidak dipanggil ustaz, tidak diberi mikrofon, tidak dipuji. Hanya duduk,
menyimak, dan menerima. Dan justru di situlah ujian dimulai. Banyak yang kuat
berdiri di mimbar, tapi lemah duduk di lantai majelis.
Ada penyakit halus yang sering menyusup tanpa
disadari: merasa sudah cukup. Merasa sudah tahu. Merasa “kalau saya datang,
siapa yang mengisi?” Perasaan inilah yang pelan-pelan mematikan keberkahan
ilmu. Ilmu bukan hilang karena lupa, tapi karena sombong yang tidak disadari.
Padahal para ulama besar dahulu, justru
semakin berilmu semakin rajin duduk sebagai murid. Imam Ahmad bin Hanbal tetap
membawa tinta dan kitab sampai usia tua. Ketika ditanya, “Sampai kapan engkau
belajar?” beliau menjawab, “Sampai ke liang lahat.” Itu bukan slogan, tapi
sikap hidup.
Orang yang jarang menghadiri majelis ilmu akan
kehilangan satu hal penting: adab. Ia mungkin pandai berbicara, tapi hatinya
tidak lagi lembut. Ia tahu banyak dalil, tapi sulit menerima nasihat. Ia mudah
menasihati orang lain, tapi berat dinasihati. Dan itu tanda ilmu tidak lagi
menghidupkan, tapi sekadar menghiasi.
Lebih berbahaya lagi, ketika mengisi taklim
berubah dari amanah menjadi identitas. Dari ibadah menjadi kebanggaan. Dari
ladang pahala menjadi ladang pujian. Di titik ini, seseorang bisa rajin
mengajak orang datang ke majelis, tapi dirinya sendiri enggan duduk sebagai
penuntut ilmu. Ia lupa bahwa dakwah yang paling jujur adalah dakwah yang
dimulai dari diri sendiri.
Inilah salah satu wajah akhir zaman: banyak
yang bicara, sedikit yang mendengar. Banyak yang merasa guru, sedikit yang mau
jadi murid. Padahal Rasulullah ﷺ datang ke dunia bukan
hanya sebagai pengajar, tapi juga pendengar wahyu yang paling taat. Setiap ayat
diterima dengan tunduk, bukan dengan merasa sudah tahu.
Majelis ilmu bukan sekadar tempat menambah
pengetahuan. Ia adalah tempat membersihkan hati. Duduk di majelis berarti
mengakui bahwa kita masih butuh petunjuk. Bahwa kita masih bisa salah. Bahwa
ilmu Allah jauh lebih luas dari apa yang pernah kita sampaikan.
Ketika seseorang berhenti menghadiri majelis
ilmu, biasanya bukan karena tidak sempat, tapi karena hatinya merasa berat.
Berat untuk duduk diam. Berat untuk tidak bicara. Berat untuk tidak dianggap.
Dan itu alarm berbahaya bagi jiwa seorang da’i atau pengisi taklim.
Ironisnya, masyarakat sering hanya melihat
siapa yang sering tampil, bukan siapa yang paling tawadhu. Padahal Allah tidak
menilai seberapa sering kita mengisi, tapi seberapa ikhlas dan rendah hati kita
dalam menuntut ilmu. Ilmu yang tidak diiringi tawadhu akan berubah menjadi
beban, bukan cahaya.
Artikel ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk
mengingatkan. Terutama bagi siapa pun yang Allah beri kesempatan berbagi ilmu.
Jangan sampai kita rajin mengajak, tapi malas datang. Rajin menasihati, tapi
jarang dinasihati. Rajin berbicara tentang akhirat, tapi lupa menyiapkan hati.
Sesekali, lepaskan mimbar. Duduklah di saf
paling belakang. Datang tanpa undangan, tanpa nama, tanpa peran. Dengarkan
dengan hati yang kosong. Rasakan nikmatnya menjadi murid lagi. Karena di
situlah ilmu kembali hidup, dan hati kembali jujur.
Sebab orang yang benar-benar berilmu bukan
yang paling sering bicara, tapi yang paling sadar bahwa dirinya masih perlu
belajar. Dan orang yang selamat di akhir zaman bukan yang paling dikenal, tapi
yang paling tulus menjaga adab di majelis ilmu.
Semoga
kita diselamatkan dari ilmu yang membuat sombong, dan diberi ilmu yang membuat
kita semakin rendah hati. Aamiin.[BA]
.jpg)