PELITA MAJALENGKA - Banyak manusia hidup dengan satu kalimat yang terdengar tenang namun sesungguhnya berbahaya: “Nanti saja bertobat kalau sudah tua.” Kalimat ini seperti bantal empuk yang membuat hati tertidur, padahal kematian tidak pernah mengirim undangan. Ia datang tiba-tiba, tanpa melihat usia, jabatan, atau rencana masa depan. Betapa banyak orang yang hari ini masih kuat berjalan, tertawa, dan merencanakan hari esok, namun esok justru namanya diumumkan sebagai jenazah.
Fakta hari ini berbicara jujur. Rumah sakit, kuburan, dan berita duka dipenuhi oleh mereka yang wafat di usia muda dan produktif. Kecelakaan, penyakit mendadak, serangan jantung, stroke, dan berbagai musibah tidak mengenal istilah “masa pensiun dosa”. Banyak orang yang berniat bertobat di usia senja, tetapi tidak pernah sampai ke senja itu. Niatnya baik, tapi waktunya keliru. Ia menunda di dunia yang tidak pernah menjamin esok masih ada.
Ironisnya, setan tidak pernah menyuruh manusia untuk tidak bertobat sama sekali. Ia hanya membisikkan satu kata: “Nanti.” Nanti setelah puas, nanti setelah sukses, nanti setelah tua. Padahal penundaan itulah yang menjadi jerat paling halus. Hati yang terbiasa menunda tobat akan mengeras perlahan. Dosa yang diulang tanpa penyesalan akan terasa biasa. Yang haram tak lagi terasa berat, yang maksiat tak lagi membuat gelisah.
Para ulama salaf sejak dahulu telah mengingatkan bahaya menunda tobat. Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berkuranglah sebagian dari dirimu.” Jika hari terus berkurang, lalu mengapa tobat justru ditunda? Jika usia terus menyusut, mengapa dosa terus ditambah?
Sebagian orang berkata, “Nanti kalau sudah tua, saya ingin fokus ibadah.” Namun mereka lupa, tidak semua orang diberi nikmat usia tua dalam keadaan kuat dan sadar. Betapa banyak orang yang di masa tuanya justru diuji dengan pikun, sakit menahun, atau terbaring tak berdaya. Lidahnya sulit berdzikir, tubuhnya sulit berdiri shalat, pikirannya tak lagi jernih untuk menangis menyesali dosa. Lalu, kapan ia akan bertobat?
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa hati yang terlalu lama bergelimang dosa akan kehilangan rasa takut dan malu kepada Allah. Tobat bukan hanya soal usia, tetapi soal kejernihan hati. Jika hati sudah keras, maka tobat terasa berat. Sebab itu, menunda tobat sama saja dengan mempertaruhkan kemampuan kita sendiri untuk kembali kepada Allah.
Muhasabahlah sejenak. Jika hari ini malaikat maut datang, dosa mana yang masih kita peluk? Maksiat mana yang belum kita lepaskan? Hutang taubat apa yang belum kita bayar? Jangan-jangan kita termasuk orang yang berharap ampunan Allah, tetapi enggan meninggalkan dosa. Padahal tobat sejati bukan sekadar ucapan istighfar, melainkan keberanian untuk berhenti dan berubah.
Ulama salaf dahulu sangat takut menunda tobat, meski mereka dikenal sebagai ahli ibadah. Umar bin Abdul Aziz رحمه الله menangis di malam hari bukan karena dosa besar, tetapi karena takut bertemu Allah dengan amal yang tidak cukup. Jika orang sebersih mereka saja takut, lalu apa alasan kita yang penuh noda ini untuk menunda?
Sesungguhnya pintu tobat masih terbuka lebar selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Allah Maha Pengampun, namun jangan jadikan sifat pengampunan-Nya sebagai alasan untuk bermaksiat. Tobat adalah bentuk cinta kepada Allah, dan cinta tidak suka menunda pertemuan. Semakin cepat kita kembali, semakin ringan langkah kita menuju-Nya.
Jangan tunggu tua untuk bertobat, karena tua pun belum tentu kita dapati. Bertobatlah hari ini, saat hati masih bisa tersentuh, air mata masih bisa jatuh, dan langkah masih bisa diarahkan. Jadikan hari ini sebagai awal hidup yang baru. Lebih baik bertobat terlalu cepat daripada terlambat selamanya. Karena kematian tidak menunggu kita siap, tetapi tobat menunggu kita berani.[BA]
