PELITA MAJALENGKA - Di tengah dunia yang semakin bising oleh gawai, hiburan tanpa batas, dan nilai yang kian kabur, ada satu tempat yang sering dipandang kecil, sederhana, bahkan dianggap “kelas dua” oleh sebagian orang: Madin—Madrasah Diniyah.
Bangunannya mungkin tak megah, fasilitasnya
sering seadanya, dan gurunya mengajar dengan keikhlasan yang tak selalu
dihargai. Namun justru di sanalah, di ruang-ruang sederhana itu, benteng
akhir zaman sedang ditegakkan.
Madin bukan sekadar tempat belajar
ngaji. Ia adalah benteng akidah, benteng akhlak, dan benteng peradaban di saat
zaman semakin rapuh. Berikut lima fakta mengapa Madin adalah benteng akhir
zaman.
1.
Madin Menjaga Tauhid di Tengah Krisis Keimanan
Akhir zaman ditandai dengan krisis
tauhid. Banyak manusia mengenal Islam hanya sebagai identitas, bukan keyakinan.
Di sekolah formal, anak-anak belajar banyak hal—tetapi sering kali tidak
diajarkan mengapa mereka harus menyembah Allah dengan benar.
Di Madin, tauhid ditanamkan sejak
dini: siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, apa tujuan hidupmu. Anak-anak diajarkan
bahwa hidup bukan sekadar sukses dunia, tapi selamat sampai akhirat.
Ketika dunia menawarkan banyak “tuhan” baru—uang, popularitas, dan nafsu—Madin
hadir sebagai pengingat: La ilaha illallah bukan slogan, tapi fondasi hidup.
2.
Madin Menjaga Akhlak Saat Moral Kian Runtuh
Kita hidup di zaman ketika sopan
santun dianggap kuno, adab dianggap remeh, dan akhlak kalah pamor dari
prestasi. Anak-anak pintar, tapi kasar. Cerdas, tapi berani melawan orang tua
dan guru.
Di Madin, sebelum anak pintar
bicara, mereka diajarkan adab berbicara. Sebelum menghafal kitab, mereka
diajarkan menghormati guru. Sebelum memahami ilmu, mereka ditanamkan rasa
takut kepada Allah.
Rasulullah ﷺ
bersabda,
“Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Madin adalah tempat di mana misi
kenabian itu masih hidup—meski sunyi, meski sederhana.
3.
Madin Menjadi Penyeimbang Dunia Digital yang Merusak
Akhir zaman adalah zaman layar.
Anak-anak lebih akrab dengan HP daripada mushaf. Jari mereka lincah menggulir
media sosial, tapi kaku saat membuka Al-Qur’an.
Madin hadir sebagai ruang detoks
ruhani. Di sana anak-anak duduk, mendengar, menghafal, dan merenung. Mereka
belajar sabar, disiplin, dan fokus—sesuatu yang hampir hilang di era serba
instan.
Madin mengajarkan bahwa ilmu
tidak bisa diunduh, tapi harus ditundukkan dengan adab dan kesungguhan.
4.
Madin Melahirkan Generasi yang Tahan Ujian Zaman
Ilmu Madin mungkin tak langsung
membuat seseorang kaya, tapi ia membuat hati kuat saat diuji. Anak Madin
diajarkan doa sebelum belajar, doa saat sedih, doa ketika takut, dan doa ketika
gagal.
Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa
hidup tidak selalu mudah, tapi Allah selalu dekat. Inilah generasi yang
tidak mudah putus asa, tidak gampang hanyut oleh arus, dan tidak mudah menjual
prinsip demi kenyamanan.
Di akhir zaman, yang dibutuhkan
bukan hanya orang pintar, tapi orang yang istiqamah.
5.
Madin Menjadi Benteng Terakhir Saat Keluarga Mulai Goyah
Banyak orang tua sibuk bekerja,
lelah secara mental, dan kehilangan waktu mendidik anak. Di situlah Madin
mengambil peran sebagai perpanjangan tangan orang tua dalam menjaga iman
anak-anak.
Guru Madin mungkin tidak bergaji
besar, tapi mereka menjaga warisan terbesar: iman generasi. Mereka
mengajar dengan sabar, menasihati dengan cinta, dan mendoakan murid-muridnya
dalam diam.
Saat banyak lembaga mengejar
akreditasi dan angka, Madin menjaga nilai dan keberkahan.
Jangan Remehkan Madin
Madin mungkin tidak viral. Tidak
masuk ranking nasional. Tidak ramai dipuji. Tapi di sanalah akhir zaman
ditahan agar tidak sepenuhnya runtuh.
Jika hari ini masih ada anak yang
bisa membaca Al-Qur’an, tahu adab kepada orang tua, dan mengenal Allah sejak
kecil—besar kemungkinan ia pernah duduk di bangku Madin.
Maka jangan tanyakan apa keuntungan
dunia dari Madin. Tanyakan:
“Siapa yang akan menjaga iman generasi jika Madin ditinggalkan?”
Karena di akhir zaman, benteng
terakhir sering kali bukan yang paling megah—
tetapi yang paling ikhlas menjaga cahaya iman.[BA]
