Muslimah Akhir Zaman: Banyak Alasan, Minim Keberanian


PELITA MAJALENGKA - 
Muslimah akhir zaman hidup di tengah gemerlap pilihan, namun sering tersesat di antara pembenaran. Hati sebenarnya tahu mana yang benar, mana yang diridhai Allah, tetapi langkah tertahan oleh seribu alasan. Bukan karena tak paham, melainkan karena keberanian untuk berubah terasa lebih berat daripada mempertahankan kebiasaan lama. Maka lahirlah generasi yang pandai berdalih, namun pelan-pelan kehilangan kekuatan jiwa.

Banyak yang berkata, “Nanti kalau sudah siap.” Padahal siap seringkali tak pernah datang jika tak dipaksa dengan tekad. Waktu terus berjalan, usia terus bertambah, sementara iman justru diam di tempat, bahkan menyusut. Setan tidak selalu datang dengan larangan kasar, ia hadir dengan kalimat lembut: tunda dulu, belum sekarang, masih panjang jalanmu. Dan muslimah pun tertidur dalam penundaan yang menipu.

Aurat diperdebatkan, bukan karena dalilnya kurang jelas, tetapi karena hati belum siap kehilangan validasi manusia. Syariat dianggap berat sebab cinta kepada dunia lebih kuat daripada rindu kepada akhirat. Banyak yang tahu menutup aurat adalah perintah, menjaga batas adalah kemuliaan, namun keberanian untuk berbeda terasa menakutkan. Takut dicap kolot, takut tak diterima, takut kehilangan panggung dunia.

Ironisnya, keberanian tampil di media sosial begitu besar, tetapi keberanian taat justru rapuh. Berani menunjukkan wajah, suara, dan cerita hidup, namun gentar menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Padahal Allah tidak meminta kesempurnaan, Dia hanya meminta kejujuran dalam berusaha. Satu langkah kecil menuju taat jauh lebih mulia daripada seribu alasan untuk tetap sama.

Muslimah akhir zaman sering terjebak pada standar manusia, lupa bahwa nilai dirinya diukur oleh Allah. Cantik di mata dunia belum tentu mulia di sisi langit. Popularitas tak pernah menjadi tiket keselamatan. Yang akan ditanya kelak bukan seberapa banyak yang menyukai kita, tetapi seberapa sungguh kita menaati-Nya saat tak ada yang melihat.

Berbenah memang tidak nyaman. Ia menuntut keberanian untuk meninggalkan, bukan sekadar menambah. Meninggalkan kebiasaan lama, lingkaran yang salah, bahkan mimpi yang bertentangan dengan syariat. Namun justru di sanalah kemerdekaan sejati lahir. Ketika seorang muslimah memilih Allah, ia tidak kehilangan apa pun—ia sedang diselamatkan.

Allah Maha Lembut, pintu taubat-Nya selalu terbuka, bahkan untuk mereka yang terlambat sadar. Tidak ada kata terlambat selama napas masih ada. Yang dibutuhkan bukan masa lalu yang bersih, tetapi hati yang jujur dan langkah yang berani. Allah tidak menunggu kita sempurna, Dia menunggu kita kembali.

Wahai muslimah, jangan tunggu hidayah terasa nyaman. Ia sering datang dalam bentuk kegelisahan, kegamangan, dan rasa tak tenang yang menusuk. Itu tanda cinta dari Allah, panggilan lembut agar kita pulang. Jangan bungkam suara hati yang rindu taat hanya demi tepuk tangan manusia.

Akhir zaman bukan alasan untuk menyerah, justru panggilan untuk bangkit. Di saat banyak yang memilih alasan, jadilah yang memilih keberanian. Di saat taat terasa asing, jadilah penenang bagi diri sendiri dan cahaya bagi sekitar. Karena satu muslimah yang berani berbenah bisa menjadi saksi cinta Allah di zaman yang nyaris kehilangan arah.[]