PELITA MAJALENGKA - Sekolah hari ini begitu sibuk. Dindingnya penuh poster prestasi, etalase pialanya berkilau, spanduk kelulusan dipasang megah. Kita bangga—dan wajar. Anak-anak kita menang lomba, ranking tinggi, diterima di sekolah favorit. Namun di balik tepuk tangan itu, ada pertanyaan sunyi yang jarang kita ucapkan: apakah kita sedang mencetak manusia, atau sekadar mengumpulkan juara?
Di ruang kelas, angka menjadi bahasa utama.
Nilai menentukan segalanya. Anak yang cepat menghitung dipuji, yang lambat
sering disisihkan. Anak yang berani bicara dianggap cerdas, yang pendiam sering
luput dari perhatian. Kita lupa bahwa manusia bukan hanya soal cepat atau
lambat, benar atau salah. Ada hati yang perlu dirawat, ada empati yang perlu
ditumbuhkan, ada adab yang tak pernah bisa diukur dengan angka.
Banyak anak tahu cara menjawab soal, tapi gagap
ketika diminta meminta maaf. Mereka lihai berargumentasi, tapi bingung saat
harus menghargai perbedaan. Mereka fasih bicara prestasi, namun kikuk ketika
diminta menolong tanpa pamrih. Di sinilah kegagapan itu terasa—bukan karena
kurang pintar, melainkan karena kurang dibimbing untuk menjadi manusia seutuhnya.
Sekolah sering berlari terlalu cepat. Target
kurikulum mengejar waktu, administrasi menuntut rapi, laporan harus selesai. Di
tengah laju itu, proses perlahan terpinggirkan. Padahal, manusia dibentuk bukan
dengan kecepatan, melainkan dengan kehadiran. Bukan dengan tekanan, melainkan
dengan teladan. Bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan sikap
sehari-hari yang konsisten.
Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang
diajarkan, tetapi dari siapa yang mengajarkan. Mereka merekam cara guru berbicara,
meniru cara guru marah, menghafal cara guru memperlakukan yang lemah. Ketika
keteladanan absen, pelajaran kehilangan ruhnya. Ilmu tetap masuk, tetapi hikmah
tak menemukan tempat tinggal.
Kita sering berharap anak-anak menjadi baik,
jujur, bertanggung jawab. Namun tanpa sadar, kita menunjukkan sebaliknya. Kita
menuntut disiplin, tapi mudah melanggar waktu. Kita mengajarkan sopan santun,
tapi menyepelekan kata-kata. Kita meminta anak menghormati, namun lupa
menghargai. Anak-anak melihat semuanya—dan belajar lebih cepat dari yang kita
kira.
Membentuk manusia tidak selalu butuh program
besar. Kadang ia hadir dalam hal sederhana: guru yang mendengar keluh murid
tanpa menghakimi, sekolah yang memberi ruang untuk gagal tanpa mempermalukan,
kelas yang mengajarkan kerja sama bukan hanya kompetisi. Manusia tumbuh ketika
ia merasa aman untuk menjadi dirinya, bukan terus-menerus dibandingkan dengan
yang lain.
Juara itu penting, tetapi manusia lebih
penting. Prestasi bisa membuka pintu, tetapi akhlak menentukan arah. Ilmu bisa
mengangkat derajat, tetapi adab menjaga martabat. Kita tidak sedang menolak
kemajuan, kita hanya mengingatkan agar kemajuan tidak meninggalkan kemanusiaan.
Bayangkan jika sekolah menjadi tempat anak
belajar jujur sebelum pintar, belajar peduli sebelum berani bersaing, belajar
rendah hati sebelum berdiri di podium. Bayangkan jika rapor tak hanya berisi
angka, tetapi juga cerita tentang kebaikan yang pernah dilakukan. Bayangkan
jika yang paling dibanggakan bukan hanya piala, tetapi karakter.
Sekolah sejatinya bukan pabrik juara,
melainkan taman manusia. Di sana anak-anak bertumbuh dengan waktunya
masing-masing, disiram dengan kasih, dirawat dengan kesabaran. Ada yang cepat
berbunga, ada yang baru menguatkan akar. Semuanya berharga.
Mungkin kita tak bisa mengubah semuanya
sekaligus. Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri—dari cara kita menyapa, cara
kita menegur, cara kita hadir. Karena pada akhirnya, manusia tidak dibentuk
oleh sistem yang sempurna, melainkan oleh hati-hati yang mau peduli.
Dan
jika suatu hari anak-anak itu melangkah ke dunia, semoga yang mereka bawa bukan
hanya gelar dan prestasi, tetapi juga nurani yang hidup. Sebab dunia hari ini
tidak kekurangan orang pintar. Ia hanya rindu pada manusia yang benar-benar
manusia.[]
