Muslimah dan Kualitas Diri: Cantik yang Bertumbuh dari Dalam


PELITA MAJALENGKA
- Muslimah bukan sekadar identitas yang melekat pada nama atau busana yang dikenakan. Ia adalah proses panjang tentang bagaimana seorang perempuan menata diri, menjaga hati, mengolah akal, dan menumbuhkan iman dalam setiap fase kehidupannya. Kualitas diri seorang muslimah tidak lahir dalam satu malam, tetapi dibangun perlahan melalui kesadaran, pilihan, dan kesungguhan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah dan manusia.

Di tengah dunia yang sering mengukur perempuan dari penampilan luar, Islam justru mengajak muslimah untuk memperhatikan kualitas batin. Bukan berarti Islam menafikan keindahan fisik—bahkan kebersihan dan kerapian adalah bagian dari iman—namun nilai seorang muslimah tidak berhenti pada itu. Akhlak yang lembut, tutur kata yang menjaga, dan sikap yang menenangkan adalah kecantikan yang tidak lekang oleh waktu. Inilah kualitas diri yang membuat kehadiran seorang muslimah dirindukan, bukan sekadar diperhatikan.

Kualitas diri muslimah sangat terkait dengan hubungannya dengan Allah. Iman yang hidup akan melahirkan ketenangan, dan ketenangan melahirkan kebijaksanaan. Seorang muslimah yang menjaga shalatnya, memperbaiki doanya, dan meluangkan waktu untuk Al-Qur’an sedang membangun fondasi batin yang kokoh. Dari fondasi inilah lahir sikap sabar ketika diuji, rendah hati ketika dipuji, dan kuat ketika harus berdiri sendiri. Iman yang terawat menjadikan muslimah tidak mudah goyah oleh standar dunia yang berubah-ubah.

Namun kualitas diri tidak berhenti pada spiritualitas personal. Islam mendorong muslimah untuk cerdas, berpikir jernih, dan berilmu. Sejarah Islam mencatat perempuan-perempuan berilmu yang menjadi rujukan umat. Ini menjadi pengingat bahwa belajar adalah bagian dari ibadah. Muslimah berkualitas tidak anti terhadap ilmu dan perkembangan zaman, tetapi menyaringnya dengan nilai. Ia tidak sekadar mengikuti arus, melainkan memahami arah. Ilmu menjadikan muslimah mampu mengambil keputusan dengan sadar, bukan reaktif; dengan hikmah, bukan emosi.

Kualitas diri juga tercermin dalam cara muslimah memandang dirinya sendiri. Banyak perempuan lelah karena membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Padahal setiap muslimah memiliki jalan, ujian, dan potensi yang berbeda. Ketika seorang muslimah berdamai dengan takdirnya, ia akan lebih fokus memperbaiki diri daripada mengeluhkan keadaan. Ia tidak sibuk membuktikan nilai dirinya kepada manusia, karena ia tahu bahwa yang paling penting adalah bagaimana Allah menilainya.

Dalam relasi sosial, kualitas diri muslimah tampak dari kepekaan dan empatinya. Ia menjaga lisan agar tidak melukai, menjaga sikap agar tidak merendahkan, dan menjaga hati agar tidak dipenuhi iri. Muslimah yang berkualitas bukan yang selalu benar, tetapi yang mau belajar dan memperbaiki diri ketika salah. Ia mampu meminta maaf tanpa kehilangan harga diri, dan mampu memaafkan tanpa merasa lebih tinggi. Inilah kedewasaan jiwa yang tidak banyak dimiliki, namun sangat dirindukan.

Menjadi muslimah berkualitas bukan berarti harus sempurna. Justru kesadaran akan ketidaksempurnaan itulah yang membuat seorang muslimah terus bertumbuh. Ia jatuh, lalu bangkit. Ia lelah, lalu bersandar pada Allah. Ia salah, lalu bertaubat. Proses inilah yang memurnikan niat dan menguatkan karakter. Muslimah sejati tidak berhenti pada citra, tetapi berjuang dalam senyap untuk memperbaiki diri dari hari ke hari.

Pada akhirnya, kualitas diri muslimah adalah tentang kebermanfaatan. Sejauh mana kehadirannya membawa kebaikan, menenangkan, dan menguatkan orang lain. Ia mungkin tidak selalu bersuara lantang, tetapi sikapnya berbicara. Ia mungkin tidak selalu tampil di depan, tetapi doanya bekerja dalam diam. Inilah muslimah yang tidak hanya cantik dipandang, tetapi juga menyejukkan untuk dikenang—muslimah yang hidupnya bernilai, karena ia terus belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik.[]