PELITA MAJALENGKA - Di bawah langit pagi yang masih berembun, puluhan orang berdiri di dermaga sambil menahan haru. Beberapa ibu merangkul erat anaknya, ada yang memeluk suami dengan mata berkaca, dan tidak sedikit pula yang hanya bisa menatap dari kejauhan sambil berdoa tanpa suara.
Hari itu, sebanyak 17 relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) resmi
diberangkatkan bersama TNI Angkatan Laut untuk misi kemanusiaan menuju tiga
wilayah terdampak bencana: Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Mereka bukan hanya relawan. Mereka adalah wajah nyata keberanian dan
ketulusan.
Keberangkatan ini bukan sekadar protokol penugasan.
Ia adalah perjalanan hati, pengorbanan, dan panggilan nurani. Para relawan
meninggalkan rumah dengan satu keyakinan: ada saudara-saudara di seberang sana
yang sedang kehilangan banyak hal—rumah, harta, bahkan mungkin orang-orang
terkasih. Dan ketika kepedihan itu melanda, kehadiran satu tangan yang terulur
bisa mengubah segalanya.
Di barisan para relawan, terlihat wajah-wajah
muda yang tegar. Ada yang baru saja menggendong anaknya sebelum naik ke kapal,
ada yang sebelumnya pamit kepada orang tua sakit, dan ada pula yang harus
meninggalkan pekerjaan yang sedang membutuhkan kehadirannya. Namun langkah
mereka tetap mantap. Tidak terdengar keluhan, hanya senyum tipis yang penuh
tekad.
“Kalau bukan kita, siapa lagi?” ucap salah satu relawan sebelum berangkat.
TNI Angkatan Laut menyambut para relawan ini
sebagai mitra setara dalam misi kemanusiaan. Kapal yang mereka tumpangi bukan
hanya membawa logistik, tenda darurat, obat-obatan, dan perlengkapan
evakuasi—tetapi juga membawa harapan baru bagi ribuan korban bencana. Dalam
situasi seperti ini, kehadiran relawan bukan hanya penting, tetapi sering kali
menjadi perbedaan antara putus asa dan bangkit kembali.
Aceh, Sumbar, dan Sumut menjadi tiga titik
dengan kondisi yang berbeda, namun memiliki satu benang merah: penderitaan
masyarakat akibat bencana alam. Ada desa-desa yang luluh lantak diterjang
banjir, rumah-rumah yang runtuh oleh longsor, serta jalanan yang terputus
sehingga bantuan sulit masuk. Di sana, warga menunggu. Mereka menunggu dengan
sabar, kadang dengan air mata, namun tetap menyimpan harapan bahwa bantuan
pasti datang.
Dan bantuan itu kini sedang bergerak ke arah
mereka.
Relawan UAR membawa kompetensi, tetapi lebih
dari itu, mereka membawa empati. Mereka sudah terbiasa tidur beralaskan tanah,
makan seadanya, bekerja hampir tanpa tidur, dan terjun ke tempat-tempat yang
kadang orang lain tak berani dekati. Namun setiap kali ditanya mengapa tetap
melakukannya, jawaban mereka hampir selalu sama:
“Karena ini ibadah. Karena ini cara kami membalas nikmat Allah.”
Di tengah derasnya arus informasi dan
hiruk-pikuk dunia digital, kisah para relawan sering kali tenggelam. Padahal,
merekalah orang-orang yang bergerak diam-diam, tanpa banyak bicara, tanpa sorot
kamera, namun sanggup menghapus duka banyak keluarga. Mereka tidak mencari popularitas;
mereka hanya ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun jiwa yang terabaikan.
Saat kapal perlahan menjauh dari dermaga,
lambaian tangan keluarga semakin cepat. Ada yang menyeka air mata, ada yang
merapatkan kedua tangan ke dada, seolah mengirim doa dari kejauhan. Pemandangan
itu memotret sisi paling manusiawi dari sebuah misi kemanusiaan: setiap
keberangkatan adalah perpisahan, dan setiap perpisahan mengandung kerinduan
yang dalam.
Namun para relawan tahu, di balik semua itu,
ada amanah besar yang harus mereka tunaikan. Ada tangis yang harus ditenangkan,
ada puing yang harus dibersihkan, ada kehidupan yang harus diselamatkan. Mereka
adalah barisan yang berdiri ketika yang lain tak lagi sanggup berdiri.
Indonesia bangga pada mereka. Umat bangga pada
mereka. Dan insyaAllah, Allah menuliskan setiap langkah mereka sebagai amal
yang terus mengalir.
Selamat
bertugas, pahlawan kemanusiaan.
Bawalah cahaya ke tempat-tempat yang kini sedang gelap.
Semoga setiap peluh yang menetes menjadi saksi iman dan pengabdian kalian.[BA]
