PELITA MAJALENGKA - DI TENGAH derasnya arus teknologi, perubahan budaya, dan pengaruh media sosial yang nyaris tak terbendung, orang tua semakin menyadari bahwa membesarkan anak di zaman sekarang bukan sekadar memberi makan, pakaian, dan sekolah umum terbaik. Ada satu kebutuhan yang jauh lebih besar—yakni kebutuhan hati dan iman.
Anak yang pintar tetapi tidak punya
iman akan mudah terseret arus dunia. Namun anak yang memiliki iman kuat akan
mampu menghadapi tantangan zaman dengan keteguhan. Di sinilah Madrasah
Diniyah (Madin) hadir sebagai solusi dan benteng spiritual bagi anak-anak
kita.
Madin bukan hanya tempat belajar
agama, tetapi ruang pembentukan karakter, tempat menumbuhkan kecintaan kepada
Allah dan Rasul-Nya, serta tempat menanamkan nilai hidup yang tidak akan
dipelajari dari pelajaran duniawi. Berikut lima alasan kuat mengapa
orang tua harus memasukkan anak ke Madin bila benar-benar ingin masa depan
mereka selamat, bahagia, dan diberkahi Allah.
1.
Madin Menanamkan Akidah Sejak Kecil, Sebelum Dunia Mengacak Hatinya
Akidah adalah pondasi hidup. Tanpa
akidah, anak akan kebingungan memahami siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, dan
ke mana ia akan kembali. Madin mengajarkan akidah dengan cara yang lembut,
mudah, dan menyentuh hati. Anak diperkenalkan kepada Allah sejak dini, diajari
mencintai Rasulullah SAW, dan memahami rukun iman yang menjadi dasar seluruh
amal.
Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa
hati anak seperti tanah kosong; apa pun yang ditanamkan orang tua, itulah yang
tumbuh. Jika yang ditanam adalah iman, maka anak akan tumbuh kokoh. Jika yang
ditanam adalah dunia, ia hanya akan mengejar dunia. Mengapa akidah harus
diajarkan sejak dini? Karena pada usia inilah hati paling mudah dibentuk. Jika
terlambat, dunia akan lebih dulu menguasai mereka.
2.
Madin Membentuk Akhlak di Era Krisis Moral
Kita hidup di zaman di mana akhlak
lebih mahal daripada teknologi. Banyak anak cerdas, tetapi kurang sopan. Banyak
yang berprestasi, tetapi tidak menghormati orang tua. Banyak yang pintar
bicara, tetapi kasar dan mudah marah. Penyebabnya sederhana: mereka kurang
mendapatkan pendidikan akhlak yang sistematis dan teladan langsung dari guru
yang mengajarkannya dengan hati.
Di Madin, akhlak diajarkan bukan
hanya melalui teori, tetapi melalui contoh nyata. Anak dididik untuk memberi
salam, menghormati guru, sopan dalam berbicara, dan berakhlak seperti akhlak
Nabi. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Jika misi utama Nabi saja adalah akhlak, bagaimana mungkin orang tua
mengabaikannya?
3.
Madin Menjadi Benteng Anak dari Penyimpangan dan Pergaulan Buruk
Di luar rumah, anak menghadapi
berbagai risiko: pergaulan bebas, pengaruh buruk teman, konten tidak mendidik,
hingga ideologi menyimpang. Tanpa benteng ilmu agama, hati mereka mudah
terseret. Madin membekali anak pemahaman jelas tentang halal-haram, batasan
pergaulan, kewajiban sebagai muslim, dan cara menjaga diri dari dosa.
Ilmu yang mereka pelajari akan
menjadi “kompas” yang mengarahkan langkah mereka, meski berada jauh dari orang
tua. Anak yang paham agama akan lebih mudah berkata “tidak” pada godaan,
lebih kuat menolak perilaku buruk, dan lebih cepat kembali ketika salah. Inilah
kekuatan besar dari pendidikan diniyah yang sering tidak disadari orang tua.
4.
Madin Menumbuhkan Kecintaan Anak kepada Al-Qur’an dan Ibadah
Banyak orang tua mengeluh karena
anaknya malas mengaji, sulit shalat, atau kurang tertarik pada ibadah. Padahal
akar masalahnya bukan kemalasan, tetapi ketidakterbiasaan. Anak hanya
mencintai apa yang ia lihat setiap hari. Madin memberikan lingkungan itu.
Di Madin, anak belajar membaca
Al-Qur’an, memahami dasar-dasar agama, mempraktikkan doa-doa harian, dan
mengenal indahnya ibadah. Mereka terbiasa dengan suasana masjid, suara azan,
dan kegiatan mengaji yang menenangkan. Perlahan, ibadah bukan lagi paksaan,
melainkan kebutuhan.
Orang tua akan merasakan kebahagiaan
yang tak ternilai ketika melihat anak bangun untuk shalat tanpa disuruh,
mengaji dengan semangat, atau menasihati adik-adiknya untuk berbuat baik. Semua
itu tumbuh dari kebiasaan baik yang ditanamkan di Madin.
5.
Madin Membentuk Karakter Tangguh dan Kepribadian Islami
Di balik suasana sederhana Madin,
terdapat proses panjang pembentukan karakter. Anak belajar disiplin, tanggung
jawab, kesabaran, kebersamaan, dan manajemen waktu. Mereka terbiasa membagi
waktu antara sekolah umum, Madin, bermain, dan membantu orang tua. Karakter
semacam ini tidak terbentuk secara instan dan tidak selalu diajarkan di sekolah
umum.
Anak yang belajar agama sejak kecil
biasanya memiliki pribadi yang lebih lembut, lebih mudah diarahkan, dan lebih
stabil emosinya. Mereka tumbuh menjadi anak yang tawadhu, santun, cinta
kebaikan, dan tidak gengsi melakukan hal benar meski ditertawakan teman. Inilah
karakter dasar seorang muslim sejati.
Setiap orang tua pasti ingin
memberikan yang terbaik bagi anak. Namun tidak ada hadiah yang lebih indah
daripada iman yang kuat, akhlak yang mulia, dan kedekatan kepada Allah. Madin
bukan beban waktu, bukan tambahan aktivitas, bukan sekadar rutinitas sore hari—Madin
adalah investasi iman yang hasilnya kembali pada anak dan orang tua
sampai hari kiamat.
Jika dunia berubah, iman akan
menjaga anak. Jika zaman semakin keras, akhlak akan melembutkan hati mereka.
Dan jika kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, doa dan amal anak saleh yang
kita didik melalui Madin akan terus mengalir sebagai pahala jariyah.
Semoga Allah memudahkan setiap orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Aamiin.[BA]
