Keadilan yang Hilang: Rakyat Kelaparan, DPR Berlimpah Harta

Anggota DPR tidur sejenak
PELITA MAJALENGKA - Di negeri yang katanya subur, kaya sumber daya, dan berlimpah hasil bumi, masih ada jutaan rakyat yang tidur dalam keadaan lapar. Ironisnya, di gedung megah dengan kursi empuk ber-AC, para wakil rakyat duduk nyaman dengan gaji, tunjangan, dan fasilitas yang nilainya tidak terbayangkan oleh para petani dan buruh miskin. Ketidakadilan ini bukan sekadar angka statistik, tapi jeritan nyata yang mengoyak nurani.

Rakyat kecil harus menimbang antara membeli beras atau membayar sekolah anak, sementara anggota DPR dengan mudahnya mendapatkan miliaran rupiah per tahun hanya dari gaji pokok dan tunjangan. Apakah ini keadilan? Bagaimana mungkin rakyat yang diwakili hidup penuh penderitaan, sedangkan wakilnya hidup bergelimang harta? Ketimpangan ini bagaikan luka yang terus disiram garam setiap hari.

Ketika rakyat antri beras murah, para pejabat sibuk membahas fasilitas mewah. Ketika petani mengeluh harga panen yang anjlok, wakil rakyat malah sibuk memperdebatkan proyek-proyek yang sarat kepentingan pribadi. Inilah wajah nyata sebuah bangsa yang kehilangan arah: yang kaya makin kaya, yang miskin makin terhimpit, dan yang berkuasa kehilangan empati.

Apakah mereka lupa bahwa jabatan adalah amanah, bukan lahan untuk memperkaya diri? Apakah mereka lupa bahwa sumpah jabatan disaksikan oleh Allah, rakyat, dan sejarah? Kekuasaan yang digunakan untuk menindas rakyat hanya akan meninggalkan catatan hitam, sementara air mata rakyat yang tertindas akan menjadi saksi di hadapan Tuhan.

Keadilan yang hilang ini telah melahirkan generasi yang kehilangan harapan. Anak-anak bangsa tumbuh dengan rasa tidak percaya pada pemimpin. Mereka melihat langsung ketidakadilan: pejabat berfoya-foya, sementara orang tua mereka bekerja keras tanpa hasil yang sepadan. Bukankah ini bibit kehancuran sebuah bangsa?

Betapa ironis, ketika slogan-slogan keadilan dan kesejahteraan selalu didengungkan di setiap kampanye, namun yang dirasakan rakyat hanyalah janji kosong. Apakah kursi empuk parlemen telah membutakan mata dan menulikan telinga mereka dari suara rakyat yang merintih? Jika ya, maka mereka bukan lagi wakil rakyat, melainkan pengkhianat amanah.

Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya alam, tetapi kekurangan hati yang jujur. Tidak kekurangan sumber daya manusia, tetapi kekurangan pemimpin yang adil. Semua ini bukan soal angka di APBN semata, tetapi soal moral dan nurani. Selama pemimpin hanya sibuk menumpuk harta, maka jurang antara rakyat dan pejabat akan semakin lebar.

Sudah saatnya setiap pejabat bercermin: untuk siapa mereka bekerja, untuk siapa mereka menerima gaji dan fasilitas? Apakah untuk kesejahteraan rakyat, atau hanya untuk diri sendiri dan keluarga mereka? Jika hati mereka masih hidup, maka seharusnya mereka merasa malu melihat rakyat kelaparan sementara mereka berpesta pora.

Keadilan sejati adalah ketika pemimpin merasakan penderitaan rakyat dan ikut mencari solusinya, bukan malah menambah luka. Seorang pejabat yang adil adalah ia yang hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dan mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Sejarah akan mencatat, bukan seberapa banyak harta yang mereka kumpulkan, tetapi seberapa besar pengorbanan mereka untuk rakyat.

Wahai para pemimpin, sadarilah sebelum terlambat. Rakyat bisa diam, tetapi doa mereka yang terzalimi akan menembus langit. Jangan biarkan bangsa ini hancur karena keserakahan dan ketidakadilan. Kembalikan keadilan, hidupkan kembali empati, dan buktikan bahwa amanah rakyat bukan untuk diperdagangkan, melainkan untuk diperjuangkan dengan segenap jiwa.[BA]