PELITA MAJALENGKA - RUMAH tangga bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ladang ibadah, tempat tumbuhnya iman, dan madrasah pertama bagi generasi masa depan. Namun apa jadinya jika seorang suami, sebagai pemimpin rumah tangga, berjalan tanpa ilmu? Ibarat kapal tanpa kompas, arah hidup menjadi kabur, dan keluarga terombang-ambing tanpa tujuan yang jelas. Cahaya yang seharusnya menerangi rumah itu pun perlahan redup.
Islam menempatkan lelaki sebagai qawwam—pemimpin, pelindung, sekaligus
pembimbing bagi keluarganya. Tapi kepemimpinan ini bukan hanya soal memberi
nafkah materi. Ia adalah amanah besar yang menuntut ilmu, pemahaman, dan
kebijaksanaan. Bagaimana mungkin seseorang memimpin jika ia sendiri tidak tahu
jalan yang benar? Bagaimana ia membimbing, jika dirinya belum terbimbing?
Ilmu syar’i bukan sekadar pelengkap, melainkan
kebutuhan pokok bagi seorang lelaki. Dengan ilmu, ia tahu hak dan kewajiban. Ia
memahami bagaimana memperlakukan istri dengan baik, mendidik anak dengan benar,
serta mengambil keputusan yang adil. Tanpa ilmu, semua itu hanya akan
didasarkan pada perasaan, kebiasaan, atau bahkan hawa nafsu—yang seringkali
menyesatkan.
Banyak rumah tangga retak bukan karena kurang
cinta, tetapi karena kurang ilmu. Suami tidak paham bagaimana bersikap lembut,
tidak mengerti batasan dalam mendidik, bahkan tidak tahu mana yang halal dan
haram dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, yang seharusnya menjadi sumber
ketenangan justru berubah menjadi ladang konflik dan luka.
Seorang ulama kontemporer pernah mengingatkan
bahwa kebodohan dalam agama adalah akar dari banyak kerusakan. Lelaki tanpa
ilmu akan mudah meremehkan dosa, mengabaikan kewajiban, dan salah dalam
mengambil sikap. Ia bisa jadi merasa benar, padahal sedang menjerumuskan
dirinya dan keluarganya ke dalam kesalahan yang berulang. Lebih menyedihkan
lagi, ia tidak menyadari kerugian itu sampai semuanya terlambat.
Ilmu juga membentuk cara berpikir. Lelaki yang
berilmu tidak mudah emosi, tidak gegabah dalam bertindak, dan tidak sempit
dalam melihat persoalan. Ia memahami bahwa rumah tangga butuh kesabaran,
komunikasi, dan hikmah. Ia tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut. Ia tidak
hanya memerintah, tetapi juga memberi teladan.
Sebaliknya, lelaki tanpa ilmu sering kali
keras tanpa alasan, atau lemah tanpa prinsip. Ia bisa menjadi otoriter atau
justru tidak bertanggung jawab. Keputusan-keputusannya tidak berpijak pada
kebenaran, melainkan pada ego. Dan ketika masalah datang, ia tidak punya bekal
untuk menyelesaikannya dengan cara yang diridhai Allah.
Para ulama juga menegaskan bahwa menuntut ilmu
adalah kewajiban bagi setiap muslim, terlebih bagi mereka yang memikul tanggung
jawab besar. Seorang suami akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.
Setiap kelalaian, setiap kesalahan yang ia biarkan terjadi karena
ketidaktahuannya, akan menjadi beban di hadapan Allah kelak.
Bayangkan seorang anak tumbuh tanpa arahan
yang benar, hanya karena ayahnya tidak mau belajar. Bayangkan seorang istri
yang terluka karena suaminya tidak memahami adab dan akhlak dalam berumah
tangga. Semua itu adalah kerugian besar yang sering kali dianggap sepele,
padahal dampaknya bisa menjalar hingga generasi berikutnya.
Ilmu adalah cahaya. Ia menerangi hati,
menuntun langkah, dan menjaga dari kegelapan. Ketika seorang lelaki memiliki
ilmu dan mengamalkannya, rumah tangganya akan dipenuhi ketenangan. Keputusan
diambil dengan pertimbangan yang matang, masalah diselesaikan dengan hikmah,
dan hubungan dibangun atas dasar iman.
Karena itu, sudah saatnya setiap lelaki
menyadari bahwa menjadi suami bukan hanya soal status, tetapi tanggung jawab
yang besar. Jangan merasa cukup dengan pengalaman atau usia. Ilmu harus terus
dicari, dipahami, dan diamalkan. Hadiri majelis ilmu, baca, belajar, dan
bertanya kepada yang lebih tahu.
Rumah tangga yang bercahaya tidak lahir dari
kemewahan, tetapi dari ilmu yang diamalkan. Dan lelaki yang berilmu adalah
sumber cahaya itu. Jika ia terang, maka keluarganya akan ikut terang. Tapi jika
ia gelap, maka seluruh rumah akan tenggelam dalam kegelapan.
Maka
jangan biarkan diri menjadi suami tanpa ilmu. Karena di balik kebodohan, ada
kerugian yang tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga di akhirat.[BA]
