PELITA MAJALENGKA - Dulu ia bukan siapa-siapa. Namanya tidak dikenal, suaranya tidak dicari, pendapatnya tidak ditunggu. Tapi justru di masa itulah hatinya terasa lebih hidup. Ia berjuang diam-diam, membantu tanpa kamera, bergerak tanpa pujian. Saat hidup masih sulit, ia rajin mengetuk pintu tetangga, menyapa kerabat, duduk sederhana bersama sahabat sambil menyeruput kopi dan bertukar cerita tentang hidup, iman, dan harapan. Tidak ada pencitraan. Tidak ada panggung. Yang ada hanya keikhlasan yang tumbuh perlahan di dalam dada.
Namun waktu mengubah banyak hal. Allah
mulai membukakan jalan untuknya. Namanya dikenal, ilmunya dicari, nasehatnya
dinanti banyak orang. Rezeki datang lebih mudah, penghormatan mengalir dari
berbagai arah. Ia mulai sibuk di luar sana. Jadwalnya padat. Undangan datang
silih berganti. Orang-orang memujinya sebagai sosok inspiratif. Tapi di saat
yang sama, ada sesuatu yang perlahan hilang dari dirinya: kehangatan hati yang
dulu begitu sederhana.
Kini ia lebih sering hadir di
hadapan orang jauh, tapi jarang hadir untuk orang dekat. Ia pandai menyemangati
banyak manusia, namun lupa menguatkan keluarganya sendiri. Ia cepat datang
memenuhi panggilan acara besar, tapi lambat menjenguk tetangga yang sedang
sakit. Ia sempat berbicara berjam-jam di depan banyak orang, namun tak punya
waktu duduk sebentar bersama sahabat lamanya. Kesibukan dijadikan alasan.
Dakwah dijadikan pembenar. Aktivitas dijadikan tameng untuk menutupi hati yang
mulai lelah menjaga keikhlasan.
Padahal penyakit hati tidak selalu
datang melalui maksiat. Kadang ia datang lewat pujian. Lewat penghormatan.
Lewat rasa dibutuhkan. Hati manusia itu lemah. Ketika terlalu lama dipuji, ia
bisa lupa bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan Allah. Ia mulai merasa
penting. Merasa kehadirannya sangat menentukan. Tanpa sadar, ia lebih menikmati
tepuk tangan manusia dibanding munajat panjang di sepertiga malam.
Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Tidak
ada sesuatu yang lebih sulit aku obati selain niatku, karena ia selalu
berubah-ubah.” Betapa dalam kalimat ini. Orang shalih saja takut kehilangan
keikhlasan, sementara hari ini banyak orang merasa aman ketika manusia mulai
mengaguminya. Padahal popularitas itu ujian, bukan tanda keselamatan. Semakin
tinggi nama seseorang di mata manusia, seharusnya semakin rendah hatinya di
hadapan Allah.
Yang lebih menyedihkan, banyak orang
mulai merasa rumahnya sendiri tidak lagi menarik.
Ia nyaman di luar, tapi gelisah di dalam rumah sendiri. Ia bersemangat
membangun hubungan dengan dunia luar, namun dingin terhadap lingkungan
jamaahnya sendiri. Ia merasa berkembang ketika dipuji orang luar, namun merasa
biasa saja ketika berada di tengah saudara-saudaranya sendiri. Padahal rumah
yang paling tulus menerima kita adalah rumah yang mengenal kekurangan kita
sejak awal.
Rumah itu adalah Al Jama’ah
Tempat kita belajar sabar, belajar
taat, belajar menerima kekurangan saudara sendiri, belajar dipimpin dan
memimpin dengan hati. Di sanalah seharusnya seorang muslim kembali ketika lelah
oleh hiruk-pikuk dunia luar. Tapi hari ini banyak orang justru merasa lebih bangga
ketika diakui orang luar daripada diterima saudara sendiri. Mereka mencari
privilage di luar, padahal keberkahan terbesar sering tersembunyi di dalam
rumahnya sendiri.
Dunia luar memang mempesona. Panggungnya
gemerlap. Pengakuannya membuat candu. Pujian manusia terdengar indah di
telinga. Tapi semua itu fana. Hari ini orang memuji, besok mereka lupa. Hari
ini seseorang dielu-elukan, beberapa tahun lagi namanya mungkin tenggelam
bersama datangnya generasi baru. Dunia tidak pernah benar-benar setia kepada siapapun.
Ketika usia mulai melemah, tenaga
mulai berkurang, dan pengaruh mulai memudar, barulah sebagian orang tersadar. Orang-orang
yang dulu mengerumuninya perlahan pergi. Undangan mulai berkurang. Telepon tak
lagi seramai dulu. Saat itulah ia merindukan rumah yang dulu sering ia abaikan.
Ia mulai rindu duduk sederhana bersama saudara-saudaranya. Rindu suasana hangat
yang tidak dibangun oleh popularitas, tapi oleh ketulusan dan ukhuwah.
Abdullah bin Mubarak pernah berkata,
“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal
besar menjadi kecil karena niat.” Bisa jadi duduk sederhana bersama
keluarga dan jamaah dengan hati yang tulus lebih besar nilainya di sisi Allah
dibanding seribu tepuk tangan manusia yang membuat hati lalai. Karena Allah
tidak melihat seberapa terkenal seseorang, tetapi seberapa ikhlas hatinya.
Maka berhati-hatilah ketika Allah
mulai mengangkat nama kita. Jangan sampai popularitas mencuri keikhlasan yang
dulu susah payah kita bangun. Jangan sampai kesibukan dakwah membuat kita
kehilangan sentuhan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Jangan sampai
kita sibuk menerangi luar rumah, sementara rumah sendiri gelap dan dingin.
Sebab orang yang paling rugi adalah orang yang berhasil di mata manusia, namun
gagal menjaga hatinya di hadapan Allah.
Jika hari ini Allah masih memberi
kita rumah bernama Al Jama’ah, maka syukurilah.
Jangan hanya datang ketika butuh. Jangan hanya merasa memiliki ketika sedang
nyaman. Karena sejatinya rumah bukan tempat yang paling megah, tapi tempat yang
paling tulus menerima kita apa adanya. Dan sering kali, tempat kembali paling
indah bukanlah panggung dunia luar yang ramai, melainkan rumah sederhana yang
di dalamnya masih ada saudara yang mendoakan kita dengan ikhlas karena Allah. Wallahua'lam.[BA]

Posting Komentar untuk "Ketika Popularitas Mengalahkan Keikhlasan"