PELITA MAJALENGKA - Hari ini kita hidup di zaman yang aneh. Banyak anak sangat pintar berbicara, cepat memahami teknologi, hebat memainkan gawai, bahkan sejak kecil sudah mengenal kecerdasan buatan dan dunia digital. Nilai sekolah tinggi, prestasi akademik dipuji, tetapi sayangnya tidak sedikit yang kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: adab. Mereka cerdas otaknya, tetapi kasar lisannya. Pintar berhitung, tetapi sulit menghormati orang tua. Cepat menjawab soal, tetapi lambat mengucapkan salam dan terima kasih. Inilah krisis besar generasi hari ini.
Padahal dalam Islam, ilmu tanpa adab
adalah bahaya. Para ulama salaf sejak dahulu lebih dahulu mengajarkan akhlak
sebelum ilmu. Imam Malik rh. pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy,
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Sebab ilmu yang tidak dibimbing
adab dapat melahirkan kesombongan, keras hati, bahkan kerusakan. Orang pintar
tanpa akhlak bisa lebih berbahaya daripada orang bodoh yang rendah hati.
Rasulullah ﷺ
sendiri diutus bukan sekadar mengajarkan ilmu, tetapi menyempurnakan akhlak.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan
akhlak.”
Betapa indahnya Islam memandang
manusia. Ukuran kemuliaan bukan hanya kecerdasan otak, tetapi kebersihan hati
dan kemuliaan perilaku. Anak yang sopan, hormat kepada orang tua, lembut kepada
sesama, jujur, dan tahu malu, jauh lebih berharga daripada anak yang dipuji
pintar tetapi suka membentak, meremehkan, dan tidak tahu adab.
Realitas hari ini sungguh
memprihatinkan. Banyak guru mengeluhkan murid yang sulit dinasihati. Banyak
orang tua sedih karena anak lebih patuh kepada influencer dibanding ibunya
sendiri. Tidak sedikit anak yang berani meninggikan suara kepada ayahnya, sibuk
bermain ponsel saat diajak bicara, bahkan merasa orang tua adalah pengganggu
kebebasannya. Fenomena ini bukan sekadar cerita emosional, tetapi juga
dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah.
Sebuah penelitian tentang dekadensi
akhlak anak di era digital menjelaskan bahwa lemahnya pendidikan moral dan
pengawasan orang tua membuat sikap hormat anak semakin menurun. Teknologi yang
tidak diarahkan menjadikan bahasa kasar, pembangkangan, dan sikap individualis
semakin dianggap biasa. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan media
sosial yang tidak terkontrol memengaruhi moralitas anak, termasuk menurunnya
sopan santun dan meningkatnya kebiasaan berkata kasar.
Lebih menyedihkan lagi, hari ini
banyak orang tua lebih bangga ketika anaknya juara kelas daripada ketika
anaknya menghormati orang tua. Nilai matematika dirayakan, tetapi adab makan,
adab berbicara, dan adab kepada guru mulai diabaikan. Kita sibuk mencetak anak
berprestasi, tetapi lupa mencetak manusia yang berakhlak. Akibatnya lahirlah
generasi yang cerdas tetapi mudah marah, pintar tetapi egois, hebat secara akademik
tetapi rapuh jiwanya.
Allah telah mengingatkan dalam
Al-Qur’an, “Rendahkanlah dirimu terhadap kedua orang tuamu dengan penuh
kasih sayang.”(QS. Al-Isra’: 24)
Ayat ini tidak berbicara tentang
nilai ujian. Tidak membahas ranking sekolah. Tetapi Allah menekankan adab
kepada orang tua. Karena sebesar apa pun ilmu seseorang, jika lisannya kasar
kepada ayah dan ibunya, maka ada yang rusak dalam pendidikannya.
Kita juga sedang menghadapi generasi
yang tumbuh lebih dekat dengan layar daripada keluarga. Banyak anak makan
sambil menonton, tidur dengan gawai, bangun langsung membuka media sosial.
Interaksi hati dengan orang tua semakin sedikit. Penelitian tentang digital
parenting menunjukkan bahwa keteladanan orang tua dan pendidikan moral di rumah
sangat memengaruhi karakter anak. Ketika rumah kehilangan keteladanan, maka
internet mengambil alih pendidikan anak.
Ironisnya, sebagian orang tua juga
tanpa sadar ikut menyumbang kerusakan itu. Anak diberi fasilitas, tetapi tidak
diajarkan rasa hormat. Semua keinginan dipenuhi, tetapi tidak dibiasakan
disiplin. Anak dipuji karena “pintar”, tetapi jarang dipuji karena “jujur”,
“sopan”, atau “baik hati”. Padahal karakter tidak tumbuh secara otomatis. Ia dibangun
dengan teladan, perhatian, doa, dan pembiasaan sejak kecil.
Islam mengajarkan keseimbangan. Anak
harus cerdas, tetapi juga tawadhu’. Harus berani, tetapi tetap santun. Harus
kritis, tetapi tidak kurang ajar. Sebab adab adalah mahkota ilmu. Semakin tinggi
ilmu seseorang, semakin rendah hatinya. Semakin luas pengetahuannya, semakin
lembut lisannya.
Hari ini dunia tidak kekurangan
orang pintar. Dunia kekurangan manusia beradab. Banyak yang mampu membuat
teknologi canggih, tetapi gagal menghormati orang tua. Banyak yang mahir
berbicara di depan kamera, tetapi kasar kepada saudara sendiri. Banyak yang
terlihat sukses, tetapi kehilangan rasa malu dan rasa hormat.
Karena itu, mari kita mulai kembali
menanamkan adab kepada anak-anak kita. Ajarkan mereka meminta izin, menghormati
guru, memuliakan orang tua, menjaga lisan, dan takut kepada Allah. Sebab anak
yang beradab akan membawa keberkahan dunia dan akhirat. Sedangkan kepintaran
tanpa adab hanya akan melahirkan generasi yang hebat di kepala, tetapi kosong di
hati.
Dan sesungguhnya, umat ini tidak
akan hancur karena kurangnya orang pintar. Umat ini hancur ketika ilmu
dipisahkan dari akhlak.[BA]
.jpg)
Posting Komentar untuk "Anak Pintar Tapi Kosong Adab"