PELITA MAJALENGKA - YOGYAKARTA — Siang itu, suasana di SMA Muhammadiyah 1 Kota Yogyakarta tampak berbeda dari biasanya. Bukan hanya deretan kursi dan layar presentasi yang menarik perhatian, tetapi juga semangat para peserta yang datang dengan satu tujuan: menyongsong masa depan digital Muhammadiyah.
Di tengah arus perubahan global yang bergerak cepat, Muhammadiyah tak ingin sekadar menjadi penonton. Organisasi Islam modern ini terus berbenah, menguatkan langkah menuju transformasi digital sebagai bagian dari amanat besar hasil Muktamar. Dari sistem manual yang selama ini menjadi tulang punggung administrasi, kini perlahan digeser menuju ekosistem digital yang lebih terintegrasi, rapi, dan efisien.
Transformasi ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi tentang cara berpikir baru. Data keanggotaan, arsip organisasi, hingga sistem layanan kini diarahkan untuk berada dalam satu platform terpadu. Harapannya, setiap lini organisasi dapat bergerak lebih cepat, akurat, dan responsif terhadap kebutuhan zaman.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, semangat itu terasa begitu hidup. Para peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) SATUMU datang bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk mengambil peran sebagai penggerak perubahan di daerah masing-masing.
Cahyono, Wakil Ketua I PWM DIY, menyebut digitalisasi sebagai sesuatu yang tak bisa ditawar. Baginya, ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus segera diwujudkan. Para agen dan verifikator yang mengikuti pelatihan diharapkan mampu menjadi ujung tombak transformasi di tingkat akar rumput.
Nada optimisme juga datang dari Farid Setiawan, Wakil Sekretaris PWM DIY. Ia melihat antusiasme warga sebagai modal sosial yang sangat berharga. Menurutnya, Muhammadiyah di Yogyakarta memiliki peluang besar untuk tampil bukan hanya sebagai organisasi dengan sejarah panjang, tetapi juga sebagai pelopor inovasi dalam tata kelola modern.
Di balik layar presentasi dan sesi pelatihan, ada satu benang merah yang menyatukan semuanya: kolaborasi. Transformasi digital ini tidak akan berhasil tanpa keterlibatan aktif seluruh elemen persyarikatan. Dari pusat hingga daerah, dari pengurus hingga anggota, semua diharapkan bergerak dalam satu irama.
Langkah ini sekaligus menjadi penanda bahwa Muhammadiyah terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Di era ketika teknologi menjadi penentu arah peradaban, organisasi ini memilih untuk maju dengan percaya diri—menggabungkan nilai-nilai keislaman dengan inovasi digital.
Kini, perjalanan menuju digitalisasi itu sedang berlangsung. Mungkin belum sempurna, mungkin masih penuh tantangan. Namun satu hal yang pasti: semangat warga Muhammadiyah di Yogyakarta menunjukkan bahwa perubahan bukan sesuatu yang ditakuti, melainkan disambut dengan penuh kesiapan.
Dari ruang-ruang pelatihan sederhana, masa depan organisasi sedang dirancang—lebih modern, lebih inklusif, dan tetap berkemajuan.[BA]

Posting Komentar untuk "Dari Arsip ke Aplikasi: Semangat Warga Muhammadiyah DIY Menyambut Era Digital"