Antara Ummat Istijâbah & Ummat Da‘wah


PELITA MAJALENGKA - 
Pertama-tama, kita perlu memahami satu hal mendasar: ketika Allah mengutus Muhammad , beliau diutus untuk seluruh manusia tanpa batas ras, bangsa, warna kulit, atau zaman. Semua yang hidup setelah diutusnya beliau termasuk dalam satu lingkup besar yang disebut Ummat Da‘wah—yaitu umat yang menjadi sasaran seruan. Mereka dipanggil, diundang, dan diarahkan menuju cahaya.

Namun tidak semua yang dipanggil menjawab. Dari sinilah lahir istilah Ummat Istijâbah, yaitu mereka yang bukan hanya mendengar, tetapi menjawab; bukan hanya mengetahui, tetapi tunduk; bukan hanya kagum kepada Islam, tetapi masuk ke dalamnya secara total. Jika Ummat Da‘wah adalah medan dakwah, maka Ummat Istijâbah adalah buahnya.

Perbedaan ini bukan sekadar istilah, tetapi menyentuh jantung kesadaran kita sebagai Muslim. Karena secara umum, seluruh manusia hari ini adalah Ummat Da‘wah Nabi , namun tidak semua menjadi Ummat Istijâbah. Ada yang menolak, ada yang ragu, ada yang menunda, bahkan ada yang mengaku beriman tetapi belum sepenuhnya taat.

Maka pertanyaan pentingnya bukan hanya “Apakah aku Muslim?” tetapi, “Apakah aku sudah benar-benar menjawab panggilan Allah?” Sebab Ummat Istijâbah bukan diukur dari gelar, posisi, atau banyaknya pengikut, melainkan dari kepatuhan nyata kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka mungkin tidak sempurna, tetapi tidak membangkang; mungkin jatuh, tetapi segera bangkit dengan taubat; tidak hanya bangga dengan identitas Islam, tetapi membuktikannya dengan amal.

Bagi para dai, memahami hal ini sangat penting. Seorang dai berdiri di tengah Ummat Da‘wah dengan berbagai latar belakang iman. Tugasnya bukan menghakimi, tetapi mengajak; bukan memvonis, tetapi membimbing dengan hikmah, kesabaran, dan kasih sayang.

Namun pada saat yang sama, ia harus memastikan bahwa dirinya sendiri benar-benar bagian dari Ummat Istijâbah. Betapa banyak orang pandai berbicara tentang Islam, tetapi belum sepenuhnya tunduk kepada Islam. Betapa banyak yang mengajak orang lain taat, tetapi dirinya masih menunda ketaatan. Di sinilah kejujuran iman diuji.

Lalu ada satu hal penting yang perlu kita luruskan bersama, khususnya dalam kehidupan berjamaah: jangan sampai semangat beragama berubah menjadi sempit dalam memandang saudara sendiri. Tidak sedikit orang yang mudah memberi label firqah kepada kelompok lain, seolah-olah kebenaran hanya milik kelompoknya. Padahal para ulama telah menjelaskan dengan sangat hati-hati.

Ramadhan al-Buthi menegaskan bahwa firqah yang menyimpang adalah mereka yang benar-benar keluar dari prinsip Al-Qur'an dan Sunnah dalam perkara pokok agama. Maka selama seseorang masih menyembah Allah yang satu, mengakui kerasulan Nabi , berpegang pada Al-Qur’an, menunaikan shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Mekkah, maka ia adalah saudara kita—bukan firqah yang keluar dari Islam. Perbedaan dalam metode dakwah, pilihan organisasi, atau cara pandang dalam hal cabang tidak otomatis menjadikannya menyimpang.

Para ulama salaf telah memberi teladan indah dalam hal ini. Imam Malik mengingatkan pentingnya menjaga persatuan kaum Muslimin selama mereka masih berada di atas dasar Islam. Imam Ahmad ibn Hanbal sangat berhati-hati dalam memberi vonis terhadap sesama Muslim, meskipun terjadi perbedaan.

Bahkan Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang paling menjaga persatuan umat dan paling jauh dari sikap mudah mengkafirkan tanpa hak. Ini menunjukkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Sunnah, seharusnya semakin luas dadanya terhadap sesama Muslim.

Di sinilah kita diuji sebagai bagian dari jamaah: apakah kita menjadi pribadi yang melapangkan hati atau justru mempersempitnya. Jangan sampai kita rajin berdakwah tetapi sempit dalam ukhuwah, semangat mengajak tetapi mudah mencela, aktif dalam jamaah tetapi kehilangan rasa persaudaraan. Karena Ummat Istijâbah sejati bukan hanya yang menjawab panggilan Allah dalam ibadah, tetapi juga yang menjaga adab terhadap hamba-hamba Allah lainnya.

Akhirnya, antara Ummat Da‘wah dan Ummat Istijâbah terdapat satu jembatan: jawaban hati. Setiap adzan adalah panggilan, setiap ayat adalah seruan, setiap nasihat adalah undangan. Kita semua pernah menjadi Ummat Da‘wah, tetapi kebahagiaan sejati adalah ketika kita naik derajat menjadi Ummat Istijâbah—umat yang menjawab dengan iman, membuktikan dengan amal, dan istiqamah hingga akhir hayat.

Kita boleh berbeda dalam hal cabang, tetapi tetap satu dalam tauhid, satu dalam kiblat, dan satu dalam tujuan: ridha Allah. Selama itu terjaga, mereka bukan firqah—mereka adalah saudara. Semoga kita termasuk orang-orang yang bukan hanya mendengar risalah, tetapi benar-benar menjawabnya. Wallahua’lam.[BA]

Posting Komentar untuk "Antara Ummat Istijâbah & Ummat Da‘wah"