PELITA MAJALENGKA - Ada satu bahaya besar yang sering tidak disadari oleh seorang muslim. Bahaya itu bukan kemaksiatan yang terang-terangan, bukan pula dosa yang membuat pelakunya merasa bersalah. Bahaya itu justru lahir dari sesuatu yang tampak baik: amal, ilmu, ibadah, dan kesalehan. Ia datang dengan wajah yang menenangkan, namun diam-diam merusak. Inilah yang dapat disebut sebagai ilusi kebaikan, ketika seseorang merasa dirinya sudah berada di jalan yang benar, padahal hatinya sedang berjalan menjauh dari Allah.
Betapa banyak orang yang rajin beribadah, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Betapa banyak yang memiliki ilmu, namun ilmunya melahirkan kesombongan yang halus. Betapa banyak yang aktif berdakwah, namun lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga keikhlasan. Semua itu terlihat indah di mata manusia, tetapi belum tentu bernilai di sisi Allah. Sebab yang dinilai oleh Allah bukan hanya apa yang tampak, melainkan juga apa yang tersembunyi di dalam dada.
Fenomena ini semakin terasa pada akhir zaman. Manusia semakin mudah menampilkan kebaikan, tetapi semakin sulit memeriksa niat. Amal dapat dipublikasikan dalam hitungan detik. Ilmu dapat disampaikan kepada ribuan orang dalam sekali bicara. Pujian datang dari berbagai arah. Tanpa disadari, hati mulai menikmati sanjungan lebih daripada menikmati kedekatan dengan Allah. Di situlah ilusi itu mulai bekerja.
Ada orang yang merasa paling alim karena banyak membaca dan mengajar. Ia mengira ilmunya adalah bukti kemuliaan dirinya. Padahal kelak di hadapan Allah, yang ditanya bukan seberapa banyak ilmu yang diketahui, tetapi seberapa jauh ilmu itu mengubah dirinya menjadi hamba yang lebih tunduk. Ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah bisa menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya.
Ada pula yang merasa paling memahami agama sehingga sulit menerima nasihat. Setiap masukan dianggap sebagai serangan. Setiap kritik dianggap sebagai permusuhan. Hatinya tidak lagi mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran. Padahal para ulama salaf justru semakin berilmu semakin merasa kecil. Mereka lebih takut terhadap kesalahan diri sendiri daripada kesalahan orang lain.
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud pernah mengingatkan bahwa kebinasaan seseorang dimulai ketika ia merasa dirinya sudah cukup. Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Sebab saat seseorang merasa cukup dengan amalnya, cukup dengan ilmunya, dan cukup dengan kesalehannya, saat itulah ia berhenti memperbaiki dirinya.
Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata bahwa tidak ada sesuatu yang lebih sulit beliau obati daripada niatnya sendiri. Padahal beliau adalah seorang imam besar yang ilmunya diakui umat. Jika seorang ulama sebesar itu masih takut terhadap penyakit hati, lalu bagaimana dengan kita yang amalnya sedikit, ilmunya terbatas, namun sering merasa aman dari penilaian Allah?
Ilusi kebaikan juga membuat seseorang menghitung-hitung amalnya. Ia merasa sudah banyak berkorban, sudah banyak berdakwah, sudah banyak berbuat baik. Padahal ketika amal itu dibandingkan dengan nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya, semuanya terasa begitu kecil. Kelak di hadapan Allah, bukan banyaknya amal yang menyelamatkan, melainkan rahmat-Nya. Amal hanyalah sebab, sedangkan keselamatan sejati adalah karunia dari-Nya.
Al-Hasan Al-Bashri pernah menggambarkan orang beriman sebagai orang yang senantiasa menggabungkan amal dengan rasa takut. Ia berbuat baik, tetapi khawatir amalnya tidak diterima. Sebaliknya, orang yang tertipu adalah mereka yang berbuat sedikit namun merasa aman. Inilah perbedaan antara hati yang hidup dan hati yang sedang terpedaya.
Para ulama khalaf juga mengingatkan bahwa salah satu tanda kehancuran ruhani adalah ketika seseorang lebih sibuk menilai posisi dirinya dibanding memperbaiki hubungannya dengan Allah. Ia ingin dikenal sebagai orang saleh, tetapi lupa memohon agar diterima sebagai hamba yang saleh. Ia ingin dihormati manusia, tetapi lupa bahwa penilaian manusia tidak akan berguna sedikit pun pada hari ketika seluruh rahasia dibongkar.
Karena itu, setiap muslim perlu sering bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah aku beramal karena Allah atau karena ingin dipandang baik? Apakah ilmuku membuatku semakin tawadhu atau justru semakin sulit menerima kebenaran? Apakah ibadahku melahirkan rasa syukur atau malah melahirkan rasa bangga?
Sesungguhnya yang paling menakutkan bukanlah ketika seseorang terjatuh dalam dosa lalu menyesal. Yang paling menakutkan adalah ketika seseorang tenggelam dalam ilusi kebaikan hingga merasa tidak lagi membutuhkan perbaikan. Sebab dosa sering melahirkan taubat, sedangkan rasa kagum kepada diri sendiri sering menutup pintu taubat. Maka janganlah terlalu sibuk menghitung amal, tetapi sibukkanlah diri memohon agar amal itu diterima. Jangan terlalu yakin dengan kesalehan diri, tetapi perbanyaklah rasa takut kepada Allah. Sebab di akhir perjalanan nanti, yang selamat bukanlah mereka yang merasa paling baik, melainkan mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang rendah, penuh harap, dan penuh ketundukan.[BA]

Posting Komentar untuk "Ilusi Kebaikan: Saat Amal, Ilmu, dan Kesalehan Menipu Pemiliknya"