Saat Kampus Mengubah Cara Pandang Seorang Muslimah


PELITA MAJALENGKA - 
Kampus adalah tempat yang membuka banyak pintu. Di sanalah seseorang belajar ilmu, memperluas wawasan, membangun relasi, melatih kemampuan berpikir, dan mempersiapkan masa depan. Tidak sedikit muslimah yang memasuki dunia kampus dengan semangat besar untuk menuntut ilmu dan memberikan manfaat bagi umat. 

Namun di balik berbagai peluang itu, kampus juga menjadi salah satu tempat yang dapat mengubah cara pandang seseorang secara perlahan tanpa disadari. Perubahan itu sering kali tidak terjadi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan melalui proses yang panjang dan bertahap hingga akhirnya banyak hal yang dahulu dianggap penting dalam agama mulai terasa biasa saja.

Tidak sedikit muslimah yang ketika masih berada di pesantren atau lingkungan yang kuat nilai-nilai agamanya dikenal sebagai pribadi yang sederhana, menjaga diri, hati-hati dalam berbicara, serta memiliki rasa malu yang tinggi. Mereka memahami batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, berusaha menjaga pandangan, dan merasa tidak nyaman jika harus terlalu dekat dengan lawan jenis yang bukan mahram. 

Namun ketika memasuki lingkungan kampus yang jauh lebih beragam, mereka mulai berhadapan dengan budaya dan cara berpikir yang berbeda. Interaksi yang dahulu dianggap perlu dijaga kini dianggap hal biasa. Bercanda dengan lawan jenis, mengobrol berjam-jam, bertukar pesan pribadi, hingga bekerja bersama dalam berbagai kegiatan sering kali dipandang sebagai bagian dari kehidupan akademik yang normal.

Pada awalnya mungkin hati masih merasa risih. Masih ada suara kecil yang mengingatkan bahwa dahulu hal-hal seperti itu tidak biasa dilakukan. Namun karena dilakukan berulang-ulang dan disaksikan setiap hari, perlahan rasa risih itu memudar. Apa yang dahulu terasa aneh menjadi biasa. Apa yang dahulu terasa berat menjadi ringan. 

Apa yang dahulu membuat malu menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Inilah salah satu ujian terbesar yang sering tidak disadari oleh banyak orang. Bukan karena mereka sengaja meninggalkan agama, tetapi karena hati manusia memang mudah beradaptasi dengan lingkungan yang terus-menerus memengaruhinya.

Di sebagian lingkungan kampus, ukuran pergaulan sering kali berubah. Muslimah yang banyak diam dianggap kurang percaya diri. Yang menjaga jarak dengan lawan jenis dianggap terlalu kaku. Yang berbicara seperlunya dianggap kurang ramah. Bahkan ada yang merasa takut dianggap tidak gaul jika terlalu menjaga prinsip-prinsip agama yang dahulu diyakininya. 

Akhirnya banyak yang mulai menyesuaikan diri. Mereka ingin diterima oleh lingkungan, ingin dianggap modern, ingin terlihat terbuka, dan tidak ingin dipandang berbeda. Sedikit demi sedikit perubahan itu terjadi hingga tanpa sadar standar yang digunakan bukan lagi syariat, melainkan penilaian manusia.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika berbagai istilah baru mulai muncul untuk membuat hati merasa tenang. Ada istilah "gaul syar'i", "pertemanan islami", atau berbagai ungkapan lain yang terdengar baik. Padahal ukuran syariat tidak ditentukan oleh istilah yang terdengar menarik, melainkan oleh apa yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. 

Kadang seseorang merasa dirinya masih berada dalam koridor agama hanya karena masih memakai jilbab, padahal cara berpakaian, cara bergaul, dan cara memandang berbagai perkara sudah jauh berubah dibandingkan dahulu. Ada yang dulu memakai jilbab lebar menutupi dada kemudian perlahan merasa cukup dengan jilbab yang sekadar menutup rambut. 

Ada yang dulu sangat berhati-hati dalam berhias kemudian mulai mengikuti berbagai tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Semua itu sering terjadi bukan karena tidak mengetahui ilmunya, tetapi karena besarnya pengaruh lingkungan dan keinginan untuk diterima.

Padahal kampus sejatinya adalah tempat mencari ilmu, bukan tempat mengganti prinsip hidup. Seorang muslimah dapat menjadi mahasiswi yang cerdas tanpa harus kehilangan rasa malunya. Ia dapat aktif dalam organisasi tanpa mengabaikan batasan syariat. Ia dapat berprestasi tanpa harus mencari perhatian.

Ia dapat menjadi pemimpin tanpa harus meninggalkan kelembutan dan kehormatannya sebagai seorang muslimah. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak pernah bertentangan dengan ketakwaan. Justru ilmu yang benar seharusnya semakin mendekatkan seseorang kepada Allah dan membuatnya semakin memahami pentingnya menjaga diri di tengah berbagai fitnah zaman.

Perubahan yang paling berbahaya sebenarnya bukanlah perubahan penampilan, melainkan perubahan cara pandang. Ketika hati mulai menganggap ringan perkara yang dahulu dianggap dosa. Ketika rasa malu mulai memudar. Ketika nasihat agama terasa mengganggu kenyamanan. Ketika penilaian manusia lebih dicari daripada ridha Allah. Di situlah seseorang perlu berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Sebab tidak ada yang lebih menyedihkan daripada kehilangan kepekaan hati secara perlahan tanpa menyadarinya.

Para ulama salaf dahulu sangat takut terhadap perubahan hati semacam ini. Mereka memahami bahwa istiqamah jauh lebih berat daripada memulai semangat. Karena itu mereka senantiasa memohon kepada Allah agar diteguhkan di atas kebenaran hingga akhir hayat. Seorang muslimah pun perlu sering bertanya kepada dirinya sendiri: apakah setelah masuk kampus aku menjadi lebih dekat kepada Allah atau justru semakin jauh? 

Apakah ilmuku bertambah bersamaan dengan bertambahnya ketakwaan? Apakah rasa maluku kepada Allah semakin kuat atau justru semakin menipis? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan menjadi kompas agar langkah tidak menyimpang dari tujuan awal.

Pada akhirnya dunia kampus hanyalah salah satu fase kehidupan. Organisasi akan berakhir, pertemanan akan berubah, popularitas akan memudar, dan masa kuliah akan menjadi kenangan. Namun iman yang dijaga akan tetap menemani hingga akhir hayat. Karena itu, seorang muslimah hendaknya berusaha mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari kampus tanpa kehilangan prinsip yang dahulu telah ditanamkan oleh Al-Qur'an, Sunnah, orang tua, dan para guru. 

Jadilah muslimah yang luas ilmunya namun tetap rendah hati, yang modern dalam wawasan namun kokoh dalam prinsip, yang aktif dalam kehidupan namun tetap menjaga batas-batas yang Allah tetapkan. 

Sebab kemuliaan seorang muslimah tidak terletak pada seberapa ia diterima oleh manusia, melainkan pada seberapa ia menjaga dirinya di hadapan Allah. Dan sungguh, tidak ada gelar yang lebih mulia daripada gelar seorang hamba yang berhasil mempertahankan iman dan kehormatannya di tengah derasnya arus perubahan zaman.[BA]

Posting Komentar untuk "Saat Kampus Mengubah Cara Pandang Seorang Muslimah"