PELITA MAJALENGKA - "Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya di hadapan Allah dan sesama manusia."
Ada sebuah pemandangan yang sering
kita jumpai di zaman ini. Sebagian orang baru memiliki sedikit pengetahuan
sudah gemar merendahkan orang lain. Baru membaca beberapa buku, sudah merasa
paling benar. Baru menghafal beberapa dalil, sudah mudah menyalahkan. Padahal,
para ulama besar justru semakin berilmu semakin lembut lisannya, semakin santun
akhlaknya, dan semakin takut kepada Allah. Inilah salah satu tanda bahwa ilmu
yang benar melahirkan tawadhu', bukan kesombongan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang paling takut
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fathir: 28)
Ayat ini tidak mengatakan bahwa
orang berilmu adalah orang yang paling banyak berbicara, paling banyak
berdebat, atau paling sering menunjukkan kepandaiannya. Allah justru menyebut
bahwa ciri utama orang berilmu adalah khasy-yah, yaitu rasa takut,
tunduk, dan hormat kepada Allah. Ketika ilmu bertambah, kesadaran akan
kebesaran Allah juga bertambah. Semakin mengenal Allah, semakin sadar betapa
kecil diri ini.
Rasulullah ﷺ
adalah manusia yang paling berilmu, tetapi beliau juga manusia yang paling tawadhu'.
Beliau duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan budak, membantu pekerjaan
rumah tangga, menjahit pakaiannya sendiri, bahkan melarang para sahabat berdiri
berlebihan untuk menghormatinya. Beliau bersabda:
"Barang siapa merendahkan diri
karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya."
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa
kemuliaan tidak diperoleh melalui kesombongan, melainkan melalui kerendahan
hati. Semakin seseorang ingin dimuliakan Allah, semakin ia harus belajar
tawadhu'.
Para ulama salaf memberikan teladan
yang luar biasa. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Setiap
kali ilmuku bertambah, semakin bertambah pula pengetahuanku tentang
kebodohanku." Kalimat ini bukan ungkapan rendah diri yang dibuat-buat,
melainkan buah dari keluasan ilmu. Orang yang benar-benar memahami lautan ilmu
akan sadar bahwa apa yang diketahuinya hanyalah setetes air dibandingkan
luasnya samudra pengetahuan Allah.
Imam Ahmad bin Hanbal juga terkenal
sangat rendah hati. Padahal beliau adalah imam besar ahli hadis. Beliau tidak
senang dipuji dan sering mengatakan bahwa keselamatan lebih beliau sukai
daripada ketenaran. Begitu pula Imam Malik, ketika ditanya puluhan persoalan
agama, beliau menjawab "Saya tidak tahu" pada sebagian besar pertanyaan.
Beliau tidak malu mengakui keterbatasan ilmunya, karena mengatakan "tidak
tahu" lebih mulia daripada berbicara tanpa ilmu.
Fenomena ini sangat berbeda dengan
budaya media sosial saat ini. Banyak orang berlomba-lomba ingin terlihat paling
pintar. Perdebatan sering kali lebih bertujuan memenangkan ego daripada mencari
kebenaran. Padahal, ilmu bukanlah alat untuk meninggikan diri, melainkan cahaya
yang seharusnya menerangi hati. Jika ilmu membuat seseorang semakin kasar,
mudah menghina, gemar mencela, dan merasa paling suci, maka yang perlu
dipertanyakan bukan ilmunya, tetapi keberkahan ilmunya.
Menariknya, penelitian ilmiah modern
juga mendukung nilai kerendahan hati intelektual. Para peneliti dari berbagai
universitas menemukan bahwa intellectual humility atau kerendahan hati
intelektual membuat seseorang lebih terbuka terhadap bukti baru, lebih mampu
belajar dari kesalahan, lebih mudah bekerja sama, dan memiliki kemampuan
berpikir kritis yang lebih baik. Sebaliknya, orang yang merasa sudah mengetahui
segalanya cenderung sulit menerima masukan dan mudah terjebak dalam bias
berpikir. Hasil-hasil penelitian dalam psikologi pendidikan menunjukkan bahwa
sikap rendah hati terhadap pengetahuan berkaitan dengan peningkatan kualitas
pembelajaran, hubungan sosial yang lebih sehat, dan kemampuan mengambil
keputusan yang lebih baik.
Temuan ilmiah ini selaras dengan
ajaran Islam sejak lebih dari empat belas abad yang lalu. Islam mendidik
umatnya agar ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati dan tercermin
dalam akhlak. Karena itu, para ulama selalu mengajarkan bahwa adab harus
berjalan seiring dengan ilmu. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan
kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu mudah tersesat. Keduanya harus berpadu.
Allah juga mengingatkan dalam
Al-Qur'an:
وَلَا
تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ
الْجِبَالَ طُولًا
"Janganlah engkau berjalan di
muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi
dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." (QS. Al-Isra': 37)
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia
hanyalah makhluk yang lemah. Sebanyak apa pun gelar akademik yang dimiliki,
sebanyak apa pun buku yang ditulis, atau setinggi apa pun jabatan yang diraih,
semuanya tidak akan berarti jika hati dipenuhi kesombongan. Ilmu yang tidak
mendekatkan kepada Allah hanyalah informasi, bukan cahaya.
Di akhir zaman, kita membutuhkan
lebih banyak orang berilmu yang rendah hati daripada orang yang sekadar pandai
berbicara. Dunia tidak kekurangan orang cerdas, tetapi sangat membutuhkan orang
bijaksana. Seorang guru yang tawadhu' akan dicintai muridnya. Seorang dai yang
tawadhu' akan menyentuh hati umat. Seorang pemimpin yang tawadhu' akan
dihormati rakyatnya. Bahkan seorang ayah dan ibu yang tawadhu' akan menjadi teladan
terbaik bagi anak-anaknya.
Maka, marilah kita terus belajar
sambil terus menjaga hati. Jangan pernah merasa paling tahu, karena di atas
setiap orang yang berilmu masih ada Yang Maha Mengetahui.
وَفَوْقَ
كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
"Di atas setiap orang yang
berpengetahuan masih ada Yang Maha Mengetahui." (QS. Yusuf: 76)
Semoga setiap ilmu yang kita
pelajari semakin mendekatkan kita kepada Allah, melembutkan hati, memperindah
akhlak, dan menjadikan kita pribadi yang semakin tawadhu'. Sebab, ukuran
keberhasilan seorang penuntut ilmu bukanlah seberapa banyak yang ia ketahui,
melainkan seberapa dalam ilmu itu mengubah dirinya menjadi hamba yang lebih
takut kepada Allah, lebih mencintai sesama, dan lebih rendah hati di hadapan
siapa pun.
Bila diinginkan, saya juga dapat
mengembangkan artikel ini menjadi sekitar 1.500–2.000 kata dengan
tambahan kisah para salaf, penjelasan tafsir ayat, kutipan ulama seperti Ibnu
Rajab, Ibnul Qayyim, An-Nawawi, serta uraian lebih rinci mengenai hasil
penelitian psikologi modern tentang intellectual humility.[BA]

Posting Komentar untuk "Orang Berilmu Semakin Tawadhu'"