Pagi di Cintabakti terasa berbeda.
Udara masih dingin. Kabut tipis perlahan menghilang dari persawahan yang
terbentang luas. Dari kejauhan, Gunung Ciremai berdiri gagah menjadi latar
indah bagi sebuah perjuangan kecil yang insyaallah bernilai besar di sisi
Allah.
Di tempat itulah Pesantren
Tahfidz Qur’an Nurul Bayan tumbuh. Tepatnya di Blok Cintabakti RT 003 RW
004, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Tidak ada kemewahan yang berlebihan.
Yang ada adalah kesederhanaan. Ada mushaf, ada suara anak-anak membaca ayat
demi ayat, ada guru yang membimbing, dan ada cita-cita besar agar lahir
generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.
Setiap hari, para santri berjuang
menghafal. Satu ayat diulang berkali-kali. Satu halaman mungkin membutuhkan
waktu panjang. Kadang hafalan lancar. Kadang tersendat. Tetapi mereka terus
mencoba.
Di balik setiap hafalan itu, ada
perjuangan yang sering tidak terlihat.
Ada biaya makan. Ada kebutuhan
pendidikan. Ada listrik dan air. Ada kitab dan mushaf. Ada kebutuhan asrama.
Ada kebutuhan para guru yang setiap hari mendampingi para santri.
Karena itu, perjuangan menghafal
Al-Qur’an sesungguhnya bukan hanya perjuangan santri. Ini adalah perjuangan
bersama.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ
مُدَّكِرٍ
"Dan sungguh, telah Kami
mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil
pelajaran?" QS. Al-Qamar: 17
Pertanyaannya sederhana: maukah
kita mengambil bagian dalam perjuangan itu? Hanya dengan menyisihkan 500 rupiah per hari.
Tidak harus menunggu menjadi orang
kaya. Tidak harus menunggu memiliki jutaan rupiah. Bahkan Rp500 rupiah sehari
pun dapat menjadi bentuk kepedulian.
Lima ratus rupiah mungkin kecil bagi sebagian
orang. Tetapi jika dikumpulkan dari banyak orang yang istiqamah, ia dapat
menjadi kekuatan besar bagi keberlangsungan pendidikan para penghafal
Al-Qur’an.
Bayangkan.
Rp500 rupiah sehari berarti Rp15.000
dalam sebulan. Jika seratus orang ikut mengambil bagian, terkumpul Rp1,5 juta setiap bulan. Angka itu dapat membantu menghadirkan makanan, pendidikan, sarana
belajar, kebutuhan asrama, dan berbagai kebutuhan perjuangan para santri.
Lebih dari sekadar angka, ada doa
yang mengiringinya.
Setiap kali seorang santri membaca
Al-Qur’an, kita berharap ada bagian pahala yang Allah karuniakan kepada
orang-orang yang ikut membantu perjuangannya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
"Barang siapa menunjukkan
kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang
mengerjakannya." HR.
Muslim.
Di Nurul Bayan, perjuangan itu tidak
berhenti pada menghafal Al-Qur’an.
Ada pula Akademi Guru Al-Qur’an
(AGA). Sebuah ikhtiar untuk menyiapkan para pendidik yang bukan hanya mampu
membaca dan mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki semangat untuk
membangun generasi Qur’ani di tengah masyarakat.
Sebab kita membutuhkan lebih banyak
guru Al-Qur’an.
Dan perjuangan itu berlangsung di
sebuah tempat yang begitu sederhana namun indah.
Persawahan membentang luas. Angin
bergerak perlahan di antara tanaman. Pepohonan menghijau. Udara terasa sejuk.
Dari kejauhan, Gunung Ciremai menjadi saksi bahwa di sebuah desa kecil, ada
anak-anak yang sedang menyiapkan masa depan dengan Al-Qur’an.
Mungkin suatu hari nanti, salah
seorang dari mereka menjadi imam. Menjadi guru. Menjadi dai. Menjadi ulama.
Menjadi pemimpin yang mencintai Al-Qur’an.
Dan mungkin, ketika itu terjadi, ada
orang-orang yang tidak pernah dikenal oleh sang santri tetapi pernah
mengirimkan Rp500 rupiah setiap hari untuk membantu perjuangannya.
Namanya mungkin tidak disebut.
Wajahnya mungkin tidak dikenang.
Tetapi boleh jadi, Allah mencatat
setiap rupiahnya sebagai amal jariyah.
Rp500 sehari yang disisihkan.
Bukan tentang seberapa besar uang
yang kita keluarkan.
Tetapi tentang seberapa besar
kepedulian kita terhadap masa depan Al-Qur’an.
Mari ikut menjadi bagian dari
perjuangan Pesantren Tahfidz Qur’an Nurul Bayan dan Akademi Guru Al-Qur’an
(AGA) di Blok Cintabakti, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten
Majalengka.
Karena bisa jadi, lima ratus
rupiah yang kita sisihkan hari ini menjadi sebab lahirnya seorang penghafal
Al-Qur’an yang kelak menerangi kehidupan banyak manusia.
Sedikit dari kita.
Besar manfaatnya.
Panjang pahalanya.
Rp500 rupiah untuk perjuangan para
penghafal Al-Qur’an.[BA]


Posting Komentar untuk " Rp500 Rupiah Sehari untuk Perjuangan Para Penghafal Al-Qur’an"