Ketika Kursi Kekuasaan Menjadi Pesta Pora Dunia


PELITA MAJALENGKA
- Ada yang ganjil dalam riuh rendah politik kita. Dahulu, para pendiri bangsa memandang jabatan sebagai beban. Sebuah amanah berat yang membuat tidur tak nyenyak. Namun hari ini, pemandangan itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Kursi kekuasaan kerap diperebutkan seperti kue lezat. Jabatan bukan lagi tempat berkorban demi rakyat. Jabatan telah bergeser menjadi jalan tol memperkaya diri.

Fenomena ini tampak begitu telanjang di hadapan kita. Begitu seseorang menjabat, lingkaran terdekatnya ikut berlayar dalam kemewahan. Keluarga, teman, hingga kerabat dekat mendadak kecipratan kemudahan proyek. Garis batas antara dinas dan kantong pribadi menjadi buram. Mereka seolah lupa, harta yang ditumpuk lewat wewenang bukanlah prestasi. Itu adalah utang moral yang amat besar.

Ketika nafsu menguasai dada, hati pun perlahan membatu. Mereka lupa pada rakyat kecil yang diwakilinya. Rakyat yang masih berjuang sekadar untuk membeli beras. Mereka juga lupa bahwa hidup ini sangat singkat. Dunia yang megah ini hanya panggung sandiwara yang usai dalam hitungan detik. Yang paling menyedihkan, mereka lupa akan kehidupan akhirat. Sebuah negeri abadi di mana setiap rupiah akan ditanya asal-usulnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan gambaran yang sangat tajam. Beliau menggambarkan betapa merosaknya ambisi terhadap harta dan kedudukan.

Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda, "Dua serigala lapar yang dilepaskan di tengah sekawanan kambing tidak lebih merusak daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya." (HR. At-Tirmidzi)

Bayangkan betapa hancurnya sekawanan kambing diserbu dua serigala lapar. Seperti itulah hancurnya nurani seseorang ketika sudah silau oleh takhta. Agama dipertaruhkan. Keadilan diinjak-injak. Nurani dibungkam demi menumpuk kekayaan yang tak akan dibawa mati.

Penyakit ini sebenarnya bukan hal baru. Al-Qur'an telah merekam tabiat manusia yang suka menumpuk harta hingga lupa diri. Allah Ta'ala berfirman dalam Surah At-Takatsur, "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takatsur: 1-2) 

Ayat ini adalah teguran keras bagi para pemburu dunia. Banyak pejabat merasa aman dengan benteng kekayaan mereka. Padahal, kematian mengintai setiap saat. Ketika nafas terakhir dihembuskan, semua jas mewah dan mobil dinas ditinggalkan. Hanya kain kafan putih yang melekat di badan. Namun sayang, kesadaran itu sering kali datang terlambat.

Sungguh menyedihkan nasib mereka kelak di akhirat. Di saat rakyat yang dirugikan menuntut keadilan di hadapan Allah, ke mana mereka akan bersembunyi? Jabatan yang dulu diagungkan justru berubah menjadi penyesalan yang membakar.

Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu, seorang pemimpin besar yang ditakuti dunia, justru menangis ketika memegang kekuasaan. Beliau pernah berkata:

"Sekiranya seekor keledai terperosok di kota Irak, sungguh aku takut Allah akan menuntutku kelak, 'Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'"

Bandingkan jiwa besar itu dengan kondisi hari ini. Betapa jauh bedanya. Umar takut dituntut karena seekor hewan yang tersandung. Sementara hari ini, tidak sedikit pemimpin yang tenang-tenang saja meski rakyatnya menderita akibat kebijakan yang menguntungkan kelompoknya sendiri.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga memberikan teladan mulia. Ketika menyelesaikan urusan negara, beliau menggunakan lampu minyak fasilitas negara. Namun saat anak kandungnya masuk untuk membicarakan urusan keluarga, beliau langsung memadamkan lampu itu. Beliau menggantinya dengan lampu minyak pribadi. Beliau tidak mau satu tetes pun minyak milik rakyat digunakan untuk kepentingan pribadi atau keluarganya. 

Nasihat para ulama pun senada. Imam Al-Hasan Al-Basri pernah mengingatkan kita dengan kalimat yang sangat indah: "Dunia ini hanyalah mimpi, dan akhirat adalah kesadaran. Kematian adalah pemisah di antara keduanya. Dan kita sedang berada dalam mimpi-mimpi yang membingungkan."

Para pejabat yang terbuai kekuasaan sebenarnya sedang tertidur dalam mimpi indah. Mereka mengira harta yang dikumpulkan akan menyelamatkan mereka. Padahal, setiap fasilitas dan kewenangan yang disalahgunakan adalah kegelapan di hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan: "Zalim itu adalah kegelapan pada hari kiamat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Artikel ini bukanlah bentuk kebencian, melainkan peringatan kasih sayang. Peringatan agar kita semua, terutama para pemegang tampuk kekuasaan, segera terbangun. Kekuasaan itu seperti memegang bara api. Jika dijalankan dengan amanah, ia menjadi jalan menuju naungan Allah. Namun jika dijadikan kesempatan memperkaya diri, ia akan menjadi bahan bakar penyesalan abadi.

Mari kembali menyadari bahwa hidup ini hanyalah persinggahan singkat. Jangan tukar syurga yang abadi hanya demi kesenangan semu yang tidak seberapa. Sebelum tanah menutup jasad, sebelum buku catatan amal ditutup rapat, masih ada waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Kembali melayani, bukan dilayani. Kembali memberi, bukan menggerogoti.[BA]

 

Posting Komentar untuk "Ketika Kursi Kekuasaan Menjadi Pesta Pora Dunia"