Menjemput Impian di Tanah Para Nabi: Jejak Langkah Hakim Menimba Ilmu di Al-Azhar Kairo


PELITA MAJALENGKA
- Sore itu, suasana di dalam Masjid Aayatul Muthmainnah, Pondok Pesantren Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya, terasa begitu hangat dan khidmat. Ratusan pasang mata para santri terpaku pada seorang pemuda yang berdiri menuturkan kisah perjalanannya di seberang lautan. Dialah Hakim, pemuda yang kini tengah menyelesaikan semester 7 di Jurusan Sastra Arab, Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Pada Senin, 28 September 2026, dalam forum sharing session yang dipandu oleh Ustadz Rafi Abdul Rafi, Lc., Hakim hadir bukan sekadar membawa cerita, melainkan menyalakan lentera cita-cita di dada para santri.

Bagi Hakim, Mesir bukan hanya sebuah negara di benua Afrika, melainkan kiblat peradaban dan pusat keilmuan Islam tertua yang melahirkan ulama-ulama besar. "Negeri ini telah menjadi tempat menimba ilmu bagi para ulama dunia, termasuk Syekh Nawawi Al-Bantani hingga Ustadz Abdul Somad," tutur Hakim mantap, menggambarkan betapa bertuah dan kayanya tradisi keilmuan di sana. Di Mesir pula, pemahaman mazhab Syafi'i mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari, memberikan rasa familiar yang erat bagi para penuntut ilmu asal Indonesia.

Namun, menembus gerbang Universitas Al-Azhar tidaklah diraih dengan berpangku tangan. Hakim membagikan kunci rahasianya kepada para santri yang bermimpi mengikuti jejaknya. Melalui jalur seleksi Kementerian Agama RI maupun kerja sama Kedutaan Besar, fondasi terpenting yang harus disiapkan sejak dini adalah penguasaan bahasa Arab yang matang serta hafalan Al-Qur'an sekurang-kurangnya 2 juz.

Kisah Hakim semakin hidup ketika ia menceritakan dinamika kesehariannya di Kairo. Menuntut ilmu langsung di hadapan para masyaikh adalah momen spiritual yang tak ternilai, meski dinamika sosial politik lokal—seperti riak sejarah organisasi Ikhwanul Muslimin—terkadang membatasi ruang belajar tertentu. Kendati demikian, keterbatasan itu tak pernah melunturkan semangat para mahasiswa Indonesia untuk terus meneguk samudra ilmu.

Hakim juga mematahkan anggapan bahwa kuliah di luar negeri selalu identik dengan biaya yang menguras kantong. Dengan pengelolaan mandiri yang bijak, biaya hidup pribadi di Kairo rupanya cukup terjangkau, yakni berkisar Rp1,5 juta per bulan. Sebuah angka yang sangat masuk akal untuk ukuran menimba pengalaman internasional di kota bersejarah.

Sesi berbagi sore itu ditutup dengan gelora semangat yang membubung tinggi. Tatapan mata para santri Pesantren Shuffah Al-Jama’ah tak lagi sama; di balik senyum dan tepuk tangan mereka, kini tertanam sebuah keyakinan baru—bahwa dari sudut masjid pesantren tempat mereka belajar hari ini, gerbang peradaban Al-Azhar Kairo sesungguhnya tidak pernah terlalu jauh untuk digapai.[Rizki]

  

Posting Komentar untuk "Menjemput Impian di Tanah Para Nabi: Jejak Langkah Hakim Menimba Ilmu di Al-Azhar Kairo"