PELITA MAJALENGKA - Di sebuah sudut kehidupan yang riuh oleh riuk zaman digital, seorang remaja putri melangkah dengan ketetapan dan kemantapan hati. Namanya Alya Dinari, sosok akhwat bersahaja kelahiran Jambi, 13 Agustus 2009, yang tumbuh sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Dari keringat sang ayah, Ari Rudi Hartono, seorang wirausaha gigih, serta kesejukan doa sang ibu, Rita Nurmilah, seorang ibu rumah tangga tulus, Alya dibesarkan.
Keluarga sederhana ini tak hanya memberinya rumah untuk berteduh, tetapi juga menanamkan benih cinta ilahi yang teramat dalam. Dari keheningan kasih sayang orang tuanya inilah, sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa mulai dirajut.
Jejak indah persahabatan Alya dengan Al-Qur’an terukir sejak ia menyinggahi bangku kelas 5 sekolah dasar saat melangkahkan kaki ke pesantren. Langkah sucinya terus berlanjut hingga kini; ia sedang menimba ilmu dan menempa hafalannya di Pesantren Tahfidz Qur'an Nurul Bayan yang beralamat di Blok Cintabakti RT 003 RW 004 Ds. Mekarwangi, Kec. Lemahsugih, Majalengka, Jawa Barat.
Bagi Alya, memilih jalan sebagai seorang penghafal Al-Qur’an bukanlah sekadar pengisi masa muda, melainkan sebuah keputusan hidup yang berlandaskan pemahaman mendalam. Ia meyakini sepenuh jiwa bahwa menghafal Al-Qur’an adalah pekerjaan yang paling mulia dan menguntungkan di muka bumi.
Di dalam setiap peluh dan rasa lelah, selalu ada janji pahala tak bertepi serta kemuliaan yang menanti dari Sang Maha Rahman. Lebih dari itu, Al-Qur’an senantiasa menjadi tempat ia berlabuh, memberikan ketenangan hakiki di setiap gelombang kehidupan.
Perjalanan suci ini kian bergelora saat Alya menemukan teladan pada sosok Sultan Muhammad Al-Fatih. Dari jejak penakluk Konstantinopel tersebut, Alya memetik ikhtibar berharga bahwa Al-Qur’an adalah kunci utama dari segala muara ilmu pengetahuan.
Jika seorang raja muda sanggup menundukkan benteng terkuat di dunia dengan Al-Qur’an di dadanya, maka Alya pun yakin Al-Qur’an mampu menaklukkan segala keterbatasan dalam dirinya.
Inspirasi agung ini membakar semangatnya untuk terus merengkuh bait demi bait kalamullah tanpa ragu. Setiap hela napasnya kini diabdikan untuk menjaga warisan langit yang amat berharga tersebut.
Namun, jalan mulia ini tidak pernah sepi dari duri dan ujian yang menyayat dada. Pengalaman paling berat dan pahit yang kerap meremukkan hatinya adalah ketika ayat-ayat yang telah dihafal perlahan pudar dan terlupa. Detik-detik saat memori itu mengabur menjadi momen yang menguji kesabaran, memaksa jiwanya berjuang keras memikirkan cara terbaik untuk kembali melakukan muraja'ah.
Rasa lelah dan kejenuhan sesekali datang menyapa, mempermainkan tekad mudanya hingga terbersit rasa ingin menyerah. Meski demikian, Alya enggan membiarkan keputusasaan merobohkan benteng cita-cita sucinya.
Di saat bayang-bayang putus asa itu hadir, Alya tidak memilih untuk berbalik arah melainkan masuk ke dalam bilik introspeksi diri. Ia bertanya pada hatinya sendiri: apakah rasa lelah ini yang menjadi penentu apakah ia pantas dan layak menjadi ahlul Qur'an? Dalam keheningan itu, Alya merangkul erat firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak akan membebankan ujian di luar batas kesanggupan hamba-Nya.
Ayat ini menjadi penopang utama yang membangkitkan jiwanya dari keletihan, meyakinkannya bahwa ia pasti mampu melewati setiap ujian hafalan. Dengan senyum yang kembali terbit, ia melanjutkan langkah perjuangannya.
Di antara ribuan ayat yang ia hafalkan, ada dua ayat yang menempati ruang paling sakral di hati Alya. Surah Al-Hijr ayat 9 menjadi bahan bakar motivasinya untuk senantiasa bersemangat membersamai Al-Qur'an sepanjang hayat. Sementara penggalan Surah Al-Baqarah ayat 282, “Wattaqullah wa yu’allimukumullah” (bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu), menjadi pegangan hidup terbesarnya.
Bagi Alya, ayat ini menanamkan keyakinan utuh bahwa ketakwaan yang murni adalah kunci paling ampuh untuk membuka pintu kemudahan dalam memahami segala ilmu. Keyakinan inilah yang menyinari setiap pijakan langkahnya.
Meniti Lelah, Mengikat Janji: Saat Keringat Orang Tua dan Kalamullah Menyatu
Sentuhan
Al-Qur’an tidak hanya mengasah memori Alya, tetapi merombak seluruh tatanan
kehidupannya secara nyata. Sejak Allah menakdirkannya menjadi penjaga ayat-Nya,
Alya merasakan kemudahan yang mengalir deras dalam setiap urusan. Keharmonisan
keluarga, keberkahan ekonomi, hingga kemudahan saat menuntut ilmu terasa kian
nyata dan melapangkan dadanya.
Al-Qur'an terbukti menjadi pembuka jalan-jalan sempit yang semula nampak mustahil untuk dilalui oleh akal manusia. Kehadiran kalam suci itu benar-benar mengubah hidupnya menjadi jauh lebih berwarna dan bermakna.
Di balik setiap bait hafalan yang mengalun dari bibirnya, ada usapan keringat dan air mata orang tua yang tak terhitung nilainya. Pengorbanan yang paling mengiris hatinya adalah saat melihat ayah dan ibunya terbaring sakit, namun tetap tersenyum lembut dan mengaku sehat. Mereka tetap memaksakan diri bekerja keras mencari rezeki demi membiayai perjuangan hafalannya tanpa pernah mengeluh sedikit pun.
Pengorbanan tanpa suara inilah yang menjadi dorongan tak terlihat di setiap malam Alya saat mendengungkan ayat-ayat suci. Air mata haru senantiasa menetes mendoakan keselamatan kedua orang tua tercintanya.
Untuk menjaga hafalan suci tersebut, Alya menerapkan kedisiplinan yang amat tinggi dalam membagi waktu harian. Ia senantiasa melantunkan ayat hafalannya di dalam shalat, merutinkan tilawah tanpa terputus, dan memanfaatkan sepertiga malam terakhir.
Di saat dunia terlelap dalam buaian mimpi, Alya terbangun menghadap Sang Pencipta dalam keheningan malam yang sunyi. Waktu syahdu inilah yang ia jadikan momen terbaik untuk mentadaburi dan mengikat kembali hafalan Al-Qur’an di jiwanya. Keistiqamahan ini menjadi rahasia ketenangan hatinya di tengah himpitan zaman.
Menghadapi pergaulan era digital, Alya memiliki sudut pandang yang sangat matang dan bijaksana. Ia selalu berusaha menyertai Allah dalam setiap langkah kaki maupun ketukan jarinya di layar gawai. Bagi Alya, teknologi dan media sosial bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan kesempatan emas untuk dijadikan wasilah menuju rida Ilahi.
Ia memilih untuk memancarkan kebaikan di dunia maya ketimbang terseret dalam arus kelalaian. Prinsip ini membuatnya tetap teguh berdiri sebagai remaja yang berprinsip dan berkarakter mulia.
Dengan kelembutan hati, Alya menitipkan pesan penuh kasih bagi teman-teman yang ingin berubah menuju jalan agama, "Jangan pernah takut untuk berubah. Ketika kamu memulai satu langkah kecil menjadi lebih baik, percayalah, kamu sedang dipilih oleh Allah sebagai calon penghuni surga-Nya. Dan Allah pasti menuntun setiap jengkal langkahmu menuju jalan yang diridai-Nya."
Pesan tulus ini lahir dari kedalaman rasanya agar anak-anak muda tidak ragu menjemput hidayah. Bagi Alya, tidak ada kata terlambat untuk pulang ke pelukan kasih sayang Sang Maha Pencipta.
Meskipun Alya memiliki hobi yang terbilang sederhana yaitu membaca, cita-cita yang tertanam dalam dadanya sungguh melampaui megahnya dunia. Alya hanya memiliki satu cita-cita tertinggi dalam hidupnya: ia hanya ingin mati syahid di jalan Allah.
Setelah kelak menuntaskan perjuangannya sebagai seorang hafizhah, ia bertekad untuk berdiri di garda terdepan guna membangkitkan semangat hidup umat agar sesuai syariat Islam. Ia juga berpesan agar generasi muda tidak takut mulai menghafal Al-Qur’an, sebab dari sanalah mereka akan selalu dekat dengan Allah.
Perjalanan panjang seorang Alya Dinari adalah cermin bening yang menggetarkan jiwa siapa saja yang membacanya. Sekiranya Al-Qur’an bisa berbicara langsung di hadapannya, hanya satu bisikan tulus dari relung kalbu terdalam yang ingin Alya sampaikan, "Wahai Kalamullah, jadikanlah aku sebagai salah satu hamba Allah yang Engkau pilih, sebagai hamba yang pantas menerima syafaat dari Engkau kelak di hari akhir."
Sebuah rintihan jiwa yang teramat indah, mengagungkan, dan menginspirasi kita semua untuk kembali mencintai kitab suci-Nya.[BA]

Masyaallah Tabarakallah mbak yaya. Semoga jadi anak Sholehah dan Hafidzah yang mulia . Salam rindu dari Jambi ❤️
BalasHapus