Menyambut Bulan Solidaritas Palestina: Ketika Doa dan Pendakian Menyatu di Puncak Prau


PELITA MAJALENGKA
, Wonosobo — Embun pagi masih setia membasahi dedaunan di jalur pendakian Gunung Prau saat langkah-langkah para asatidz Shuffah Al-Jama'ah mulai menapaki tanah basah. 

Bukan sekadar mencari udara segar atau kepuasan pribadi di ketinggian, mereka membawa amanah yang jauh lebih besar: selembar bendera yang menjadi simbol harapan bagi saudara-saudara di tanah suci yang jauh di sana.

Rabu (9/9/2026), langit Wonosobo menyaksikan pemandangan yang menggetarkan. Di ketinggian 2.590 meter di atas permukaan laut, di puncak yang sering diselimuti kabut misterius itu, berkibar megah bendera Indonesia-Palestina. 

Sebuah pertemuan simbolis antara dua bangsa yang dipisahkan ribuan kilometer namun diikat oleh benang merah kepedulian dan persaudaraan sejati.

Di Antara Kabut dan Keyakinan

Ustadz Hasan, sang pemimpin rombongan, berdiri tegak di tengah hembusan angin pegunungan yang dingin menusuk tulang. Di tangannya, bendera merah-putih yang berpadu dengan hitam-putih-hijau-merah Palestina itu seolah berbicara tanpa kata. Matanya menerawang jauh, seakan menembus cakrawala menuju Baitul Maqdis yang selalu dirindukan.

"Ini bukan sekadar pengibaran bendera," ucapnya dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. "Ini adalah i'dadul 'asykari — persiapan pasukan. Bukan untuk perang fisik semata, tapi untuk membangun kesiapan hati, pikiran, dan raga dalam menyambut panggilan pembebasan."

Setiap hembusan nafas di ketinggian menjadi zikir. Setiap langkah mendaki menjadi doa. Setiap tetes keringat menjadi saksi bahwa solidaritas bukanlah sekadar kata-kata manis di media sosial atau seremoni tahunan yang usai seiring bergulirnya waktu.

Mendaki untuk Merenung, Berdiri untuk Berjuang

Ada yang berbeda dari pendakian kali ini. Bagi para asatidz, Gunung Prau bukanlah tujuan, melainkan sarana. Sebuah ruang sunyi di antara awan untuk merenungkan makna perjuangan yang sesungguhnya. Di sini, di ketinggian yang mendekatkan mereka pada langit, mereka belajar bahwa perjuangan membela yang tertindas adalah ibadah yang tak pernah usai.

Mereka melatih fisik, membiarkan otot-otot bekerja keras menaklukkan tanjakan terjal. Mereka mengasah mental, membiarkan jiwa-jiwa ditempa oleh udara dingin dan kelelahan. Mereka membangun ketahanan, karena mereka sadar: perjuangan membela Palestina adalah maraton, bukan lari cepat. Dan setiap Muslim punya peran — sekecil apa pun — dalam perlombaan kemanusiaan abadi ini.

"Ketika kita merasa lelah, ingatlah saudara-saudara kita di Gaza yang kelelahan tanpa henti. Ketika kita merasa dingin, ingatlah mereka yang kedinginan di tenda-tenda pengungsian. Ketika kita merasa haus, ingatlah mereka yang kekurangan air bersih berhari-hari," bisik salah satu asatidz di antara heningnya puncak, membuat bulu kuduk semua yang mendengar merinding.

Lebih dari Sekadar Simbol

Pengibaran bendera di puncak Gunung Prau adalah pengingat bahwa solidaritas adalah tindakan nyata. Bahwa mendukung Palestina bukanlah sekadar mengganti foto profil atau mengikuti demo sesaat. Ia adalah konsistensi yang membutuhkan pengorbanan — mungkin tidak serumit yang dialami saudara-saudara kita di sana, tapi cukup untuk mengusik zona nyaman kita.

Di puncak itu, di antara keindahan savana yang menghijau dan langit biru yang terbentang luas, para asatidz mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga: cinta pada tanah suci tak pernah pudar. Doa-doa yang dipanjatkan di ketinggian mungkin lebih cepat sampai ke langit. Atau mungkin, justru langit yang turun menghampiri mereka yang tulus berjuang.

Malam turun di Wonosobo. Bendera itu masih berkibar meski angin mulai bertiup lebih kencang. Para asatidz mulai turun, membawa pulang bukan hanya kenangan akan pemandangan indah dari puncak, tapi juga tekad baru yang lebih membara.

Mereka turun dengan satu kepastian: Bulan Solidaritas Palestina baru saja dimulai. Dan mereka, bersama dengan jutaan umat Islam di seluruh dunia, akan terus menyuarakan kebenaran — dari puncak gunung hingga ke pelosok desa, dari lisan hingga ke tindakan, dari doa hingga ke nyata.

Karena di sanalah, di antara hembusan angin pegunungan dan kibaran bendera yang gagah, terukir pesan abadi: Kami tidak akan pernah melupakanmu, Palestina. Kami tidak akan pernah berhenti berdoa untukmu. Dan kami tidak akan pernah lelah berjuang bersamamu — dengan cara kami sendiri, dari tempat kami berpijak, dengan segenap daya yang kami miliki.

--

Sebuah catatan kecil: Di saat kita membaca tulisan ini, entah di mana saudara-saudara kita di Palestina sedang berjuang melawan kepungan, kelaparan, atau kesedihan. Maka dari mana pun kita berada, mari tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang bisa kulakukan hari ini untuk mereka?" Karena setiap kebaikan kecil, jika dilakukan dengan ikhlas, akan sampai — entah melalui doa yang dipanjatkan di keheningan malam, atau melalui tindakan nyata yang menggetarkan dunia.[Rizki] 

Posting Komentar untuk "Menyambut Bulan Solidaritas Palestina: Ketika Doa dan Pendakian Menyatu di Puncak Prau"