Gina Nirma Mutmainnah: 30 Juz Telah Selesai, Perjuangan Belum Berakhir


PELITA MAJALENGKA -
Pernah ada hari ketika Gina ingin menyerah. Kini, dengan izin Allah, ia telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Tetapi justru setelah 30 juz selesai, Gina menyadari bahwa perjuangan sebenarnya belum berakhir.

Ada perjuangan yang tidak terlihat oleh banyak orang. Tidak ada tepuk tangan setiap kali satu halaman selesai dihafalkan. Tidak ada penghargaan setiap kali satu juz berhasil dituntaskan. Tidak ada yang mengetahui berapa kali seorang penghafal harus mengulang ayat yang sama karena hafalan tiba-tiba terasa hilang dari ingatan.

Yang terlihat hanyalah hasil akhirnya. Tiga puluh juz. Sementara di balik angka itu ada hari-hari panjang yang dipenuhi perjuangan, kesabaran, doa, rasa lelah, kejenuhan, dan keinginan untuk terus bertahan. Begitulah perjalanan Gina Nirma Mutmainnah.

Gadis asal Garut, Jawa Barat, kelahiran 4 September 2007 ini pernah menempuh pendidikan di Ma’had Nurul Bayan Litahfidzil Qur’an Majalengka. Di tempat inilah ia menjalani hari-harinya sebagai santri sekaligus penghafal Al-Qur’an.

Dan dengan izin Allah SWT, Gina kini telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya sebanyak 30 juz.

Bagi seorang penghafal Al-Qur’an, menyelesaikan 30 juz adalah sebuah pencapaian yang sangat berarti. Itulah salah satu puncak perjuangan yang ingin diraih oleh setiap orang yang menempuh jalan tahfidz.

Namun bagi Gina, 30 juz bukanlah garis akhir. Justru setelah hafalan selesai, ada amanah baru yang jauh lebih panjang: menjaganya. Karena menghafal Al-Qur’an membutuhkan perjuangan, tetapi mempertahankan hafalan membutuhkan istiqamah.

Ayat-ayat yang sudah dihafalkan harus terus dibaca. Harus terus diulang. Harus terus dimurojaah. Sebab hafalan yang tidak dijaga dapat melemah dan terlupakan. Karena itu, kini perhatian Gina bukan lagi hanya bagaimana menambah hafalan.

Ia mulai memikirkan bagaimana 30 juz yang telah dihafalnya tetap melekat dalam dada dan terjaga sepanjang hidupnya. Murojaah menjadi bagian penting dari kehidupannya.

Ia memahami bahwa menyelesaikan hafalan bukan berarti pekerjaan telah selesai. Ada tanggung jawab untuk terus menjaga apa yang telah Allah mudahkan untuk dihafalkan. Mungkin justru di sinilah bentuk perjuangan yang lebih sunyi dimulai.

Dari Santri, Menjadi Musyrifah

Belum lama berselang, Gina masih menjadi santri yang belajar, mengaji, menghafal, dan menerima arahan dari para guru. Kini, setelah menyelesaikan pendidikan dan hafalan 30 juznya, ia bersama beberapa teman yang juga baru saja lulus memilih untuk tetap tinggal dan mengabdikan diri di pesantren.

Selama satu tahun ke depan, Gina menjalani pengabdian sebagai musyrifah. Ia bersama teman-temannya membantu mendidik, membimbing, mengarahkan, dan membersamai para santriwati.

Ada sesuatu yang begitu indah dalam perjalanan ini. Dulu Gina yang dibimbing. Sekarang ia mulai belajar membimbing. Dulu ia yang diberi nasihat. Kini ia belajar memberikan nasihat.

Dulu ia yang membutuhkan seseorang untuk menguatkan ketika lelah. Kini ia belajar menjadi seseorang yang menguatkan santri lain. Dan mungkin, tanpa disadarinya, pengalaman sebagai santri sedang menjadi bekal paling berharga untuk menjalankan tugasnya sebagai musyrifah.

Ia tahu bagaimana rasanya menjadi santri. Ia tahu bagaimana rasanya ketika hafalan sulit masuk. Ia tahu bagaimana rasanya harus membagi waktu antara belajar, mengaji, menghafal, latihan, tugas, dan kegiatan pesantren.

Ia tahu bagaimana rasanya lelah. Ia bahkan tahu bagaimana rasanya ingin menyerah. Karena itu, ketika suatu hari ada santriwati yang sedang mengalami kesulitan, Gina tidak hanya memberikan nasihat dari teori. Ia bisa berbicara dari pengalaman.

Ia pernah berada di sana. Ia pernah merasakan perjuangan itu. Dan kini ia ingin membantu santri lain melewati jalan yang pernah ia tempuh. Menjadi musyrifah tentu bukan pekerjaan yang selalu mudah.

Ada banyak karakter santriwati yang harus dihadapi. Ada yang cepat memahami, ada yang membutuhkan waktu. Ada yang mudah bersemangat, ada yang harus berkali-kali dikuatkan. Ada yang terlihat baik-baik saja, tetapi mungkin sedang menyimpan masalah di dalam hati. Di situlah kesabaran Gina kembali diuji.

Pengabdian selama satu tahun ini bukan sekadar memberikan waktu untuk pesantren. Bagi Gina, ini juga menjadi kesempatan untuk belajar menjadi manusia yang lebih matang. Belajar memahami orang lain. Belajar bertanggung jawab. Belajar bersabar. Belajar menjadi teladan. Dan belajar bahwa ilmu akan terasa lebih bermakna ketika ia dibagikan kepada orang lain.

30 Juz dan Sebuah Amanah Panjang

Perjalanan Gina menuju 30 juz tentu tidak selalu mudah. Ia harus membagi waktu antara belajar, mengaji, hafalan, latihan, dan kegiatan pesantren. Ia harus menjaga konsistensi. Ada saat ketika tubuh terasa lelah dan pikiran jenuh.

Ada hari ketika hafalan terasa lancar. Ada hari ketika satu ayat saja terasa sulit. Ada saat ketika semangat begitu tinggi. Ada pula saat ketika keinginan untuk berhenti datang. Namun Gina terus berusaha. Ia terus mengulang. Terus belajar. Terus berdoa. 

Sampai akhirnya, dengan pertolongan Allah, 30 juz itu selesai. Tetapi kini ia memahami sesuatu yang mungkin baru benar-benar terasa setelah sampai di titik tersebut. Selesainya hafalan bukan berarti selesai berjuang. Justru ada amanah baru yang harus dijaga.

Tiga puluh juz yang telah tersimpan di dalam dada harus terus dipelihara dengan murojaah. Harus terus dibaca. Harus terus dihidupkan dalam keseharian. Sebab Al-Qur’an bukan sekadar target yang ingin diselesaikan.

Al-Qur’an adalah teman hidup. Ia tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus dijaga, dibaca, dipahami, dan sebisa mungkin diamalkan. Karena itu, Gina tidak ingin berhenti pada kalimat, “Saya sudah hafal 30 juz.”

Ia ingin melanjutkannya dengan kalimat yang lebih penting: “Saya harus terus menjaga 30 juz ini.” Itulah perjuangan berikutnya. Dan mungkin, perjuangan ini jauh lebih panjang karena tidak memiliki garis finish. Selama hidup, murojaah harus terus dilakukan. Hari ini. Besok. Lusa. Dan seterusnya.

Mimpi yang Ingin Dipersembahkan untuk Orang Tua

Di balik perjalanan Gina, ada dua sosok yang selalu menjadi sumber kekuatan: kedua orang tuanya. Ketika ditanya siapa yang paling mendukungnya, jawabannya adalah kedua orang tua. Dukungan mereka menjadi salah satu alasan Gina terus bertahan.

Dan ketika ditanya apa yang ingin ia berikan kepada orang tuanya, jawabannya begitu sederhana: kebahagiaan dan kebanggaan. Ia ingin menjadi anak yang sukses, berbakti, dan mampu membalas perjuangan serta pengorbanan orang tuanya.

Ada pula sebuah harapan yang begitu dalam di hatinya: ingin memberikan mahkota kepada kedua orang tuanya di akhirat kelak.     

Kini, setelah 30 juz berhasil diselesaikan dengan izin Allah, harapan itu tentu menjadi semakin bermakna. Namun Gina juga memahami bahwa perjalanan menuju cita-cita itu tidak berhenti pada satu pencapaian.

Ia masih ingin terus belajar. Ia masih ingin mengembangkan kemampuan. Ia masih ingin menjadi seseorang yang bermanfaat. Dan cita-citanya tetap sama: menjadi guru tahfidz Al-Qur’an.

Pengabdian sebagai musyrifah menjadi salah satu langkah untuk menuju ke sana. Ia sedang belajar mendidik. Sedang belajar membersamai. Sedang belajar memahami karakter santri. Sedang belajar menjadi teladan.

Mungkin belum sempurna. Tetapi setiap hari ia sedang bertumbuh. Dan kelak, pengalaman-pengalaman inilah yang mungkin akan menjadi bekal ketika ia benar-benar menjadi guru tahfidz. Ia akan memahami bahwa mendidik bukan hanya tentang menyampaikan hafalan.

Dibutuhkan kesabaran untuk menemani seseorang menghafal satu ayat. Dibutuhkan ketelatenan untuk mengulang berkali-kali. Dibutuhkan kasih sayang untuk menguatkan ketika seorang santri mulai kehilangan semangat.

Dan dibutuhkan keteladanan agar nasihat yang diberikan benar-benar memiliki kehidupan. Gina pernah menjadi santri yang membutuhkan semua itu. Kini ia mulai belajar memberikannya kepada orang lain.

Perjalanan yang Belum Selesai

Gina pernah meraih prestasi sebagai penyampai kultum terbaik di pondoknya. Ia pernah merasakan lelahnya membagi waktu. Ia pernah merasa bosan. Ia pernah ingin menyerah.

Tetapi hari ini ia berdiri di tempat yang berbeda. 30 juz telah selesai. Namun ia tidak ingin menjadikan angka itu sebagai alasan untuk berhenti. Justru 30 juz menjadi pengingat bahwa ada amanah besar yang harus dijaga.

Ada murojaah yang harus terus dilakukan. Ada Al-Qur’an yang harus terus dihidupkan. Ada santri-santri yang harus didampingi. Ada cita-cita menjadi guru tahfidz yang masih harus diperjuangkan. Dan ada orang tua yang ingin ia bahagiakan.

Kisah Gina mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar di mata manusia. Kadang keberhasilan adalah ketika seseorang mampu bertahan pada hari ketika ia ingin menyerah.

Kadang keberhasilan adalah ketika seseorang tetap membuka Al-Qur’an meskipun sedang lelah. Kadang keberhasilan adalah ketika seseorang menyelesaikan satu ayat setelah berkali-kali mengulang.

Dan kadang, keberhasilan yang paling indah adalah ketika ilmu yang kita miliki tidak hanya berhenti pada diri sendiri, tetapi mulai menjadi manfaat bagi orang lain.

Gina telah menyelesaikan 30 juz. Tetapi ia tahu, perjalanan bersama Al-Qur’an belum selesai. Bahkan mungkin, baru memasuki babak yang berbeda.

Jika dahulu ia berjuang untuk mendapatkan hafalan, kini ia berjuang untuk menjaganya. Jika dahulu ia belajar dari para guru, kini ia mulai belajar mendampingi santri. Jika dahulu ia menerima semangat dari orang lain, kini ia mulai belajar memberikan semangat.

Semuanya berjalan perlahan. Tidak perlu terburu-buru. Yang penting istiqamah. Sebab Al-Qur’an bukan perlombaan untuk siapa yang paling cepat selesai. Al-Qur’an adalah perjalanan seumur hidup. Dan Gina sedang menempuh perjalanan itu.

Dengan 30 juz di dalam dada. Dengan murojaah yang harus terus dijaga. Dengan pengabdian yang sedang dijalani. Dengan cita-cita yang masih menyala. Dan dengan doa kedua orang tua yang selalu ia bawa.

Semoga satu tahun pengabdian ini menjadi pengalaman yang menguatkan langkahnya. Semoga hafalan 30 juz yang telah Allah mudahkan untuknya tetap terjaga. Semoga kelak ia benar-benar menjadi guru tahfidz yang tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an di hati banyak santri.

Karena mungkin, inilah makna perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an: bukan sekadar berhasil menyelesaikan 30 juz, tetapi mampu menjadikan 30 juz itu teman hidup yang terus dijaga sampai akhir hayat.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika Gina menoleh ke belakang, ia akan menyadari bahwa semua lelah itu ternyata sedang mengantarkannya ke sebuah jalan yang indah.

Dari Garut ia datang membawa mimpi. Di pesantren ia belajar dan berjuang. Dengan izin Allah ia menyelesaikan 30 juz. Kini ia mengabdikan diri sebagai musyrifah.

Dan kelak, semoga ia menjadi guru tahfidz yang melanjutkan cahaya Al-Qur’an kepada generasi berikutnya. Perjalanannya belum selesai. Justru setelah 30 juz, ia sedang belajar satu perjuangan yang mungkin paling panjang: menjaga Al-Qur’an, hidup bersama Al-Qur’an, dan mengajarkan Al-Qur’an dengan penuh keikhlasan.[BA]

  

Posting Komentar untuk "Gina Nirma Mutmainnah: 30 Juz Telah Selesai, Perjuangan Belum Berakhir"