An-Nisa: Ketika Al-Qur’an Membela yang Lemah dan Menegakkan Keadilan


PELITA MAJALENGKA
- Surah An-Nisa adalah salah satu surah yang paling kuat berbicara tentang manusia. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya. Di dalamnya ada pembahasan tentang keluarga, perempuan, anak yatim, warisan, pernikahan, kepemimpinan, harta, perselisihan, keadilan, hingga kehidupan sosial. Seakan-akan Allah ingin mengingatkan kita bahwa kesalehan tidak cukup hanya terlihat di sajadah. Kesalehan harus terasa dalam cara kita memperlakukan orang yang lemah, menjaga amanah, menghormati hak orang lain, dan berdiri tegak di atas keadilan.

Surah ini dibuka dengan seruan yang sangat mendalam: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa.” (QS. An-Nisa: 1). Perhatikan, Allah tidak memulai dengan panggilan khusus kepada laki-laki, perempuan, orang kaya, orang miskin, atau kelompok tertentu. Allah memanggil seluruh manusia. Kita semua berasal dari satu asal. Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa lebih mulia hanya karena kekayaan, jabatan, keturunan, pendidikan, atau kekuasaan. Yang membedakan manusia di hadapan Allah bukan status sosialnya, melainkan ketakwaannya. Rasulullah juga menegaskan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amalnya.

Dari sinilah pesan besar Surah An-Nisa dimulai: jangan pernah membangun kehidupan dengan menindas manusia lain. Al-Qur’an memberikan perhatian luar biasa kepada mereka yang sering tidak memiliki kekuatan untuk membela dirinya sendiri. Anak yatim disebut berkali-kali. Perempuan mendapatkan perlindungan. Orang miskin diperhatikan. Ahli waris diberikan hak. Bahkan orang yang sedang berselisih diperintahkan untuk mencari penyelesaian yang adil. Ini menunjukkan bahwa ukuran peradaban sebuah masyarakat bukan hanya gedung-gedung tingginya, teknologi yang dikuasainya, atau kekayaan yang dikumpulkannya. Ukuran peradaban juga terlihat dari bagaimana masyarakat itu memperlakukan orang yang paling lemah.

Allah berfirman tentang anak yatim: “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu.” (QS. An-Nisa: 2). Ayat ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Karena yang diuji bukan hanya orang yang mengambil harta yatim secara terang-terangan, tetapi juga siapa pun yang menggunakan amanah untuk kepentingan dirinya sendiri. Harta yang dipercayakan kepada kita bukan milik kita. Jabatan yang diberikan kepada kita bukan milik kita. Ilmu yang Allah titipkan bukan milik kita. Bahkan manusia yang berada di bawah tanggung jawab kita bukanlah milik kita. Semuanya amanah.

Karena itu, Surah An-Nisa mengajarkan satu prinsip besar yang sering dilupakan: semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah. Rasulullah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang ayah akan ditanya tentang keluarganya. Seorang pemimpin akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang guru akan ditanya tentang muridnya. Seorang pengelola lembaga akan ditanya tentang amanah yang dikelolanya. Jangan sampai manusia merasa sedang menikmati jabatan, padahal sebenarnya sedang mengumpulkan pertanyaan untuk hari akhirat.

Salah satu pesan terkuat Surah An-Nisa adalah perintah untuk menegakkan keadilan, bahkan ketika keadilan itu terasa berat bagi diri sendiri. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135). Inilah keadilan yang luar biasa. Bukan keadilan yang hanya kita tuntut ketika kita dirugikan, tetapi keadilan yang tetap kita tegakkan ketika kepentingan kita sendiri berada di pihak yang salah.

Kadang manusia ingin keadilan ketika dirinya menjadi korban, tetapi lupa ketika dirinya menjadi pelaku. Kita marah ketika orang lain mengambil hak kita, tetapi merasa biasa ketika mengambil hak orang lain. Kita kecewa ketika orang lain berbohong kepada kita, tetapi mungkin pernah membenarkan kebohongan kecil ketika menguntungkan diri sendiri. Kita menuntut orang lain amanah, tetapi mungkin masih berkompromi dengan amanah yang kita abaikan. Surah An-Nisa datang untuk membersihkan standar ganda semacam itu. Keadilan bukan alat untuk mengalahkan orang lain. Keadilan adalah jalan untuk menundukkan ego kita di hadapan Allah.

Lebih jauh lagi, Allah memerintahkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58). Dua hal ini berjalan beriringan: amanah dan keadilan. Masyarakat akan rusak ketika amanah diberikan kepada orang yang tidak layak dan keputusan dibuat berdasarkan kepentingan, kedekatan, uang, atau tekanan. Sebaliknya, masyarakat akan kuat ketika orang-orang yang memegang tanggung jawab menyadari bahwa di atas dirinya ada pengawasan Allah.

Surah An-Nisa juga berbicara sangat serius tentang perempuan. Pada zaman ketika perempuan di banyak masyarakat diperlakukan sebagai objek dan kehilangan hak-haknya, Al-Qur’an datang membawa prinsip perlindungan, penghormatan, dan tanggung jawab. Allah menetapkan hak perempuan dalam harta warisan (QS. An-Nisa: 7), mengatur hubungan pernikahan, melarang perlakuan zalim, dan mengingatkan agar kehidupan rumah tangga dibangun dengan ma’ruf. Rasulullah pun bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi).

Maka ukuran kehebatan seorang laki-laki bukan hanya keberaniannya di luar rumah, tetapi juga kelembutannya kepada keluarganya. Bukan hanya bagaimana ia berbicara kepada orang lain, tetapi bagaimana ia memperlakukan istri dan anak-anaknya ketika tidak ada orang yang melihat. Sebab rumah adalah tempat paling jujur untuk mengukur akhlak. Seseorang bisa terlihat sangat santun di hadapan banyak manusia, tetapi jika keluarganya justru takut kepadanya, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Menariknya, Surah An-Nisa juga mengingatkan kita agar jangan terjebak dalam rasa iri terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada orang lain. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32). Ayat ini sangat relevan di zaman media sosial. Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain, rumah orang lain, kendaraan orang lain, bisnis orang lain, perjalanan orang lain, bahkan kebahagiaan yang mereka tampilkan. Akhirnya kita lupa menghitung nikmat sendiri.

Padahal kehidupan bukan perlombaan untuk menjadi seperti orang lain. Allah memberikan jalan yang berbeda kepada setiap manusia. Tugas kita bukan iri terhadap takdir orang lain, tetapi memaksimalkan amanah yang Allah berikan kepada kita. Jangan habiskan umur untuk membandingkan halaman hidup kita dengan halaman hidup orang lain. Bisa jadi apa yang kita lihat sebagai keberuntungan mereka adalah ujian yang tidak sanggup kita pikul. Dan bisa jadi sesuatu yang kita anggap kecil dalam hidup kita justru merupakan nikmat besar yang kelak kita rindukan ketika semuanya telah tiada.

Surah An-Nisa juga mengajarkan keberanian untuk membela orang-orang yang tertindas. Allah berfirman: “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim.’” (QS. An-Nisa: 75). Pesan ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ada kepedulian terhadap penderitaan manusia. Ada kewajiban moral untuk membela yang dizalimi sesuai kemampuan, ilmu, dan ketentuan syariat.

Di zaman ketika informasi bergerak begitu cepat, penderitaan manusia bisa kita saksikan hanya melalui layar. Namun jangan sampai penderitaan berubah menjadi sekadar tontonan. Jangan sampai hati kita begitu sering melihat kezaliman hingga akhirnya menjadi kebal. Rasulullah bersabda bahwa siapa yang melihat kemungkaran hendaknya mengubahnya dengan tangan jika mampu; jika tidak mampu dengan lisan; jika tidak mampu maka dengan hati, dan itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim). Artinya, seorang mukmin tidak boleh kehilangan kepedulian.

Tetapi membela keadilan juga tidak berarti kita boleh menjadi zalim kepada pihak lain. Inilah keseimbangan yang sangat penting. Allah berfirman dalam ayat lain: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8). Bahkan ketika kita membenci seseorang, keadilan tidak boleh ditinggalkan. Inilah akhlak Al-Qur’an: tegas terhadap kezaliman, tetapi tidak berubah menjadi zalim.

Pada akhirnya, Surah An-Nisa seperti mengajak kita melakukan satu perjalanan besar: dari kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial. Shalat harus melahirkan amanah. Puasa harus melahirkan pengendalian diri. Ilmu harus melahirkan kerendahan hati. Kekayaan harus melahirkan kepedulian. Kekuasaan harus melahirkan keadilan. Keluarga harus menjadi tempat tumbuhnya kasih sayang. Dan keberadaan kita di tengah masyarakat harus menjadi sebab hadirnya kebaikan.

Mungkin kita tidak memiliki kekuasaan besar. Tidak semua orang menjadi pejabat. Tidak semua orang memiliki harta melimpah. Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk menegakkan keadilan dalam lingkaran hidupnya. Seorang ayah bisa adil kepada anak-anaknya. Seorang guru bisa adil kepada muridnya. Seorang pemimpin bisa menjaga amanah. Seorang pedagang bisa jujur. Seorang jurnalis bisa menyampaikan berita dengan benar. Seorang pemilik usaha bisa memperlakukan pekerjanya dengan baik. Seorang tetangga bisa membantu tetangganya. Seorang muslim bisa berhenti menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

Inilah salah satu pesan terdalam Surah An-Nisa: jangan menjadi kuat hanya untuk memenangkan diri sendiri; jadilah kuat agar mampu melindungi yang lemah. Jangan mencari kedudukan hanya agar dihormati; jadikan kedudukan sebagai sarana melayani. Jangan mengejar harta hanya agar hidup nyaman; jadikan harta sebagai jalan menegakkan hak. Jangan mencari ilmu hanya agar dianggap pintar; jadikan ilmu sebagai cahaya yang menyelamatkan manusia.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba mendapatkan suara, tetapi tidak banyak yang mau mendengarkan suara orang lemah. Banyak orang ingin memiliki pengaruh, tetapi tidak semuanya ingin menggunakan pengaruh itu untuk kebaikan. Banyak orang ingin berada di atas, tetapi lupa bahwa semakin tinggi seseorang berdiri, semakin banyak manusia yang berada dalam tanggung jawabnya.

Karena itu, mari membaca Surah An-Nisa bukan hanya dengan mata, tetapi dengan hati. Ketika membaca tentang anak yatim, tanyakan: siapa yang selama ini membutuhkan kepedulianku? Ketika membaca tentang amanah, tanyakan: amanah apa yang mulai aku abaikan? Ketika membaca tentang keadilan, tanyakan: apakah aku sudah adil kepada orang yang tidak bisa membalas kebaikanku? Ketika membaca tentang perempuan dan keluarga, tanyakan: apakah keluargaku merasa aman bersamaku? Dan ketika membaca tentang orang-orang yang tertindas, tanyakan: apakah kehadiranku menjadi sebab datangnya pertolongan atau justru menambah luka?

Surah An-Nisa akhirnya membawa kita kepada sebuah kesadaran sederhana tetapi sangat dalam: Allah tidak hanya akan bertanya tentang seberapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan amanah yang diberikan-Nya. Sebab agama bukan sekadar hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga harus melahirkan hubungan horizontal yang penuh rahmah, amanah, dan keadilan.

Maka jadikan Surah An-Nisa sebagai pegangan hidup: jaga yang lemah, tunaikan amanah, hormati keluarga, jangan mengambil hak orang lain, lawan kezaliman dengan cara yang benar, dan tegakkan keadilan sekalipun terhadap diri sendiri. Sebab boleh jadi kita tidak mampu mengubah seluruh dunia. Tetapi kita selalu bisa memastikan bahwa di tempat kita berdiri, tidak ada orang yang menjadi lebih lemah hanya karena kehadiran kita.

Dan mungkin, di situlah salah satu bentuk keberhasilan seorang mukmin: ketika orang lain merasa aman karena dirinya ada, ketika yang lemah merasa terlindungi, ketika yang dizalimi menemukan pembelaan, dan ketika orang-orang di sekitarnya merasakan bahwa Islam benar-benar hadir membawa rahmat.[BA]

 

Posting Komentar untuk " An-Nisa: Ketika Al-Qur’an Membela yang Lemah dan Menegakkan Keadilan"