Dari Pesantren ke Lapangan Upacara, Enam Santri Shuffah Al-Jama’ah Kibarkan Merah Putih

Enam Santri Shuffah Al-Jama'ah menjadi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra)
PELITA MAJALENGKA, Rajapolah, Tasikmalaya — Pagi itu, lapangan Kecamatan Rajapolah, bukan sekadar menjadi tempat berlangsungnya upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Di tengah barisan yang berdiri tegap dan suasana khidmat, enam santri Pesantren Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya mengemban satu amanah penting: mengibarkan Sang Merah Putih.

Langkah mereka teratur. Tatapan tertuju ke depan. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh konsentrasi. Di balik ketegapan itu, tersimpan perjalanan panjang enam santri yang sebelumnya lebih akrab dengan suasana belajar, mengaji, menghafal Al-Qur’an, dan menjalani kehidupan disiplin di lingkungan pesantren.

Kini, mereka berdiri di tengah masyarakat sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya. Mereka adalah Muhammad Arifin dari kelas 12, serta M. Ardi Pratama, Faizin, Boburrohmot Muhammad Wildan, Syta Amelia, dan Rumaisha Salsabila yang merupakan santri kelas 11.

Mereka tidak serta-merta mendapatkan posisi tersebut. Ada proses seleksi yang harus dilewati, latihan fisik yang menguras tenaga, pembentukan mental, hingga latihan kedisiplinan dan kekompakan yang menuntut kesabaran.

Setiap langkah harus sama. Setiap gerakan harus tepat. Kesalahan kecil sekalipun dapat memengaruhi keseluruhan barisan. Dari proses itulah para santri belajar bahwa sebuah amanah tidak cukup hanya dengan keberanian, tetapi membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Ketika Sang Merah Putih akhirnya dikibarkan, seluruh latihan panjang itu menemukan maknanya. Enam santri Shuffah Al-Jama’ah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab hingga upacara berlangsung dengan khidmat dan pengibaran bendera berjalan dengan baik.

Namun, kisah mereka sesungguhnya bukan hanya tentang Paskibra. Lebih dari itu, kehadiran santri di tengah perayaan kemerdekaan menjadi gambaran bahwa pesantren memiliki ruang pengabdian yang luas di tengah kehidupan bangsa.

Pesantren bukan tempat yang hanya mengajarkan santri bagaimana membaca kitab atau menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Pesantren juga merupakan ruang pembentukan karakter, tempat anak-anak muda belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, keteguhan, kerja sama, dan bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Karena itu, ketika santri berdiri tegap membawa amanah sebagai Paskibra, yang tampak bukan hanya seragam dan barisan. Ada nilai pendidikan yang sedang dipertontonkan: ilmu agama dan kecintaan kepada bangsa tidak harus dipertentangkan, selama kecintaan kepada tanah air diwujudkan dalam bentuk kebaikan, pengabdian, tanggung jawab, dan kontribusi nyata.

Bagi Pesantren Shuffah Al-Jama’ah, keterlibatan enam santri tersebut menjadi kebanggaan sekaligus bagian dari proses pendidikan. Para santri didorong untuk tidak hanya menjadi pribadi yang baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu hadir dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.

Apresiasi pun diberikan kepada keenam santri atas dedikasi, perjuangan, dan kesungguhan mereka. Mereka telah menunjukkan bahwa kehidupan pesantren tidak menghalangi seorang santri untuk mengambil bagian dalam berbagai aktivitas sosial dan kebangsaan.

Justru dari lingkungan pesantren, diharapkan lahir generasi yang memiliki akar keagamaan kuat sekaligus memiliki kemampuan untuk berkontribusi di tengah masyarakat. Generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga bersedia turun tangan ketika bangsa dan masyarakat membutuhkan pengabdian.

Bagi enam santri tersebut, pengalaman menjadi Paskibra mungkin hanya berlangsung dalam sebuah rangkaian upacara. Namun nilai yang mereka bawa jauh lebih panjang daripada durasi upacara itu sendiri.

Mereka belajar bahwa setiap amanah memiliki tanggung jawab. Mereka belajar bahwa keberhasilan tidak lahir secara tiba-tiba. Dan mereka belajar bahwa menjadi generasi muda berarti bersiap mengambil peran, bukan sekadar menjadi penonton perjalanan zaman.

Dari pesantren mereka berangkat dengan bekal ilmu dan kedisiplinan. Di lapangan upacara mereka belajar tentang tanggung jawab dan pengabdian. Dan ketika Merah Putih berkibar di langit Rajapolah, keenam santri itu seolah sedang menyampaikan pesan sederhana: santri bukan hanya pewaris ilmu, tetapi juga calon pemimpin yang harus siap memberi manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.[Rizki]

 

Posting Komentar untuk "Dari Pesantren ke Lapangan Upacara, Enam Santri Shuffah Al-Jama’ah Kibarkan Merah Putih"