Langkah mereka teratur. Tatapan tertuju ke depan. Setiap gerakan dilakukan
dengan penuh konsentrasi. Di balik ketegapan itu, tersimpan perjalanan panjang
enam santri yang sebelumnya lebih akrab dengan suasana belajar, mengaji,
menghafal Al-Qur’an, dan menjalani kehidupan disiplin di lingkungan pesantren.
Kini, mereka berdiri di tengah masyarakat sebagai Pasukan Pengibar Bendera
(Paskibra) tingkat Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya. Mereka adalah
Muhammad Arifin dari kelas 12, serta M. Ardi Pratama, Faizin, Boburrohmot
Muhammad Wildan, Syta Amelia, dan Rumaisha Salsabila yang merupakan santri
kelas 11.
Mereka tidak serta-merta mendapatkan posisi tersebut. Ada proses seleksi
yang harus dilewati, latihan fisik yang menguras tenaga, pembentukan mental,
hingga latihan kedisiplinan dan kekompakan yang menuntut kesabaran.
Setiap langkah harus sama. Setiap gerakan harus tepat. Kesalahan kecil
sekalipun dapat memengaruhi keseluruhan barisan. Dari proses itulah para santri
belajar bahwa sebuah amanah tidak cukup hanya dengan keberanian, tetapi
membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesediaan untuk menempatkan
kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Ketika Sang Merah Putih akhirnya dikibarkan, seluruh latihan panjang itu
menemukan maknanya. Enam santri Shuffah Al-Jama’ah menjalankan tugas dengan
penuh tanggung jawab hingga upacara berlangsung dengan khidmat dan pengibaran
bendera berjalan dengan baik.
Namun, kisah mereka sesungguhnya bukan hanya tentang Paskibra. Lebih dari
itu, kehadiran santri di tengah perayaan kemerdekaan menjadi gambaran bahwa
pesantren memiliki ruang pengabdian yang luas di tengah kehidupan bangsa.
Pesantren bukan tempat yang hanya mengajarkan santri bagaimana membaca kitab
atau menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Pesantren juga merupakan ruang pembentukan
karakter, tempat anak-anak muda belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab,
kepemimpinan, keteguhan, kerja sama, dan bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat
bagi orang lain.
Karena itu, ketika santri berdiri tegap membawa amanah sebagai Paskibra,
yang tampak bukan hanya seragam dan barisan. Ada nilai pendidikan yang sedang
dipertontonkan: ilmu agama dan kecintaan kepada bangsa tidak harus dipertentangkan,
selama kecintaan kepada tanah air diwujudkan dalam bentuk kebaikan, pengabdian,
tanggung jawab, dan kontribusi nyata.
Bagi Pesantren Shuffah Al-Jama’ah, keterlibatan enam santri tersebut menjadi
kebanggaan sekaligus bagian dari proses pendidikan. Para santri didorong untuk
tidak hanya menjadi pribadi yang baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu
hadir dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.
Apresiasi pun diberikan kepada keenam santri atas dedikasi, perjuangan, dan
kesungguhan mereka. Mereka telah menunjukkan bahwa kehidupan pesantren tidak
menghalangi seorang santri untuk mengambil bagian dalam berbagai aktivitas
sosial dan kebangsaan.
Justru dari lingkungan pesantren, diharapkan lahir generasi yang memiliki
akar keagamaan kuat sekaligus memiliki kemampuan untuk berkontribusi di tengah
masyarakat. Generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi
juga bersedia turun tangan ketika bangsa dan masyarakat membutuhkan pengabdian.
Bagi enam santri tersebut, pengalaman menjadi Paskibra mungkin hanya
berlangsung dalam sebuah rangkaian upacara. Namun nilai yang mereka bawa jauh
lebih panjang daripada durasi upacara itu sendiri.
Mereka belajar bahwa setiap amanah memiliki tanggung jawab. Mereka belajar
bahwa keberhasilan tidak lahir secara tiba-tiba. Dan mereka belajar bahwa
menjadi generasi muda berarti bersiap mengambil peran, bukan sekadar menjadi
penonton perjalanan zaman.
Dari pesantren mereka berangkat dengan bekal ilmu dan kedisiplinan. Di
lapangan upacara mereka belajar tentang tanggung jawab dan pengabdian. Dan
ketika Merah Putih berkibar di langit Rajapolah, keenam santri itu seolah
sedang menyampaikan pesan sederhana: santri
bukan hanya pewaris ilmu, tetapi juga calon pemimpin yang harus siap memberi
manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.[Rizki]

Posting Komentar untuk "Dari Pesantren ke Lapangan Upacara, Enam Santri Shuffah Al-Jama’ah Kibarkan Merah Putih"