Fajriyah Nuraeni: 30 Juz Al-Qur’an, Sebuah Perjalanan Menjaga Cahaya


PELITA MAJALENGKA
- Tidak semua anak muda memilih jalan yang sama. Ketika sebagian seusianya mulai akrab dengan gemerlap dunia, Fajriyah Nuraeni justru memilih jalan yang menuntut kesabaran panjang: duduk bersama Al-Qur’an, mengulang ayat demi ayat, menjaga hafalan, dan berusaha menjadikan kitab Allah itu sebagai teman hidupnya. 

Gadis yang akrab disapa Jiyah ini kini telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Di balik pencapaian itu, ada perjalanan panjang yang tidak selalu mudah, penuh lelah, air mata, perjuangan, doa, dan berkali-kali usaha untuk bangkit ketika hati mulai merasa ingin menyerah.

Fajriyah Nuraeni lahir di Majalengka pada 7 Juni 2008. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, putri dari pasangan Abdul Fatah dan Masturoh. Ayahnya bekerja sebagai petani, sedangkan ibunya menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga sekaligus membantu pekerjaan bertani. 

Dari keluarga sederhana tersebut, Jiyah tumbuh dengan nilai-nilai kesabaran dan keteguhan yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya bersama Al-Qur’an.

Kedekatan Jiyah dengan Al-Qur’an tidak dimulai ketika ia beranjak dewasa. Sejak usia sekitar lima tahun, ia sudah mulai mengenal dan belajar bersama Al-Qur’an. Perlahan, kedekatan itu tumbuh menjadi kecintaan, kemudian berkembang menjadi tekad untuk menghafalkannya. Bertahun-tahun setelah memulai langkah pertamanya itu, hafalan yang dahulu dimulai dari ayat demi ayat kini telah sampai pada 30 juz.

Dari Usia Lima Tahun, Meniti Jalan Menjadi Hafizhah

Perjalanan tersebut ditempuh Jiyah di Pesantren Tahfidz Qur’an Nurul Bayan, yang beralamat di Blok Cintabakti RT 003 RW 004, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Lingkungan pesantren menjadi bagian penting dari prosesnya dalam belajar, menghafal, mengulang, dan menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. 

Di sana, ia tidak hanya belajar bagaimana menambah hafalan, tetapi juga belajar bahwa menjadi seorang hafizhah berarti memiliki tanggung jawab untuk menjaga apa yang telah Allah titipkan.

Bagi Jiyah, menjadi penghafal Al-Qur’an bukan sekadar tentang mendapatkan predikat hafizhah. Ada keyakinan yang sejak awal membuatnya tertarik menempuh jalan ini, bahwa para penghafal Al-Qur’an memiliki kemuliaan di sisi Allah dan kedudukan istimewa karena kedekatannya dengan kitab Allah. Keyakinan itulah yang terus ia pegang ketika proses menghafal terasa berat dan ketika dirinya harus berhadapan dengan berbagai ujian.

Sebab menghafal Al-Qur’an ternyata bukan perjalanan yang selalu indah. Ada hari-hari ketika hafalan terasa lancar dan hati begitu bersemangat, tetapi ada pula hari ketika tubuh lelah dan pikiran terasa penuh. 

Jiyah harus belajar membagi waktu antara hafalan, pelajaran, kehidupan bersama teman, dan berbagai persoalan yang datang silih berganti. Ketika orang tua sakit, ketika menghadapi masalah dengan teman, atau ketika pelajaran terasa berat, ia tetap harus berusaha menjaga hubungannya dengan Al-Qur’an.

Yang lebih berat lagi adalah menjaga hafalan setelah 30 juz berhasil diselesaikan. Menyelesaikan hafalan memang sebuah pencapaian, tetapi mempertahankannya adalah perjuangan yang tidak kalah besar. Setiap ayat yang telah dihafal harus terus diulang agar tidak hilang dari ingatan. 

Di tengah badai fitnah zaman yang semakin deras, pergaulan bebas, derasnya media sosial, dan berbagai godaan yang begitu dekat dengan kehidupan anak muda, menjaga hati sekaligus menjaga hafalan menjadi tantangan tersendiri.

Jiyah menyadari bahwa seorang anak muda bisa saja menghafal Al-Qur’an, tetapi ia juga harus belajar menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat merusak cahaya Al-Qur’an dalam kehidupannya. Karena itu, perjuangannya tidak berhenti setelah menyelesaikan 30 juz. Justru setelah itu, ada tugas yang lebih panjang: bagaimana agar ayat-ayat yang telah dihafal tidak hanya tersimpan dalam kepala, tetapi juga hadir dalam perilaku, pilihan hidup, pergaulan, dan cara memandang dunia.

Pernah Ingin Menyerah, Tetapi Memilih Bangkit

Dalam perjalanan panjang tersebut, kakak-kakaknya menjadi salah satu sumber inspirasi terbesar bagi Jiyah. Ia melihat bagaimana kakak-kakaknya pernah mengalami masa sulit, pernah jatuh, tetapi kemudian bangkit kembali dan terus berusaha sampai akhirnya mampu menjadi kebanggaan kedua orang tua. Pengalaman itu mengajarkan kepadanya bahwa tidak ada manusia yang selalu kuat. Yang membedakan adalah kemauan untuk bangkit setiap kali terjatuh.

Jiyah sendiri mengakui bahwa dirinya pernah merasa ingin menyerah. Ada masa ketika rasa lelah datang bersamaan dengan berbagai persoalan sehingga membuat hati terasa berat. Namun, nasihat kedua orang tua dan para asatidz serta asatidzah menjadi pengingat agar ia tidak berhenti. Bahkan dalam keadaan tertentu, ia berusaha menasihati dirinya sendiri, mengingat kembali tujuan awalnya, kemudian perlahan mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.

Salah satu ayat yang sangat berkesan baginya adalah firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 87, terutama pesan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ayat tersebut terasa begitu dekat dengan perjalanan hidupnya sebagai penghafal Al-Qur’an. Ketika hafalan terasa sulit, ketika semangat menurun, dan ketika berbagai persoalan datang bersamaan, ia belajar bahwa seorang mukmin tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah. Selama masih ada Allah, selalu ada alasan untuk bangkit.

Setelah semakin dekat dengan Al-Qur’an, perubahan terbesar yang dirasakan Jiyah adalah tumbuhnya rasa kedekatan kepada Allah. Ia merasa hidupnya lebih terarah dan banyak belajar untuk bersyukur atas berbagai kemudahan yang Allah berikan kepada dirinya dan keluarganya. Ia memahami bahwa kehidupan tetap akan memiliki ujian, tetapi Al-Qur’an membuat seseorang memiliki pegangan ketika menghadapi ujian tersebut. Karena itu, ia ingin hafalannya menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar sesuatu yang pernah diselesaikan.

Di balik perjalanan panjang itu, ada sosok ayah dan ibu yang tidak pernah lelah memberikan dukungan. Abdul Fatah dan Masturoh mungkin bukan orang yang hidup dalam kemewahan, tetapi mereka berusaha memberikan apa yang mereka mampu untuk anak-anaknya. Bahkan ketika mereka sendiri mendapatkan ujian dari Allah, mereka tetap berusaha menafkahi, membimbing, dan menasihati anak-anaknya. Bagi Jiyah, itulah salah satu bentuk pengorbanan orang tua yang paling dalam dan tidak akan mudah dilupakan.

Untuk menjaga hafalan 30 juz, Jiyah berusaha membuat target dan jadwal harian. Ia melakukan murojaah secara mandiri, bersama teman atau partner murojaah, dan berusaha menghadirkan hafalannya dalam shalat. Baginya, murojaah bukan hanya kegiatan mengulang hafalan, tetapi juga cara untuk terus memperbarui hubungan dengan Al-Qur’an. Hafalan yang telah selesai tetap membutuhkan perjuangan setiap hari.

Pesan Jiyah untuk Generasi Muda

Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin dekat dengan HP, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan digital, Jiyah memilih pendekatan yang lembut. Ia tidak merasa dirinya lebih baik dari orang lain hanya karena telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an. 

Ketika melihat teman yang sedang berada dalam pergaulan kurang baik, ia lebih memilih menasihati perlahan dan mendoakannya. Sebab menurutnya, perubahan seseorang tidak selalu bisa dipaksakan, tetapi bisa dimulai dari satu nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang.

Kepada teman-teman seusianya yang masih terjebak dalam pacaran, terlalu larut dengan HP dan media sosial, atau merasa sudah terlalu jauh dari agama, Jiyah ingin mengingatkan bahwa kenikmatan dunia tidaklah kekal. 

Apa yang dilakukan manusia di dunia pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, sebelum waktu benar-benar habis, generasi muda harus mulai mempersiapkan kehidupan yang sebenarnya dengan memperbanyak amal, menjauhi maksiat, menjaga pergaulan, dan berbakti kepada kedua orang tua.

Pesannya bukan agar anak muda menjadi sempurna dalam sekejap. Ia justru mengajak teman-temannya untuk memulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan hari ini. Kurangi sedikit demi sedikit hal yang menjauhkan dari Allah, kemudian tambah perlahan hal-hal yang mendekatkan kepada-Nya. 

Tinggalkan kebiasaan buruk dengan sungguh-sungguh, cari lingkungan yang baik, dekatkan diri dengan Al-Qur’an, dan jangan malu untuk kembali kepada Allah meskipun sebelumnya pernah jatuh berkali-kali.

Jiyah sendiri memiliki cita-cita yang cukup besar. Ia ingin menjadi seorang daiyah yang dapat berdakwah ke berbagai penjuru dunia, sekaligus menjadi pengusaha yang sukses. Ia juga tertarik mempelajari bidang kesehatan, termasuk pijat dan bekam, karena ingin memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk membantu orang lain. Baginya, cita-cita tersebut bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan jalan agar suatu hari dirinya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat.

Ia ingin terus memperbaiki kehidupan orang lain sambil tidak pernah berhenti memperbaiki dirinya sendiri. Ia ingin Al-Qur’an yang telah dihafalnya menjadi sumber kekuatan untuk berdakwah, bekerja, belajar, melayani, dan menjalani kehidupan. 

Sebab baginya, ukuran keberhasilan seorang penghafal Al-Qur’an bukan hanya berapa banyak juz yang tersimpan dalam ingatan, tetapi sejauh mana Al-Qur’an mampu membentuk dirinya menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermanfaat.

Kepada anak-anak muda yang merasa tidak mampu menghafal Al-Qur’an, Jiyah ingin mengatakan bahwa tidak ada kata terlambat. Jangan menunggu menjadi baik untuk mulai mendekati Al-Qur’an, tetapi dekatilah Al-Qur’an agar Allah membimbing kita menjadi lebih baik. 

Jangan pula merasa terlalu jauh dari Allah, karena jalan untuk kembali selalu terbuka selama seseorang masih memiliki kemauan untuk kembali. Bahkan orang yang telah berusia lanjut pun masih bisa memulai, sebab menghafal Al-Qur’an memiliki tahapan dan membutuhkan proses.

Perjalanan Jiyah juga mengajarkan bahwa kemampuan bukan selalu datang sebelum seseorang memulai. Sering kali kemampuan justru tumbuh setelah seseorang berani memulai dan terus berusaha. Satu ayat hari ini mungkin terasa sedikit, tetapi jika dijaga dengan istiqamah, ia akan menjadi bagian dari perjalanan panjang. Yang terpenting bukan seberapa cepat seseorang sampai, melainkan apakah ia mau terus berjalan bersama Al-Qur’an.

Dan jika suatu hari Al-Qur’an dapat berbicara kepadanya, Jiyah ingin mengungkapkan rasa terima kasih yang sangat dalam. “Wahai Kitab Allah, terima kasih telah menjadi petunjuk hidupku; jika tidak ada engkau, entah bagaimana hidupku.” Ia ingin Al-Qur’an menjadi saksi kebaikan dalam hidupnya dan berharap kelak mendapatkan syafaat Al-Qur’an pada hari ketika manusia sangat membutuhkan pertolongan Allah. Baginya, Al-Qur’an telah menjadi bagian yang begitu berarti dalam perjalanan hidupnya.

Kini, 30 juz telah berada dalam hafalannya. Tetapi perjalanan Jiyah sesungguhnya belum selesai. Justru setelah 30 juz, ada amanah yang harus dijaga: menjaga hafalan, menjaga akhlak, menjaga hati, menjaga pergaulan, dan menjaga agar Al-Qur’an tetap hidup dalam dirinya. 

Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak godaan kepada generasi muda, ia ingin membuktikan bahwa anak muda juga bisa memilih jalan yang berbeda—jalan yang mungkin lebih berat, tetapi penuh harapan.

Fajriyah Nuraeni adalah gambaran sederhana tentang seorang anak muda yang sedang belajar menjaga cahaya. Ia lahir dari keluarga petani, tumbuh dalam kesederhanaan, belajar dari jatuh dan bangkit, kemudian menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. 

Namun pencapaian itu bukan alasan baginya untuk berhenti. Sebaliknya, 30 juz menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih panjang: menjadikan Al-Qur’an bukan hanya sesuatu yang dihafal oleh lisan dan pikiran, tetapi sesuatu yang hidup dalam hati, akhlak, dan seluruh perjalanan kehidupannya.[BA]

Posting Komentar untuk "Fajriyah Nuraeni: 30 Juz Al-Qur’an, Sebuah Perjalanan Menjaga Cahaya"