PELITA MAJALENGKA - Di balik deretan huruf Arab yang dieja perlahan dalam dinginnya subuh, ada impian besar seorang gadis muda asal Banjarnegara bernama Muflihatun Nisa. Nisa, begitu ia biasa disapa, bukanlah sosok yang mengejar kemilau panggung kompetisi, sanjungan manusia, atau piala berbahan logam yang dapat memudar dimakan waktu.
Bagi santriwati
yang baru saja menuntaskan masa pendidikannya di jenjang Madrasah Aliyah ini,
mahakarya terhebat dalam hidupnya adalah mengukir 30 juz ayat-ayat suci
Al-Qur'an tepat di dalam sanubarinya.
Sebuah perjalanan spiritual yang panjang, sunyi, dan penuh pengorbanan selama enam tahun di Ma'had Tahfidz Qur'an Nurul Bayan, yang bertempat di Desa Mekarwangi, Blok Cintabakti, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Tempat ini bukan sekadar pondok pesantren untuk ia menuntut ilmu, melainkan kawah candradimuka yang tak hanya menggembleng fisiknya, tetapi juga mendidik dan menempa jiwanya hingga menjadi begitu tangguh.
Di balik keteguhan dan keistiqomahan Nisa dalam menjaga hafalan, ada fondasi ketulusan yang tertanam kuat dari rumah sederhananya di Jawa Tengah.
Orang tua Nisa hidup
dalam kesederhanaan ekonomi yang jauh dari kemewahan, namun kasih sayang,
antusiasme, serta tekad mereka sangat luar biasa.
Dalam segala keterbatasan hidup yang membalut hari-hari mereka, kedua orang tuanya tak pernah surut memberikan dukungan moral, moril, dan doa agar Nisa terus memeluk erat Al-Qur'an.
Kebaktian Nisa kepada orang tuanya pun menjadi akar dari
cita-cita mulia yang selalu ia langitkan.
Nisa menyimpan satu kerinduan terbesar yang membakar dadanya: ia ingin memakaikan jubah kemuliaan dan mahkota cahaya yang berkilauan untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak.
Kerinduan ini berlandaskan sebuah janji suci dari Rasulullah SAW
dalam hadits riwayat Abu Daud: "Siapa yang membaca Al-Qur'an,
mempelajari, dan mengamalkannya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan
mahkota dari cahaya pada hari kiamat, yang cahayanya lebih indah daripada
cahaya matahari yang masuk ke rumah-rumah di dunia."
Bagi Nisa, perjalanan menghafal Al-Qur'an bukanlah sekadar tentang ketajaman ingatan, kehebatan daya pikir, atau kecepatan menuntaskan juz demi juz.
Lebih dari itu,
ini adalah perjuangan tiada henti untuk menundukkan ego, mengikis rasa malas,
dan merawat keistiqomahan di tengah gelombang kejenuhan.
Hari-harinya di pesantren dirajai oleh rutinitas dan disiplin yang sangat ketat. Fajar yang masih berembun selalu menyapanya saat ia bersiap menyetorkan hafalan ayat-ayat baru kepada sang ustazah.
Ketika siang berganti, waktunya ia curahkan untuk
mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu syariat (ulumusy syar'iyyah). Lalu
saat malam tiba dan suasana pesantren mulai hening, Nisa duduk bersila
memuraja'ah—mengulang, menjaga, dan menguji kembali hafalan yang telah terukir
di memorinya.
Nisa sangat menyadari bahwa jalan menuju sanubari yang dipenuhi Al-Qur'an tidak pernah dihamparkan permadani merah yang mulus. Bagi Nisa, setiap suka dan duka dalam menghafal Al-Qur'an adalah sebuah pengorbanan jiwa yang memang harus dilalui dengan keikhlasan dan lapang dada.
Ada masa-masa ketika ayat-ayat yang dihafal
terasa amat sulit menancap, air mata menetes karena rasa lelah yang menumpuk,
dan ujian kejenuhan menghampiri tanpa diundang.
"Tidak ada
penghafal Al-Qur'an yang dalam proses menghafalnya semua terasa mudah. Pasti
ada saja ujian-ujian datang yang terkadang membuat hati ini ingin
berhenti," ungkap Nisa dengan nada suara yang lirih, namun memancarkan
keteguhan hati yang amat dalam.
Namun, di setiap momen ragu, lelah, dan air mata yang jatuh membasahi sajadah, Nisa selalu memegang teguh sabda Nabi Muhammad SAW yang menjadi lentera penerang di kala hatinya redup.
Ia sangat meyakini keutamaan agung Al-Qur'an sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam Bukhari: "Khairukum man ta'allamal Qur'ana wa 'allamahu" yang artinya, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."
Sabda mulia inilah yang terus menyulut api semangat di dalam jiwanya ketika
langkah terasa berat dan godaan untuk menyerah melambaikan tangan.
Di balik tembok Ma'had Tahfidz Qur'an Nurul Bayan, Nisa juga menemukan rumah kedua yang hangat. Kebersamaan bersama teman-teman santriwati seperjuangan menjadi penawar penat yang paling ampuh.
Momen-momen saling menyimak hafalan di sudut gazebo, menyantap hidangan sederhana bersama dalam satu nampan,
berbagi tugas piket, membantu teman yang belum paham pelajaran, hingga saling
menguatkan saat merindukan rumah, adalah kenangan manis yang tak tertilai
harganya.
Dari kehidupan pesantren, Nisa memetik pelajaran terbesar dalam hidupnya: bahwa ilmu bukan hanya soal teori di atas kertas, melainkan tentang bagaimana merawat kesabaran, menahan ego, menerima teguran dengan lapang dada, serta bersikap ikhlas atas segala takdir Allah.
“Itulah di antara pelajaran sangat penting yang saya
dapatkan di pesantren,” katanya.
Masa Pengabdian
Kini, setelah resmi menyelesaikan masa mondoknya, Nisa tidak lantas melenggang pergi meninggalkan pondok yang telah membesarkannya. Ia memilih untuk mendedikasikan waktunya dengan menjalankan kewajiban pengabdian di pondok sebagai seorang musyrifah.
Dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan rasa tanggung jawab, Nisa kini berdiri
membantu para ustazah menyimak dan menerima setoran hafalan dari adik-adik
santriwati lainnya.
Peran baru ini ia jalani sebagai langkah awal untuk mewujudkan cita-cita besarnya: menjadi seorang guru tahfidz sejati yang mendedikasikan hidupnya untuk mencetak generasi pencinta Al-Qur'an.
Itulah sebuah jalan pengabdian yang Insya Allah akan menjadi aliran
pahala dan amal jariyah yang tak akan pernah putus meski jasad telah menyatu
dengan tanah.
Banyak orang yang memandang Nisa hari ini mungkin hanya melihat senyum bahagianya dan keberhasilannya memeluk 30 juz Al-Qur'an. Namun, di balik keindahan hasil itu, ada deretan perjuangan sunyi yang tak diketahui oleh banyak orang: tangis dalam sujud sepertiga malam.
Perjuangan fisik melawan rasa kantuk yang berat, derita
saat hafalan tersendat, serta yang paling utama—aliran doa tulus yang terus
dipanjatkan tanpa putus oleh kedua orang tuanya di kampung halaman. Doa orang
tua itulah yang menjadi angin di bawah kepak sayap perjuangan Nisa selama ini.
Menutup lembar
pengalamannya, Nisa menyampaikan sebuah pesan hangat yang teramat menyentuh dan
menguatkan bagi seluruh santriwati serta siapa saja yang sedang berjuang meniti
jalan Al-Qur'an: "Kita sebagai santriwati sangat wajar jika pernah
merasakan capek dan susah. Gak apa-apa melangkah pelan-pelan, gak harus selalu
terlihat kuat di hadapan semua orang, tapi jangan pernah menyerah. Tetaplah
menghafal dan jagalah adab, karena setiap peluh
dan usaha yang kita lakukan, pasti ada balasan yang sempurna dari Allah
SWT."[BA]

Posting Komentar untuk "Air Mata, Pengabdian, dan 30 Juz di Dada: Perjalanan Jiwa Muflihatun Nisa Melangitkan Doa Orang Tua"