PELITA MAJALENGKA, Tasikmalaya - Berikut saya olah menjadi berita feature dengan gaya jurnalistik yang lebih hidup, mengalir, dan tetap setia pada materi tausiyah yang disampaikan Ustadz Fajar.
Perjuangan membebaskan Baitul Maqdis ternyata tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik. Ada penjajahan yang jauh lebih dalam dan sering kali tidak disadari: penjajahan terhadap pengetahuan, akal, dan cara berpikir umat Islam.
Pesan itu mengemuka dalam tausiyah Ustadz Fajar di Masjid Aayatul Muthmainnah, Pondok Pesantren Shuffah Al-Jama’ah, Jumat, 22 Rabiul Awal 1458 H atau 4 September 2026. Tausiyah tersebut diikuti sekitar 25 asatidz dan asatidzah Pondok Pesantren Shuffah Al-Jama’ah.
Dengan mengangkat persoalan Baitul Maqdis, Ustadz Fajar mengajak para pengajar melihat bahwa persoalan Al-Aqsha bukan semata persoalan Palestina. Lebih jauh, persoalan tersebut berkaitan dengan kondisi intelektual umat Islam. Ketika umat kehilangan pengetahuan tentang Baitul Maqdis, kehilangan cara berpikir yang benar, lalu menjadi apatis terhadap persoalan umat, maka pada saat itulah penjajahan telah masuk jauh ke dalam kehidupan umat.
Tiga Malapetaka yang Melemahkan Umat
Ustadz Fajar menjelaskan setidaknya ada tiga tingkatan malapetaka pemikiran yang menyebabkan umat Islam semakin jauh dari kepedulian terhadap Baitul Maqdis.
Pertama, Nakbah Ma'rifi atau penjajahan pengetahuan. Umat Islam perlahan kehilangan budaya keilmuan tentang Baitul Maqdis. Sejarah, kedudukan, keutamaan, serta persoalan Al-Aqsha tidak lagi menjadi bagian penting dari pembicaraan sehari-hari umat.
Padahal, menurut Ustadz Fajar, generasi para sahabat menunjukkan bagaimana persoalan umat menjadi bagian dari perhatian mereka. Karena itu, pembebasan pada tingkat pengetahuan harus dimulai dengan menghidupkan kembali tsaqofah Baitul Maqdis. Al-Aqsha harus kembali dikenal, dibicarakan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kedua, penjajahan akal. Ketika pengetahuan umat mulai lemah, maka cara pandang pun mudah dipengaruhi. Umat akhirnya dapat melihat berbagai persoalan berdasarkan standar dan kerangka berpikir yang bukan lahir dari nilai-nilai Islam.
Pada tahap ini, persoalannya bukan lagi sekadar tidak tahu, tetapi cara memahami sesuatu sudah ikut berubah. Apa yang dianggap penting, apa yang dianggap tidak penting, bahkan bagaimana umat memandang persoalan Baitul Maqdis, dapat dibentuk oleh cara berpikir yang datang dari luar nilai-nilai Islam.
Ketiga, dan yang paling berbahaya, adalah perbudakan pemikiran. Pada kondisi ini, umat bukan hanya kehilangan pengetahuan dan cara berpikir, tetapi mulai kehilangan kepedulian.
Muncullah berbagai pertanyaan yang sekilas terdengar logis, tetapi sesungguhnya menunjukkan lahirnya sikap apatis terhadap persoalan umat. Misalnya, “Di sini sudah banyak masjid, untuk apa memikirkan Masjidil Aqsha?” atau, “Di sekitar kita masih banyak yang membutuhkan, untuk apa membantu Palestina?”
Pertanyaan semacam itu, menurut Ustadz Fajar, menunjukkan betapa persoalan Baitul Maqdis dapat semakin jauh dari kesadaran umat ketika pola pikir telah terjajah.
Membebaskan Pikiran Sebelum Membebaskan Negeri
Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Ustadz Fajar menekankan pentingnya I’dad Ilmu, yakni mempersiapkan umat dengan kekuatan ilmu. Menurutnya, perjuangan tidak cukup hanya dengan semangat. Perjuangan membutuhkan ilmu, kesadaran, kemampuan membaca keadaan, dan kemampuan membangun narasi kebenaran.
Kunci itu, menurutnya, telah diberikan Allah dalam wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ, yakni QS. Al-'Alaq ayat 1–5.
Ayat tersebut mengandung pesan besar tentang tiga pilar yang harus dibangun umat: membaca, berpikir, dan menulis.
Membaca, berarti membangun kembali budaya literasi umat. Umat perlu membaca sejarah Baitul Maqdis, memahami kedudukannya, mempelajari berbagai persoalan yang berkaitan dengannya, serta memahami bagaimana Islam memandang persoalan tersebut.
Berpikir, berarti tidak berhenti pada aktivitas membaca. Pengetahuan harus diolah menjadi kesadaran. Umat perlu mampu menganalisis keadaan, memahami persoalan secara kritis, serta menyusun langkah dan strategi yang tepat.
Sedangkan menulis, berarti menyebarkan pengetahuan dan kebenaran. Apa yang diketahui dan dipahami tidak boleh berhenti dalam pikiran pribadi. Ia perlu didokumentasikan, diajarkan, dan disebarkan sehingga menjadi pengetahuan bersama.
Dari Masjid, Dari Para Guru, Untuk Generasi Berikutnya
Pesan tausiyah tersebut menjadi semakin penting karena disampaikan kepada para asatidz dan asatidzah, orang-orang yang setiap hari berhadapan dengan generasi muda.
Para guru bukan hanya menyampaikan pelajaran di ruang kelas. Mereka juga memiliki peran dalam membentuk cara pandang para santri terhadap kehidupan, umat Islam, dan persoalan dunia.
Karena itu, menanamkan kesadaran tentang Baitul Maqdis kepada para pengajar berarti menyiapkan mata rantai pengetahuan yang akan terus diwariskan. Dari guru kepada santri, dari santri kepada masyarakat, dan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Baitul Maqdis mungkin belum terbebaskan secara nyata. Namun, pembebasan dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat: membebaskan pengetahuan umat, membebaskan cara berpikir umat, dan membebaskan hati umat dari sikap apatis.
Sebab, sebelum sebuah negeri terbebas dari penjajahan, barangkali ada sesuatu yang terlebih dahulu harus dibebaskan: pikiran manusia yang telah lama dikungkung oleh ketidaktahuan.
Dan dari situlah I’dad Ilmu menjadi penting. Membaca untuk mengetahui. Berpikir untuk memahami. Menulis untuk mewariskan.(Rizki)

Posting Komentar untuk "Ketika Baitul Maqdis Belum Merdeka, Umat Justru Terjajah dalam Pikiran"