Di Balik Sarung dan Merah Putih, Santri Merawat Makna Kemerdekaan

Santri Ponpes Shuffah Al-Jama'ah Tasikmalaya (Foto: Rizki)

PELITA MAJALENGKA - Tasikmalaya — Pagi itu, halaman Pondok Pesantren Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya tidak seperti biasanya. Ratusan santri memenuhi halaman pesantren dengan wajah penuh kegembiraan. Merah dan putih tampak di mana-mana, berpadu dengan sarung dan peci yang menjadi identitas keseharian mereka.

Suara tepuk tangan pecah. Teriakan penyemangat bersahutan. Sesekali terdengar gelak tawa ketika seorang santri harus berlari dengan sarung yang membelit langkahnya. Hari itu, pesantren seolah berubah menjadi panggung kecil tempat para santri merayakan kemerdekaan dengan cara mereka sendiri.

Namun, di balik riuh perlombaan dan keceriaan itu, ada pesan yang jauh lebih dalam: kemerdekaan bukan sekadar upacara, bendera, atau perayaan setiap bulan Agustus. Kemerdekaan adalah amanah yang harus diisi dengan ilmu, akhlak, persaudaraan, dan pengabdian kepada negeri.

Mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pesantren Shuffah Al-Jama’ah menjadi momentum bagi para santri untuk mengenang kembali sejarah perjuangan bangsa sekaligus merenungkan tanggung jawab generasi hari ini.

Sejak pagi, para santri telah bersiap mengikuti berbagai perlombaan. Atribut merah-putih mereka kenakan dengan penuh kebanggaan. Sarung yang biasanya menjadi pakaian untuk mengaji dan beribadah, hari itu justru menjadi bagian dari keseruan perlombaan.

Dalam lomba bola sarung, misalnya, para santri dituntut tetap gesit meski ruang gerak mereka terbatas. Tawa pun tak tertahankan ketika langkah yang semula ingin cepat justru berubah menjadi gerakan lucu karena terhalang sarung.

Tetapi dari permainan sederhana itu, mereka belajar sesuatu yang tidak sederhana: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Dengan kekompakan dan semangat, sesuatu yang tampak sulit bisa ditaklukkan bersama.

Ada pula lomba baca teks Proklamasi. Di sinilah suasana berubah lebih serius. Para santri tidak sekadar diminta membaca rangkaian kalimat bersejarah, tetapi juga berusaha memahami makna kemerdekaan dari perspektif keilmuan dan kehidupan pesantren.

Proklamasi yang selama ini mungkin hanya dibaca setiap 17 Agustus, kembali dihadirkan sebagai pengingat bahwa kemerdekaan bangsa lahir dari perjuangan panjang. Di dalamnya ada pengorbanan, keberanian, air mata, doa, dan perjuangan para pendahulu yang tidak ingin generasi setelah mereka hidup dalam belenggu penjajahan.

Semangat itu kembali terasa dalam lomba estafet karet dan balon. Para santri harus bekerja sama, saling percaya, dan menjaga ritme agar kelompok mereka dapat menyelesaikan perlombaan. Tidak ada yang bisa menang sendirian.

Di tengah permainan itu, mereka belajar tentang arti solidaritas. Bahwa perjalanan sebuah bangsa pun demikian: Indonesia tidak mungkin dibangun oleh satu orang, satu kelompok, atau satu generasi saja. Ia membutuhkan kebersamaan, saling membantu, dan kesediaan untuk mendahulukan kepentingan yang lebih besar.

Sementara itu, fashion show menghadirkan suasana berbeda. Para santri menampilkan pakaian bernuansa khas pesantren yang dipadukan dengan semangat perjuangan nasional. Ada keceriaan, kreativitas, dan kebanggaan menjadi santri.

Di situlah terlihat bahwa menjadi santri dan mencintai Indonesia bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Santri dapat mencintai negeri tanpa kehilangan identitas keislamannya. Bahkan, nilai agama justru dapat menjadi bekal untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ketua Pelaksana Acara, AQSO Khairul Rizki Latif, mengatakan tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” sengaja diangkat untuk mengingatkan kembali besarnya peran kiai dan santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa.

Menurutnya, kemerdekaan bagi santri hari ini tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan harus diwujudkan melalui kebebasan menuntut ilmu, berkreasi, berkarya, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.

Pesan itu terasa penting di tengah zaman ketika tantangan generasi muda semakin kompleks. Penjajahan mungkin tidak lagi datang dengan senjata dan kapal perang, tetapi bisa hadir melalui kebodohan, kemalasan, kerusakan moral, penyalahgunaan teknologi, dan hilangnya cita-cita besar dalam diri generasi muda.

Karena itu, halaman pesantren yang penuh tawa hari itu sesungguhnya sedang menyimpan sebuah harapan besar. Di antara santri yang berlari, tertawa, berkompetisi, dan mengenakan merah-putih, mungkin sedang tumbuh calon guru, ulama, pengusaha, jurnalis, pemimpin, ilmuwan, dan penggerak masyarakat.

Mereka bukan sekadar sedang mengikuti lomba. Mereka sedang belajar menjadi manusia yang mampu bekerja sama, menerima kemenangan tanpa sombong, menerima kekalahan tanpa menyerah, serta memahami bahwa hidup bukan hanya tentang siapa yang paling cepat sampai di garis akhir.

Menjelang akhir acara, suasana kembali khidmat. Doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan masa depan Indonesia. Setelah itu, hadiah diberikan kepada para pemenang.

Senyum mengembang di wajah para santri. Ada kebahagiaan sederhana yang mungkin tidak akan mereka lupakan. Tetapi yang jauh lebih penting, semoga dari perayaan itu tumbuh kesadaran bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu bukanlah hadiah untuk dinikmati tanpa tanggung jawab.

Kemerdekaan adalah amanah.

Dan di balik dinding Pondok Pesantren Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya, amanah itu sedang dititipkan kepada generasi muda—kepada anak-anak yang hari ini berlari dengan sarung, tetapi kelak diharapkan mampu berlari lebih jauh membawa ilmu, iman, akhlak, dan cita-cita besar untuk Indonesia.

Sebab Indonesia masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang pandai merayakan kemerdekaan. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu mengisi kemerdekaan dengan perjuangan.[Rizki]

 

Posting Komentar untuk "Di Balik Sarung dan Merah Putih, Santri Merawat Makna Kemerdekaan"