PELITA MAJALENGKA - Subuh di Mekarwangi, Majalengka, masih dingin. Langit belum benar-benar terang ketika suara azan perlahan menghilang dari udara, menyisakan hening yang justru terasa menenangkan. Seusai salat Subuh berjamaah, para santri tahfiz Akademi Guru Al-Qur’an (AGA) Nurul Bayan mulai bersiap. Ransel dipanggul, sepatu diperiksa, air minum disiapkan. Tujuannya satu: kaki Gunung Cakrabuana.
Namun, ini bukan sekadar agenda
muncak.
Ada Merah Putih yang hendak mereka
bawa ke puncak. Ada pula bendera Palestina yang ingin mereka kibarkan
berdampingan dengannya. Di tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik
Indonesia, para santri ingin menitipkan pesan sederhana, tetapi dalam:
mencintai Indonesia sekaligus menunjukkan solidaritas kepada saudara-saudara di
Palestina.
Maka, pagi itu, perjalanan pun
dimulai.
Muncak bareng santri AGA ternyata
bukan cuma soal menaklukkan tanjakan.
Langkah demi langkah membawa mereka
memasuki kawasan Cakrabuana. Jalan yang semula terasa ringan perlahan berubah
menjadi medan yang menguras tenaga. Tanjakan mulai menyambut. Tanah lembap,
akar-akar pohon melintang, dan hawa dingin hutan membuat perjalanan terasa
semakin menantang.
Tetapi para santri tidak datang
untuk mengeluh.
Di sela napas yang mulai tersengal,
terdengar lantunan ayat Al-Qur’an. Ada yang membaca hafalan, ada yang
berdzikir, ada yang saling menyemangati. Ketika satu teman mulai kelelahan,
yang lain menunggu. Ketika ada yang hampir menyerah, terdengar kalimat
sederhana, “Ayo, sedikit lagi!”
Begitulah ukhuwah bekerja.
Kadang bukan nasihat panjang yang
membuat seseorang kuat, tetapi kehadiran seorang sahabat yang tidak
meninggalkannya sendirian di tengah jalan.
Cakrabuana pagi itu seperti sedang mengajarkan sesuatu kepada mereka. Bahwa puncak tidak pernah diberikan kepada orang yang hanya pandai membayangkannya. Puncak harus ditempuh dengan langkah. Kadang lambat, kadang terengah-engah, bahkan sesekali harus berhenti untuk mengambil napas. Tetapi selama kaki terus bergerak, perjalanan belum selesai.
Para santri pun terus melangkah.
Di sepanjang perjalanan, hutan
Cakrabuana menyimpan suasana yang berbeda. Pepohonan menjulang tinggi, udara
terasa sejuk, dan suara alam berpadu dengan suara manusia yang sedang berjuang
menaklukkan medan. Tidak ada kemewahan. Tidak ada kenyamanan seperti perjalanan
dengan kendaraan.
Yang ada hanya ransel, sepatu,
keringat, doa, dan tekad.
Justru di situlah indahnya.
Mereka sedang belajar bahwa hidup
pun kurang lebih seperti mendaki gunung. Ada tanjakan yang membuat kaki pegal.
Ada jalan licin yang menuntut kehati-hatian. Ada rasa ingin berhenti. Namun,
orang yang tahu ke mana tujuan akhirnya akan terus bergerak meskipun pelan.
Dan tujuan para santri hari itu
bukan hanya puncak Cakrabuana.
Ada pesan yang ingin mereka
tinggalkan di sana.
Gunung Cakrabuana bukan gunung
biasa.
Gunung yang lebih akrab disebut
Gunung Cakra ini memiliki ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut
dan membentang di kawasan Majalengka, Garut, serta Tasikmalaya. Di balik
panorama hutan dan kesejukannya, Cakrabuana menyimpan jejak sejarah perjuangan
bangsa.
Kawasan ini pernah menjadi bagian
dari jalur perjuangan dan konflik bersenjata pada masa lalu. Cakrabuana juga
berkaitan dengan sejarah perjalanan Divisi Siliwangi dalam Long March menuju
Yogyakarta dan perjalanan kembali ke Jawa Barat.
Pada masa berikutnya, kawasan
pegunungan ini juga menjadi salah satu wilayah yang berkaitan dengan pergolakan
Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Medan yang terjal dan hutan yang
lebat membuat kawasan pegunungan menjadi tempat yang strategis dalam sejarah
konflik tersebut.
Dulu, gunung ini menyimpan cerita
tentang perjuangan yang penuh ketegangan, darah, dan pengorbanan.
Kini, generasi yang berbeda datang
dengan cara yang berbeda.
Tidak membawa senjata.
Tidak membawa peluru.
Mereka membawa Al-Qur’an.
Mereka membawa doa.
Mereka membawa Merah Putih.
Dan mereka membawa bendera Palestina
sebagai simbol solidaritas kemanusiaan.
Seolah-olah Cakrabuana sedang
menyaksikan perubahan wajah perjuangan.
Dulu manusia berjuang dengan
senjata. Hari ini para santri belajar bahwa perjuangan generasi mereka harus
diisi dengan ilmu, iman, akhlak, dan karya.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya
puncak mulai terlihat.
Wajah-wajah lelah berubah menjadi
wajah penuh kegembiraan. Napas masih berat, kaki masih pegal, tetapi semangat
justru semakin tinggi. Ketika sampai di titik tujuan, sebagian santri langsung
menatap hamparan alam di hadapan mereka.
Awan bergulung di bawah.
Langit terasa lebih dekat.
Angin berembus kencang.
Dan untuk beberapa saat, semua
terdiam.
Mungkin mereka sedang menyadari satu
hal: ternyata perjuangan yang melelahkan memang selalu terasa indah ketika
sampai pada tujuan.
Kemudian Merah Putih dibentangkan.
Bendera Palestina turut dikibarkan.
Dua warna kebanggaan itu menari
bersama angin Cakrabuana.
Merah Putih mengingatkan mereka pada
tanah air yang telah merdeka. Palestina mengingatkan mereka bahwa masih ada
saudara manusia yang terus memperjuangkan kebebasan dan kehidupan yang
bermartabat.
Tidak ada pidato panjang.
Tidak perlu banyak kata.
Dua bendera itu sudah cukup
berbicara.
Indonesia adalah rumah yang harus
dijaga. Palestina adalah saudara yang harus terus didoakan dan didukung melalui
cara-cara yang benar dan nyata.
Di puncak itu, beberapa santri
menitikkan air mata.
Bukan karena takut.
Bukan pula hanya karena lelah.
Ada haru yang sulit dijelaskan
ketika ayat-ayat Al-Qur’an, Merah Putih, bendera Palestina, dan panorama
ciptaan Allah bertemu dalam satu ruang.
Mereka kemudian berdoa.
Untuk Indonesia.
Agar negeri ini tetap kokoh,
bersatu, aman, dan diberkahi Allah. Agar kemerdekaan tidak hanya dirayakan
dengan upacara dan perlombaan, tetapi diisi dengan pendidikan, akhlak,
kejujuran, dan kerja nyata.
Mereka juga berdoa untuk Palestina.
Agar rakyat Palestina mendapatkan keselamatan, keadilan, dan kebebasan dari penindasan. Agar dunia tidak kehilangan nurani. Agar penderitaan manusia di mana pun tidak dianggap sebagai berita biasa yang lewat begitu saja di layar telepon.
Muncak bareng santri AGA akhirnya
menjadi lebih dari sekadar perjalanan ke gunung.
Mereka memang berhasil mencapai
puncak Cakrabuana. Tetapi ada puncak lain yang sedang mereka tuju: puncak
kesadaran.
Bahwa cinta tanah air tidak cukup
hanya dengan memasang bendera.
Bahwa cinta kepada sesama tidak
cukup hanya dengan unggahan di media sosial.
Bahwa menjadi generasi Qur’ani
berarti belajar menjadi manusia yang punya kepedulian, punya ilmu, punya
keberanian, dan punya kontribusi.
Gunung mengajarkan mereka tentang
keteguhan.
Perjalanan mengajarkan mereka
tentang kesabaran.
Teman seperjalanan mengajarkan
mereka tentang ukhuwah.
Al-Qur’an mengajarkan mereka tentang
arah.
Dan puncak mengajarkan satu hal yang
sederhana: tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan.
Ketika akhirnya mereka turun
meninggalkan Cakrabuana, matahari mungkin sudah meninggi. Namun, ada sesuatu
yang tetap tinggal di puncak.
Bukan hanya jejak kaki.
Bukan hanya kibaran bendera.
Melainkan doa dan tekad.
Di gunung yang dahulu menyimpan
kisah perjuangan itu, para santri AGA Nurul Bayan menuliskan cerita mereka
sendiri. Sebuah cerita tentang generasi yang ingin mencintai Indonesia dengan
iman, menjaga kemerdekaan dengan ilmu, dan menumbuhkan solidaritas kemanusiaan
dengan hati.
Cakrabuana pun kembali hening.
Tetapi hari itu, gunung tersebut
telah menjadi saksi.
Bahwa anak-anak muda penghafal
Al-Qur’an pernah datang, mendaki, berjuang, berdoa, lalu mengibarkan Merah
Putih dan Palestina di atas awan.
Mereka datang sebagai santri.
Mereka pulang membawa semangat
perjuangan.
Sebab, bagi generasi Qur’ani, muncak
bukan cuma soal sampai di puncak gunung. Muncak adalah belajar bagaimana
menjadi manusia yang lebih tinggi iman, lebih kuat mental, lebih luas
kepedulian, dan lebih nyata kontribusinya.
Dan mungkin, itulah makna
sesungguhnya dari perjalanan hari itu:
Dari Mekarwangi menuju Cakrabuana,
dari tanjakan menuju puncak, dari ayat menuju penghayatan, dari perjuangan
menuju pengabdian.
Muncak bareng santri AGA. Menjemput
Merah Putih di puncak Cakrabuana. Menitipkan doa untuk Palestina. Dan pulang
membawa tekad untuk terus menjadi generasi Qur’ani yang bermanfaat bagi negeri
dan umat.[BA]



Posting Komentar untuk "Muncak Bareng Santri AGA: Menjemput Merah Putih di Puncak Cakrabuana"