Di Hadapan Kekuasaan, Ke Mana Perginya Amar Ma’ruf Nahi Munkar? (Membaca Fenomena Penjilat di Era Prabowo)

(Foto: Suara Muslim Radio Network)
PELITA MAJALENGKA - Ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada kekuasaan yang besar. Yaitu ketika kekuasaan mulai kehilangan orang-orang yang berani berkata, “Tidak.” Sebab seorang pemimpin tetap manusia, betapapun tinggi jabatannya. Ia bisa benar, tetapi juga bisa keliru.

Pemimpin memang membutuhkan dukungan. Tetapi pemimpin jauh lebih membutuhkan orang-orang yang berani mengingatkan ketika ia salah. Ia membutuhkan seseorang yang berani berkata, “Pak, ini perlu diperbaiki.” Bukan orang yang selalu mengatakan, “Pak, semuanya sudah sempurna.”

Di sinilah amar ma’ruf nahi munkar menemukan maknanya. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi penonton kekuasaan. Islam mengajarkan keberanian moral untuk menegakkan kebenaran dengan ilmu, adab, dan kejujuran.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah.” (QS. An-Nisa: 135). Perhatikan, Allah memerintahkan kita menegakkan keadilan, bukan sekadar menjaga kenyamanan. Bahkan ketika kebenaran itu terasa pahit.

Polemik buku Islam Ala Prabowo menarik perhatian publik karena menyentuh wilayah yang sangat sensitif: Islam, ulama, dan kekuasaan. Buku tersebut diluncurkan dalam rangkaian Rakornas BAZNAS pada 26 Agustus 2025. Namun pada September 2026, MUI menegaskan bahwa buku tersebut bukan program, kegiatan, maupun produk MUI.

MUI juga menjelaskan bahwa kehadiran Ketua Umum MUI dalam acara tersebut adalah dalam kapasitas sebagai pembaca doa pada Rakornas BAZNAS. MUI meminta masyarakat mengedepankan tabayun dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Klarifikasi ini penting agar kritik tidak berubah menjadi tuduhan yang tidak terverifikasi.

Tetapi sebuah buku tetap boleh dikritisi. Bahkan ketika buku itu berbicara tentang Islam dan seorang presiden, kritik justru menjadi semakin penting. Bukan untuk membenci Prabowo, tetapi untuk memastikan bahwa agama tidak sekadar menjadi bahasa yang memperindah kekuasaan.

Sebab Islam bukan milik presiden. Islam bukan milik pejabat. Islam juga bukan milik partai atau kelompok tertentu. Islam adalah wahyu Allah yang justru harus menjadi ukuran bagi siapa pun yang memegang amanah kekuasaan.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar: “Apakah Prabowo seorang Muslim?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Sejauh mana nilai-nilai Islam tercermin dalam praktik kekuasaan?” Ukurannya bukan hanya simbol, ucapan, atau kedekatan dengan tokoh agama, tetapi juga keadilan, amanah, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat.

Di sinilah persoalan penjilatan menjadi relevan. Kita perlu hati-hati menggunakan istilah tersebut karena tidak setiap pujian berarti menjilat dan tidak setiap dukungan kepada pemerintah berarti kemunafikan. Tetapi ketika kritik mulai dianggap sebagai permusuhan, sementara pujian selalu diterima sebagai kebenaran, alarm moral seharusnya berbunyi.

Pemimpin membutuhkan orang yang loyal. Tetapi loyalitas berbeda dengan penjilatan. Loyalitas berkata, “Saya mendukung Anda ketika benar dan mengingatkan ketika keliru.” Penjilatan berkata, “Apa pun yang Anda lakukan, saya akan mencari alasan untuk membenarkannya.”

Bahaya penjilatan bukan hanya membuat penguasa nyaman. Ia dapat membuat penguasa kehilangan informasi yang jujur. Ketika semua orang hanya membawa kabar baik, seorang pemimpin bisa saja tidak mengetahui penderitaan rakyat yang sebenarnya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin secara umum.” (HR. Muslim).

Hadis ini seharusnya membuat kita malu. Mengapa? Karena kita sering berani mengkritik orang yang tidak punya kekuasaan, tetapi mendadak kehilangan suara ketika berhadapan dengan orang yang mempunyai jabatan. Kita keras kepada yang lemah, tetapi terlalu lembut kepada yang kuat.

Padahal ulama tidak seharusnya menjadi stempel kekuasaan. Ulama seharusnya menjadi pengingat kekuasaan. Dekat dengan pemerintah boleh, bahkan diperlukan, tetapi kedekatan tidak boleh membunuh keberanian untuk mengatakan kebenaran.

Demikian pula masyarakat. Kita tidak membutuhkan rakyat yang membenci semua kebijakan pemerintah. Tetapi kita juga tidak membutuhkan rakyat yang membenarkan semua kebijakan pemerintah. Kita membutuhkan masyarakat yang mampu mengatakan “benar” ketika benar dan “perlu diperbaiki” ketika memang perlu diperbaiki.

Karena itu, buku Islam Ala Prabowo sebaiknya tidak hanya diperdebatkan sebagai buku tentang seorang presiden. Ia bisa menjadi pintu untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana Islam seharusnya berhadapan dengan kekuasaan?

Apakah agama digunakan untuk mengoreksi kekuasaan? Ataukah kekuasaan mulai menggunakan bahasa agama untuk memperoleh legitimasi? Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan emosi. Ia harus dijawab dengan ilmu, fakta, dan keberanian moral.

Kita juga harus belajar dari polemik yang muncul. MUI mencatat adanya klarifikasi dari sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam buku mengenai keterlibatan mereka. Fakta semacam ini menunjukkan pentingnya transparansi dalam penggunaan nama, wawancara, tulisan, dan otoritas keagamaan.

Pada akhirnya, seorang presiden akan meninggalkan istana. Jabatan akan berakhir. Kursi akan berganti. Pujian akan dilupakan. Tetapi pertanggungjawaban kepada Allah tidak pernah berakhir.

Maka pertanyaannya bukan siapa yang paling dekat dengan kekuasaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang tetap dekat dengan kebenaran ketika berada di hadapan kekuasaan?

Bukan siapa yang paling pandai berkata, “Bapak benar.” Tetapi siapa yang berani berkata, “Bapak, mari kita periksa kembali.”

Sebab seorang pemimpin tidak selalu diselamatkan oleh seribu orang yang bertepuk tangan. Kadang ia justru diselamatkan oleh satu suara yang berani berkata, “Ini salah.” Dan mungkin itulah amar ma’ruf nahi munkar yang paling kita rindukan: bukan keberanian untuk menjatuhkan kekuasaan, tetapi keberanian untuk mengingatkan kekuasaan sebelum kekuasaan kehilangan arah.[BA]


Posting Komentar untuk "Di Hadapan Kekuasaan, Ke Mana Perginya Amar Ma’ruf Nahi Munkar? (Membaca Fenomena Penjilat di Era Prabowo)"