Menatap Jejak Sang Pemimpin Qur’ani


PELITA MAJALENGKA
- Ada satu cara pandang yang sering keliru tentang kepemimpinan. Banyak orang membayangkan pemimpin sebagai orang yang berada paling depan, paling tinggi kedudukannya, dan paling banyak mendapatkan penghormatan.

Al-Qur’an mengajarkan cara pandang yang berbeda. Kepemimpinan bukan sekadar kedudukan. Kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Karena itu, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Semakin banyak manusia yang berada di bawah tanggung jawabnya, semakin panjang pula perkara yang harus ia pertanggungjawabkan.

Jejak para pemimpin saleh menunjukkan hal itu. Mereka tidak melihat kepemimpinan sebagai kesempatan untuk dilayani. Mereka melihatnya sebagai kesempatan untuk berkhidmat kepada Allah dan manusia.

Salah satu gambaran yang sangat terkenal adalah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Dalam berbagai riwayat sejarah disebutkan bagaimana beliau sangat memperhatikan keadaan rakyatnya, bahkan melakukan perjalanan pada malam hari untuk mengetahui kehidupan mereka.

Diriwayatkan bahwa beliau pernah memikul sendiri makanan untuk sebuah keluarga yang membutuhkan. Ketika ditawari bantuan untuk membawanya, beliau justru menegaskan bahwa dirinya yang akan memikulnya karena ia merasa bertanggung jawab atas keadaan rakyatnya.

Terlepas dari rincian riwayat tersebut, spirit kepemimpinannya sangat jelas: jabatan tidak membuat seorang mukmin merasa lebih tinggi daripada rakyatnya. Jabatan justru membuatnya semakin takut kepada Allah.

1. Kepemimpinan Adalah Amanah

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

"Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini mengajarkan bahwa kepemimpinan harus berdiri di atas dua hal besar: amanah dan keadilan.

Amanah berarti tidak mengkhianati tanggung jawab. Tidak menggunakan kedudukan untuk kepentingan pribadi. Tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Sedangkan keadilan berarti memberikan hak kepada yang berhak. Tidak memihak karena hubungan keluarga. Tidak membeda-bedakan karena kepentingan. Tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menzalimi.

Karena itu, pemimpin Qur’ani tidak bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?”

Ia bertanya, “Apa yang harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah?”

2. Kuat dan Terpercaya

Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat menarik tentang seseorang yang layak diberi amanah.

Allah berfirman:

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

"Salah seorang dari kedua perempuan itu berkata, 'Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.'" (QS. Al-Qashash: 26)

Dua kata itu sangat dalam: al-qawiyyu dan al-amin.

Al-Qawiyyu berarti memiliki kekuatan atau kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan amanah. Ia memiliki kompetensi. Ia mampu bekerja. Ia mampu mengambil keputusan. Ia tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Sedangkan al-amin berarti dapat dipercaya. Ia memiliki integritas. Ia tidak menjadikan amanah sebagai jalan memperkaya diri. Ia takut kepada Allah ketika tidak ada manusia yang melihatnya.

Kemampuan tanpa amanah bisa menjadi bahaya.

Seseorang mungkin sangat cerdas, tetapi jika tidak memiliki integritas, kecerdasannya dapat digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Sebaliknya, niat baik tanpa kemampuan juga belum cukup. Seseorang mungkin sangat saleh, tetapi jika tidak memiliki kecakapan yang diperlukan, amanah yang diberikan kepadanya dapat terlantar.

Karena itu, kepemimpinan membutuhkan keduanya: kemampuan dan amanah.

3. Pemimpin Adalah Penanggung Jawab

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kalimatnya.

Rasulullah ﷺ tidak mengatakan hanya khalifah yang menjadi pemimpin. Tidak hanya pejabat. Tidak hanya kepala lembaga.

Setiap kita adalah pemimpin.

Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya.

Seorang ibu memiliki amanah terhadap anak-anaknya.

Seorang guru memiliki amanah terhadap murid-muridnya.

Seorang ketua memiliki amanah terhadap anggotanya.

Seorang pekerja memiliki amanah terhadap pekerjaannya.

Bahkan seseorang pada hakikatnya adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

Karena itu, jangan menunggu memiliki jabatan untuk belajar menjadi pemimpin.

Mulailah dari rumah.

Mulailah dari diri sendiri.

Mulailah dari amanah yang saat ini Allah letakkan di hadapan kita.

4. Pemimpin yang Melayani

Pemimpin Qur’ani tidak hidup untuk dilayani.

Ia justru belajar melayani.

Ia melihat kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Ia mendengar keluhan mereka. Ia hadir ketika mereka mengalami kesulitan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

"Ya Allah, siapa yang mengurus suatu urusan umatku lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan siapa yang mengurus suatu urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka berlaku lembutlah kepadanya." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa beratnya amanah kepemimpinan.

Pemimpin bukan hanya dituntut menghasilkan keputusan. Ia juga dituntut memperhatikan manusia yang terkena dampak dari keputusan tersebut.

Karena itu, kekuasaan tanpa kasih sayang dapat melahirkan kezhaliman.

Sedangkan kepemimpinan yang disertai rahmah akan melahirkan pelayanan.

5. Musyawarah Menundukkan Ego

Pemimpin Qur’ani juga tidak merasa dirinya selalu benar.

Allah berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

"Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka." (QS. Asy-Syura: 38)

Allah juga berfirman kepada Rasulullah ﷺ:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

"Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali 'Imran: 159)

Perintah musyawarah menunjukkan bahwa pemimpin membutuhkan pandangan orang lain.

Musyawarah bukan tanda kelemahan.

Musyawarah justru menunjukkan kedewasaan.

Seorang pemimpin yang sehat tidak takut mendengar pendapat yang berbeda. Ia tidak merasa harga dirinya runtuh hanya karena ada orang lain yang memberikan masukan.

Ia mencari kebenaran, bukan kemenangan ego.

6. Dua Kunci Menjadi Imam dalam Agama

Ada satu doa yang sangat indah di dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Furqan: 74)

Perhatikan doanya.

Mereka tidak hanya meminta harta. Tidak hanya meminta popularitas. Tidak hanya meminta kedudukan.

Mereka meminta kepada Allah agar menjadi imam bagi orang-orang bertakwa.

Lalu Allah menjelaskan salah satu jalan menuju kedudukan tersebut:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As-Sajdah: 24)

Di sinilah kita menemukan dua kunci besar:

الصَّبْرُ وَالْيَقِينُ

Sabar dan yakin.

Sabar membuat seseorang mampu bertahan di jalan kebenaran.

Yakin membuat seseorang tetap teguh meskipun hasil perjuangannya belum terlihat.

Sabar tanpa yakin akan mudah berubah menjadi kelelahan.

Yakin tanpa sabar akan mudah berubah menjadi angan-angan.

Tetapi ketika sabar dan yakin bertemu, lahirlah keteguhan.

Karena itu, ungkapan yang dinukil dari Ibnu Taimiyah sangat terkenal:

بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ تُنَالُ الْإِمَامَةُ فِي الدِّينِ

"Dengan kesabaran dan keyakinan, seseorang meraih kepemimpinan dalam agama."

Maknanya bukan bahwa seseorang harus mengejar gelar sebagai imam.

Justru sebaliknya.

Ia memperbaiki dirinya. Ia bersabar dalam ketaatan. Ia yakin kepada janji Allah. Ia terus belajar. Ia melayani. Kemudian Allah yang mengangkat pengaruhnya jika Dia kehendaki.

7. Mulailah dari Amanah yang Paling Dekat

Mungkin kita belum menjadi pemimpin besar.

Tidak mengapa.

Allah tidak meminta kita mempertanggungjawabkan sesuatu yang belum diberikan kepada kita.

Tanyakan saja: bagaimana kepemimpinan kita terhadap diri sendiri?

Bagaimana shalat kita?

Bagaimana lisan kita?

Bagaimana amanah kita?

Bagaimana hubungan kita dengan keluarga?

Bagaimana kita mendidik anak-anak?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di bawah tanggung jawab kita?

Di sanalah kepemimpinan Qur’ani dimulai.

Jangan bermimpi memperbaiki umat jika kita belum mau memperbaiki rumah.

Jangan ingin dihormati banyak orang jika kita masih meremehkan orang yang paling dekat dengan kita.

Jangan ingin menjadi teladan di tengah masyarakat jika di tempat yang tidak terlihat manusia kita masih berani mengkhianati amanah.

Kepemimpinan yang sejati dimulai dari tempat yang paling sunyi.

Dari hati.

Dari rumah.

Dari kebiasaan sehari-hari.

Dari keputusan-keputusan kecil yang tidak diketahui manusia, tetapi diketahui Allah.

Penutup: Ketika Takhta Bertemu Air Mata

Pemimpin Qur’ani bukan manusia yang tidak pernah takut.

Ia justru takut kepada Allah.

Ia bukan manusia yang tidak pernah menangis.

Ia menangis karena memahami beratnya amanah.

Ia bukan manusia yang merasa paling tinggi.

Ia justru semakin merendahkan diri di hadapan Allah ketika kedudukannya semakin tinggi.

Maka jangan hanya meminta kepada Allah sebuah posisi.

Mintalah terlebih dahulu kekuatan untuk menjalankan amanah dan hati yang takut mengkhianatinya.

Mintalah ilmu yang benar.

Mintalah kemampuan yang bermanfaat.

Mintalah kesabaran ketika diuji.

Mintalah keyakinan ketika jalan terasa panjang.

Dan mintalah kepada Allah sebagaimana doa hamba-hamba-Nya:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."

Semoga Allah menjadikan kita manusia yang kuat dalam menjalankan amanah, jujur ketika tidak ada yang melihat, lembut ketika memiliki kekuasaan, tegas ketika kebenaran harus ditegakkan, rendah hati ketika dipuji, dan takut kepada Allah ketika diberi tanggung jawab.

Sebab pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia.

Tetapi seberapa rendah hatinya di hadapan Allah.

Takhta boleh meninggi.

Tetapi hati harus tetap bersujud.[BA]

Posting Komentar untuk "Menatap Jejak Sang Pemimpin Qur’ani"