Mahkota yang Membutakan: Mengapa Orang Berilmu Menolak Nasihat

Foto: AI
PELITA MAJALENGKA  - 
Secara rasional dan psikologis, penolakan terhadap nasihat oleh kalangan berilmu berakar dari jebakan kognitif yang disebut intellectual pride atau kesombongan intelektual. Ketika seseorang mendedikasikan bertahun-tahun hidupnya untuk menghafal teks, mengkaji teori, atau memegang posisi strategis keilmuan, terbentuklah sebuah citra diri (self-image) yang mapan.

Dalam perspektif neurosains dan psikologi perilaku, otak manusia memandang ancaman terhadap identitas dan keyakinan inti (core beliefs) sama persis dengan ancaman fisik terhadap keselamatan tubuh. 

Bagi seorang pemilik ilmu yang egonya telah dikuasai oleh status, menerima nasihat—terutama dari orang yang dianggap lebih rendah secara strata sosial atau keilmuan—dipersepsi sebagai "kematian simbolik" atau keruntuhan mahkota prestise yang telah susah payah ia bangun.

Ilmu yang seharusnya menjadi instrumen untuk menundukkan diri di hadapan kebenaran, justru diselewengkan fungsinya menjadi perisai pertahanan diri (defense mechanism) untuk menutupi kerapuhan batin. 

Mereka lupa bahwa esensi keilmuan tertinggi bukanlah seberapa banyak dalil yang dihafal, melainkan seberapa dalam ketundukan hati (khauf dan khusyuk) di hadapan kebenaran, dari lisan siapapun kebenaran itu meluncur.

Peringatan Keras atas Kibir Intelektual

Islam secara tegas mencela sikap enggan menerima kebenaran akibat kesombongan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an menggambarkan watak tercela manusia ketika dinasihati untuk bertakwa, “Dan apabila dikatakan kepadanya: 'Bertakwalah kepada Allah', bangkitlah kesombongannya yang mendorongnya berbuat dosa. Maka cukuplah baginya neraka Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)

Ayat ini memberikan sinyal keras, penolakan terhadap nasihat kebaikan yang dilandasi gengsi atau rasa lebih tinggi (kibr) adalah pintu gerbang kemerosotan moral yang berujung pada kebinasaan spiritual.

Lebih lanjut, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mendefinisikan hakikat kesombongan secara sangat telak dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Perhatikan redaksi sabda Nabi tersebut. Kesombongan tidak selalu berbentuk pakaian mewah atau harta melimpah, melainkan penolakan terhadap al-haq (kebenaran/nasihat) tatkala ia datang. Orang berilmu yang menolak nasihat karena merasa dirinya sudah tahu atau lebih tinggi, secara tidak sadar telah terjatuh ke dalam definisi kesombongan yang disabdakan oleh Rasulullah tercinta.

Pelajaran Emas dari Generasi Terbaik

Para ulama salaf—generasi emas umat ini yang memadukan ilmu yang luas dengan kebersihan hati yang paripurna—justru memandang kritik dan nasihat sebagai hadiah terbesar bagi keselamatan akhirat mereka. Mereka tidak melihat siapa yang berbicara, melainkan apa yang dibicarakan.

Sahabat agung Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, seorang pemimpin agung sekaligus ulama di kalangan sahabat, pernah melontarkan sebuah pernyataan yang mencerminkan kelapangan jiwa seorang pencari kebenaran sejati, “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepada kami aib-aib kami.”

Umar tidak merasa risih atau jatuh wibawanya ketika kekurangnya diingatkan; justru ia mendoakan kebaikan bagi siapa saja yang membongkar cacat celanya agar bisa segera diperbaiki.

Imam Asy-Syafii rahimahullah, seorang mujtahid besar yang keilmuannya diakui semesta, pernah menuturkan sebuah kalimat yang sarat dengan kerendahan hati, “Setiap kali aku berdebat dengan seseorang, aku tidak peduli apakah Allah menenangkan kebenaran itu melalui lisanku atau melalui lisan lawan bicaraku.”

Bagi Imam Syafii, kemenangan sebenarnya bukanlah saat argumennya diterima, melainkan ketika kebenaran itu tegak—meskipun kebenaran tersebut dibawa oleh orang yang dianggap berada di bawah level keilmuannya.

Bahkan, Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam risalahnya Ayyuhal Walad mengingatkan bahwa bencana terbesar seorang alim adalah manakala ilmunya hanya berhenti di lisan dan memenuhi kepala, namun kosong dari amal serta penolakan terhadap kritik pembersih jiwa. Nasihat dirasakan pahit hanya oleh jiwa-jiwa yang dikendalikan oleh hawa nafsu.

Menundukkan Ego demi Keselamatan Jiwa

Menyadari bahaya laten ini, sudah saatnya setiap penuntut ilmu dan orang-orang yang merasa memiliki pengetahuan membersihkan cermin hatinya. Ada hal yang jauh lebih mulia dan abadi dibandingkan sekadar mempertahankan argumen atau menjaga gengsi keilmuan, yaitu keselamatan di hadapan Allah SWT. Setidaknya harus menyadari dua hal dalam menerima nasehat antara lain sebagai berikut.

Pertama, Ilmu Tanpa Tawadhu adalah Hijab: Ilmu yang tidak diiringi dengan kerendahan hati (tawadhu) hanya akan menjadi dinding tebal yang menghalangi pemiliknya dari hidayah lanjutan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tidak ada orang yang tawadhu karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya (HR. Muslim).

Kedua, Nasihat adalah Cermin: Sebagaimana sabda Nabi bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, maka teguran atau masukan adalah anugerah yang menyelamatkan kita dari buta terhadap kelemahan diri sendiri. Orang bijak tidak akan marah pada cermin yang memantulkan noda di wajahnya; ia akan segera membersihkan noda tersebut.

Mari kita tatap masa depan intelektualitas kita dengan kerendahan hati yang tulus. Tanggalkan jubah kesombongan, karena di hadapan lautan ilmu Allah yang tak bertepi, apa yang kita ketahui hanyalah sebutir debu di padang pasir yang luas. Semoga Allah senantiasa membersihkan hati kita dari penyakit kibr dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa haus akan kebenaran, dari lisan siapapun kebenaran itu datang.[BA]

 

  

Posting Komentar untuk "Mahkota yang Membutakan: Mengapa Orang Berilmu Menolak Nasihat"