Dalam perspektif neurosains dan psikologi perilaku, otak manusia memandang ancaman terhadap identitas dan keyakinan inti (core beliefs) sama persis dengan ancaman fisik terhadap keselamatan tubuh.
Bagi seorang
pemilik ilmu yang egonya telah dikuasai oleh status, menerima nasihat—terutama
dari orang yang dianggap lebih rendah secara strata sosial atau
keilmuan—dipersepsi sebagai "kematian simbolik" atau keruntuhan
mahkota prestise yang telah susah payah ia bangun.
Ilmu yang seharusnya menjadi instrumen untuk menundukkan diri di hadapan kebenaran, justru diselewengkan fungsinya menjadi perisai pertahanan diri (defense mechanism) untuk menutupi kerapuhan batin.
Mereka lupa bahwa esensi
keilmuan tertinggi bukanlah seberapa banyak dalil yang dihafal, melainkan
seberapa dalam ketundukan hati (khauf dan khusyuk) di hadapan
kebenaran, dari lisan siapapun kebenaran itu meluncur.
Peringatan Keras atas
Kibir Intelektual
Islam secara tegas mencela sikap enggan menerima kebenaran akibat
kesombongan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an menggambarkan
watak tercela manusia ketika dinasihati untuk bertakwa, “Dan apabila
dikatakan kepadanya: 'Bertakwalah kepada Allah', bangkitlah kesombongannya yang
mendorongnya berbuat dosa. Maka cukuplah baginya neraka Jahanam, dan itulah
seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)
Ayat ini memberikan sinyal keras, penolakan terhadap nasihat kebaikan yang
dilandasi gengsi atau rasa lebih tinggi (kibr) adalah pintu gerbang
kemerosotan moral yang berujung pada kebinasaan spiritual.
Lebih lanjut, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mendefinisikan
hakikat kesombongan secara sangat telak dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim, “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
(HR. Muslim)
Perhatikan redaksi sabda Nabi tersebut. Kesombongan tidak selalu berbentuk
pakaian mewah atau harta melimpah, melainkan penolakan terhadap al-haq
(kebenaran/nasihat) tatkala ia datang. Orang berilmu yang menolak nasihat
karena merasa dirinya sudah tahu atau lebih tinggi, secara tidak sadar telah
terjatuh ke dalam definisi kesombongan yang disabdakan oleh Rasulullah
tercinta.
Pelajaran Emas dari
Generasi Terbaik
Para ulama salaf—generasi emas umat ini yang memadukan ilmu yang luas
dengan kebersihan hati yang paripurna—justru memandang kritik dan nasihat
sebagai hadiah terbesar bagi keselamatan akhirat mereka. Mereka tidak melihat
siapa yang berbicara, melainkan apa yang dibicarakan.
Sahabat agung Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, seorang pemimpin agung
sekaligus ulama di kalangan sahabat, pernah melontarkan sebuah pernyataan yang
mencerminkan kelapangan jiwa seorang pencari kebenaran sejati, “Semoga Allah
merahmati orang yang menunjukkan kepada kami aib-aib kami.”
Umar tidak merasa risih atau jatuh wibawanya ketika kekurangnya diingatkan;
justru ia mendoakan kebaikan bagi siapa saja yang membongkar cacat celanya agar
bisa segera diperbaiki.
Imam Asy-Syafii rahimahullah, seorang mujtahid besar yang keilmuannya diakui
semesta, pernah menuturkan sebuah kalimat yang sarat dengan kerendahan hati, “Setiap
kali aku berdebat dengan seseorang, aku tidak peduli apakah Allah menenangkan
kebenaran itu melalui lisanku atau melalui lisan lawan bicaraku.”
Bagi Imam Syafii, kemenangan sebenarnya bukanlah saat argumennya diterima,
melainkan ketika kebenaran itu tegak—meskipun kebenaran tersebut dibawa oleh
orang yang dianggap berada di bawah level keilmuannya.
Bahkan, Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam risalahnya Ayyuhal Walad
mengingatkan bahwa bencana terbesar seorang alim adalah manakala ilmunya hanya
berhenti di lisan dan memenuhi kepala, namun kosong dari amal serta penolakan
terhadap kritik pembersih jiwa. Nasihat dirasakan pahit hanya oleh jiwa-jiwa
yang dikendalikan oleh hawa nafsu.
Menundukkan Ego demi Keselamatan Jiwa
Menyadari bahaya laten ini, sudah saatnya setiap penuntut ilmu dan
orang-orang yang merasa memiliki pengetahuan membersihkan cermin hatinya. Ada
hal yang jauh lebih mulia dan abadi dibandingkan sekadar mempertahankan argumen
atau menjaga gengsi keilmuan, yaitu keselamatan di hadapan Allah SWT. Setidaknya harus menyadari dua hal
dalam menerima nasehat antara lain sebagai berikut.
Pertama, Ilmu Tanpa Tawadhu adalah Hijab: Ilmu yang tidak diiringi
dengan kerendahan hati (tawadhu) hanya akan menjadi dinding tebal yang
menghalangi pemiliknya dari hidayah lanjutan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa
tidak ada orang yang tawadhu karena Allah melainkan Allah akan mengangkat
derajatnya (HR. Muslim).
Kedua, Nasihat adalah Cermin: Sebagaimana sabda Nabi
bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, maka teguran atau masukan
adalah anugerah yang menyelamatkan kita dari buta terhadap kelemahan diri
sendiri. Orang bijak tidak akan marah pada cermin yang memantulkan noda di
wajahnya; ia akan segera membersihkan noda tersebut.
Mari kita tatap masa depan intelektualitas kita dengan kerendahan hati yang
tulus. Tanggalkan jubah kesombongan, karena di hadapan lautan ilmu Allah yang
tak bertepi, apa yang kita ketahui hanyalah sebutir debu di padang pasir yang
luas. Semoga Allah senantiasa membersihkan hati kita dari penyakit kibr
dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa haus akan kebenaran, dari lisan
siapapun kebenaran itu datang.[BA]

Posting Komentar untuk "Mahkota yang Membutakan: Mengapa Orang Berilmu Menolak Nasihat"