Tangan Pencetak 10.000 Bata Itu Kini Menggenggam Gelar Doktor: Jejak Sunyi Dr. Dedi Turmudi Menembus Amerika


Oleh
Bahron Ansori 

Di sudut Dusun Sidamulya, Desa Sukamukti, Kecamatan Pamarican, Ciamis, Jawa Barat, seorang anak laki-laki berdiri menatap telapak tangannya. Tangannya kasar. Kulit jarinya pecah-pecah. Di hadapannya menumpuk ribuan bata merah yang masih basah.

Tidak ada yang menyangka. Anak kecil yang berteman dengan lumpur dan peluh itu kelak berdiri di podium internasional. Tidak ada yang menduga. Tangan yang mencetak bata itu kelak menggenggam gelar Doktor dan memimpin forum akademik dunia.

Inilah kisah nyata Dr. Dedi Turmudi, M.A., TESOL. Seorang pendidik sejati dari Universitas Muhammadiyah (UM) Metro, Lampung. Sosok penuh dedikasi yang insya Allah dalam beberapa bulan ke depan akan merengkuh gelar tertinggi akademik: Guru Besar alias Profesor.

Perjalanan hidupnya bukan sekadar dongeng keberhasilan. Ini adalah monumen perjuangan. Bukti nyata bahwa takdir bisa diubah dengan kerja keras dan sujud yang panjang.

Lumpuhnya Biaya, Menyala Semangatnya

Lahir dari pasangan Bapak Komarudin (asal Rancah, Ciamis) dan Ibu Rom'ah (asal Sadananya, Ciamis), hidup Dedi kecil tidak pernah mudah. Ayahnya tidak mampu membiayai pendidikannya. Begitu lulus Sekolah Dasar (SD), langkahnya langsung terhenti.

Kalimat sang ibu meretas sunyi, "Udah, orang tuamu nggak sanggup. Bilang sama ayahmu."

Dedi tidak menangis ratapan. Ia memilih bertindak. Di usia yang belum genap belasan tahun, ia bekerja di kilang jipang (teng-teng) Banjarsari. Upahnya murah, hanya Rp1.000 seminggu. Uang itu tidak disisa sedikit pun; semuanya diserahkan bulat-bulat kepada sang ibu demi beras di dapur.

Satu tahun berlalu, keinginan belajarnya tidak padam. Ia mendaftar ke SMP Muhammadiyah Banjarsari. Namun, dari mana uang sekolahnya?

Dedi mengambil alih takdirnya sendiri. Ia berusaha mencetak bata merah hingga 10.000 bata. Dengan tangan kecilnya, ia aduk tanah dan bentuk bata satu demi satu demi melunasi tunggakan SPP. Rekor terhebatnya: 1.000 bata dalam satu hari.

Ia juga pernah memanjat pohon kelapa yang tinggi untuk mengupas kelapa yang dipetiknya demi dijadikan kopra. Kreativitasnya tak berhenti; ia juga sempat menjadi penjual hasil bumi. Ia menanam pisang dan menjual sawo. Dari petani ia beli seharga Rp75, lalu dijual seharga Rp200. Semua lembaran rupiah itu ia gunakan sebagai penutup biaya sekolahnya yang nunggak berbulan-bulan.

Keringatnya menjadi saksi. Dedi tidak pernah mengemis kasihan kepada siapa pun meski kondisinya sangat memprihatinkan. Ia membayar pendidikannya dengan harga diri dan kerja keras.

Takdir Penarik Roda dan Keikhlasan Kepala Sekolah

Lulus SMP pada tahun 1985, tembok kemiskinan kembali membentang. Beliau terpaksa merantau ke Jakarta dan menjadi kuli panggul di kawasan Taman Makam Pahlawan Kalibata selama tiga bulan.

Sekembalinya ke Ciamis, Dedi bekerja menarik roda berisi sabut kelapa untuk kilang genteng. Di tengah debu jalanan, seorang wanita bernama Ibu Muspiro menghentikan langkahnya. Beliau terenyuh melihat kegigihan Dedi dan menawarkan bantuan untuk masuk SMA Muhammadiyah.

Namun, jalan menuju impian selalu penuh kerikil. Sebuah kesalahpahaman terjadi saat Dedi pulang malam karena menjenguk ayahnya yang sakit keras. Kata-kata pedas terlontar, dan Dedi memilih keluar dari rumah pendermawannya dengan kepala tegak.

Di saat jalan terasa buntu, Dedi menemui Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah, Pak Sanusi Natarukman, berniat berhenti sekolah. Pak Sanusi melihat lembar rapor Dedi—berturut-turut angka satu menghiasi karena Dedi selalu menjadi Peringkat 1.

Mata sang Kepala Sekolah berkaca-kaca, "Ya Allah, Dedi, udah, kamu nggak usah mikirin. Biaya sekolah kamu saya jamin. Kamu ranking 1 terus."

Dedi membayar kebaikan itu dengan tuntas. Beliau lulus SMA sebagai lulusan terbaik 1 rayon sekolah swasta.

Menimba Ilmu, Menikah, dan Memulai Perjuangan Beasiswa

Bukannya langsung mengambil tawaran beasiswa universitas, Dedi memilih mondok pada tahun 1990 karena haus akan ilmu agama. Di Pesantren Mranggen, karakter kepemimpinannya makin ditempa. Pernah dianggap santri paling bandel, beliau dihukum merangkum kitab Latho'iful Isyaroh karya Imam al-Qusyairi sebanyak lima kali. Hukuman itu beliau ubah menjadi berkah: beliau hafal kitab tebal itu di luar kepala.

Ketekunannya dalam menuntut ilmu dan berorganisasi membuka jalur-jalur beasiswa awal dalam perjalanan akademisnya, antara lian ia pernah menjadi Peraih Beasiswa SSC Bandung (1995–2000), dan beberapa tahun kemudian ia mendapatkan kesempatan emas untuk mengikuti Upgrading Teacher Kemenag (2001–2003). Lagi-lagi menjadi yang terbaik.

Tahun 1991, Dedi pindah ke Muhajirun, Lampung. Di sana beliau menemukan tambatan hatinya, bernama Masyriah. Mereka menikah pada tahun 1994. Selain terus mengasah ilmu, beliau juga mendedikasikan dirinya sebagai kepala sekolah di MTs Al Fatah (2003–2006).

Selesai mondok, bakat bahasa Dedi berkibar. Tanpa latar belakang formal di awal, beliau berhasil menguasai Grammar Bahasa Inggris secara otodidak dan mendalam. Beliau lulus D3 Bahasa Inggris di Universitas Terbuka, lalu meraih gelar S1 Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK spektakuler 3.93.

DR. Dedi saat menjadi pemateri work shop "Bedah Artikel Ilmiah" di Kampus STAI AL-FATAH Cileungsi Bogor

Menembus Amerika dan Menjual Cincin Istri

Tahun 2005, panggilannya tiba. Sebuah iklan beasiswa luar negeri di koran Lampung Post menarik perhatiannya. Dedi melamar dan menggenjot skor TOEFL-nya dari 477 hingga menembus 525. Setelah diwawancarai langsung oleh Meredith M. Gill dari Amerika Serikat, ia dinyatakan LOLOS Beasiswa Ford Foundation International Fellowship Program (Ford IFP) (2006–2008)!

Namun, keberangkatan Juni 2006 menghujat batinnya. Ayah delapan anak itu harus meninggalkan istri yang sedang hamil tua dan tiga anak yang masih kecil kala itu. Uang sakunya pun kosong. Tidak ada pilihan lain: cincin pernikahan istrinya terpaksa dijual.

Dedi menggenggam jemari istrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa kita mau gini terus hidup dengan segala kekurangan? Abi pergi untuk kehidupan yang lebih baik," ujarnya.

Di Amerika Serikat, Dedi menyelesaikan gelar Master dalam bidang TESOL (Teacher of English to Speakers of Other Languages) selama 24 bulan. Ia tidak hanya berprestasi, tetapi juga terpilih menjadi Ketua Angkatan dari 44 penerima beasiswa dunia. Ia mengawali pendirian shalat Jumat, mengimami shalat, mengisi pengajian, dan mengajar Al-Qur'an kepada mahasiswa asal Arab, Uzbekistan, dan Pakistan.

Melanglang Buana dan Menjelajah Puncak Akademis

Pulang ke tanah air pada tahun 2008, dedikasinya tidak pernah surut. Portofolio internasional dan akademisnya terus melejit lewat berbagai penghargaan dan bantuan kegiatan ilmiah luar negeri antara lain ia pernah mendapatkan : Bantuan Seminar Luar Negeri (BSLN) Filipina (2014), Bantuan Seminar Luar Negeri Kampus UM Metro (2015).

Selain itu, ia juga menerima Beasiswa BUDI DN - LPDP (2016–2020) untuk jenjang Doktor (S3) di Universitas Negeri Malang. Ia lulus pada tahun 2020 dengan IPK 3.88 dan resmi menjadi Doktor Pertama di Program Studi Bahasa Inggris UM Metro.

Dedi juga pernah menjadi alumni Tracking Award 2019 Ford IFP New York, adalah penghargaan/rekognisi riset dampak alumni yang diberikan oleh pusat pengelola Ford Foundation IFP di New York kepada para alumninya atas dedikasi dan dampak sosial yang mereka hasilkan.

3 Juz Sehari Membaca Al-Qur'an

Banyak orang bertanya: apa resep rahasia di balik otak cerdas dan jalan hidupnya yang penuh keajaiban?

Jawabannya bukan semata teori belajar atau teknik menghafal, melainkan hubungannya dengan Sang Pencipta.

Di tengah kesibukan kuliah S3 yang sangat padat dan menyiksa pikiran, Dr. Dedi Turmudi memiliki ritual wajib yang tidak boleh ditawar: 3 Juz Sehari Membaca Al-Qur'an.

Setiap pagi, selepas shalat Subuh, ruangan rumahnya bergema dengan lantunan tadarus satu juz Al-Qur'an. Di antara waktu Maghrib dan Isya, beliau beriktikaf di masjid, menuntaskan dua juz sisanya. Dalam satu semester kuliah S3 yang berbobot 13 SKS, beliau mampu mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 18 kali.

Prinsip hidupnya tegas: "Kalau Al-Qur'an sudah Anda taklukkan, masalah dunia lainnya kecil!"

Di samping mukjizat Al-Qur'an, Dr. Dedi menegaskan bahwa kunci sukses keduanya adalah keridhaan istri. Ibu Masyriah adalah benteng kokoh di balik berdiri tegaknya sang Doktor. Tidak pernah sekali pun sang istri mengeluh atau merusak fokus suaminya saat bertugas di perantauan.

Jabatan Saat Ini dan Langkah Menuju Guru Besar

Kini, di tahun 2026, jejak langkah anak pembuat bata dari Dusun Sidamulya itu telah melampaui batas-batas kemustahilan. Dr. Dedi Turmudi, M.A., TESOL berdiri kokoh memegang berbagai amanah strategis di dunia pendidikan. Beliau saat ini menjabat sebagai Kepala UPT Micro Teaching & PLP UM Metro Lampung sekaligus mencatatkan sejarah sebagai Doktor dan Lektor Pertama di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UM Metro.

Kiprah akademisnya pun menembus level regional dan nasional. Ia dipercaya mengemban amanah sebagai TEFLIN Board Indonesia sekaligus Koordinator Chapter Lampung & Bengkulu untuk periode 2024–2029. Tak hanya itu, dedikasi dan kepakarannya terus dimanfaatkan secara luas melalui perannya sebagai Asesor Nasional PPG serta Asesor Jakum L2Dikti Palembang.

Di balik seluruh capaian karier dan tanggung jawab profesional yang begitu padat, ikhtiar terbesarnya tetap berpulang pada keluarga. Beliau adalah sosok ayah tangguh dari delapan orang anak yang senantiasa berhasil mendidik dan membimbing seluruh anggotanya dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.

Dan kini, dalam hitungan bulan, insya Allah gelar Guru Besar (Profesor) akan resmi disematkan di depan namanya. Sebuah pencapaian tertinggi akademis yang dipersembahkan bukan untuk kesombongan, melainkan untuk pengabdian melayani anak-anak bangsa.

Kisah Dr. Dedi Turmudi adalah cambuk bagi kita yang sering mengeluh. Beliau mengajarkan bahwa kemiskinan harta tidak boleh memiskinkan mental. Bahwa keterbatasan fisik tidak mampu memenjarakan cita-cita.

Dari tanah liat Ciamis hingga gedung-gedung bertingkat di Amerika, Dr. Dedi Turmudi telah membuktikan: Bersama Al-Qur'an dan kerja keras, tidak ada impian yang terlalu tinggi untuk diraih![]

 

Posting Komentar untuk "Tangan Pencetak 10.000 Bata Itu Kini Menggenggam Gelar Doktor: Jejak Sunyi Dr. Dedi Turmudi Menembus Amerika"