PELITA MAJALENGKA, Tasikmalaya - Sorot lampu gelanggang Ciamis Championship 2026 menjadi saksi tatapan mata yang tidak biasa. Di atas matras yang dingin, lima pemuda dari Pondok Pesantren Shuffah Al Jama'ah berdiri tegak.
Di balik jubah santri dan lantunan bait-bait kitab yang
saban hari mereka daraskan, mendekam jiwa pahlawan yang siap ditempa deru laga.
Bagi Haikal Muhammad Arfan, Muhammad Ali Muhasibi,
Raihan Saajid Gunawan, Hamzah Muhammad Radif, dan Ibadurrohman, pencak silat
bukan sekadar olahraga fisik atau adu pukulan. Setiap ayunan langkah, tendangan
yang melayang, dan serbuan jurus adalah tarian doa yang dibalut kerja keras.
Mereka bertarung bukan hanya untuk mengejar selembar
medali, melainkan untuk membuktikan bahwa iman, kedisiplinan, dan keringat yang
menetes di atas sajadah sanggup berpadu menjadi daya juang tak tertandingi.
Dua hari yang melelahkan pada awal Oktober itu terasa
begitu berharga. Di setiap babak yang menegangkan, deru napas yang
terengah-engah dan lebam di tubuh tidak pernah melunturkan tekad mereka.
Ketika keringat membasahi seragam silat dan rasa lelah
menekan hingga ke batas kemampuan, ingatan akan doa para kyai, pelatih, serta
orang tua di rumah menjadi bahan bakar yang membakar kembali semangat.
Hasil dari perjuangan sunyi itu akhirnya berbuah manis:
·
Haikal Muhammad Arfan (Kelas
VIII): Meraih Juara I Tanding Kelas F Putra (Pra Remaja) dengan keberanian
yang tak tergoyahkan.
·
Hamzah Muhammad Radif (Kelas
XI): Menyabet Juara II Tanding Kelas D Putra (Remaja) lewat kegigihan luar
biasa.
·
Muhammad Ali Muhasibi &
Raihan Saajid Gunawan (Kelas VIII): Berbagi tempat di podium Juara III
Tanding Kelas D Putra (Pra Remaja).
·
Ibadurrohman (Kelas XI):
Mengamankan posisi Juara III Tanding Kelas F Putra (Remaja).
Titisan keringat di gelanggang pertandingan hari itu
berubah menjadi deretan medali yang berkilau.
Kemenangan ini mengirimkan pesan mendalam: dari balik
tembok pesantren yang tenang, lahir generasi muda yang tangguh, berakhlak
mulia, dan pantang menyerah menghadapi kerasnya tantangan zaman.
Kemenangan sejati tidak hanya diukur dari podium tempat
berdiri, melainkan dari karakter dan kebeningan hati yang dibentuk selama
prosesnya.
Gelanggang Ciamis telah menjadi saksi bahwa ketika niat
lurus berpadu dengan kerja keras tanpa tepi, tidak ada impian yang terlalu
tinggi untuk digapai.[Rizki]

Posting Komentar untuk "Dari Matras Laga Menuju Puncak Juara: Ketika Keringat Santri Berpadu Doa dan Gelora Jiwa"