PELITA MAJALENGKA - Selasa, 6 Oktober 2026, mentari merayap tenang menembus celah-celah dedaunan di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih. Pagi itu, sekitar pukul sepuluh, sebuah mobil Terios meluncur perlahan meninggalkan kompleks Pesantren Tahfidz Qur’an Nurul Bayan.
Di dalamnya,
ada hangat tawa dan asa dari rombongan kami—Jeje Abdul Jamil, Cep Yuda Permana,
Agus Salim, Abdul Halim, dan saya sendiri
Bahron A. Perjalanan
hari ini bukan sekadar melintasi kilometer jalanan Majalengka, melainkan sebuah
ikhtiar menjalin tali silaturahmi yang sarat makna.
Tujuan kami
adalah kediaman Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhamad Ramdhan. Sebelum
benar-benar meninggalkan kawasan Lemahsugih, kendaraan kami menepi sejenak di
Pasirhanja untuk menjemput Pak Rusmana. Pak Rus, begitu kami akrab menyapanya,
adalah wasilah penting dalam perjalanan ini. Hubungan dekat dan
persahabatan lama beliau dengan Pak Wakil Bupati menjadi jembatan pembuka
jalan, hingga kami mendapatkan kehormatan untuk disambut langsung di rumah
kediamannya.
Rencana awal untuk melintasi jalur Cihaur terpaksa kami urungkan usai mendengar kabar bahwa ruas jalan tersebut rusak dan sulit dilalui mobil. Akhirnya, kami memilih mengambil rute melingkar via Talaga.
Keputusan ini justru memberi kita ruang
untuk menyerap keindahan alam dan menikmati perjalanan selama dua jam. Di
sepanjang jalan, Pak Rus banyak bercerita tentang sosok pemimpin muda yang
hendak kami temui, mengalirkan kisah-kisah hangat yang kian memupuk rasa
penasaran dan hormat kami.
Selepas
melaksanakannya shalat Zuhur, roda kendaraan kami akhirnya berhenti di halaman
rumah Pak Wakil Bupati. Dua anggota Satpol PP yang berjaga menyambut kami
dengan ramah. Setelah menjawab salam kami. Salah
satu dari mereka bertanya.
"Apakah
sudah ada janji dengan Bapak?" tanya salah seorang dari mereka.
"Sudah
janjian, Pak. Ketemunya bakda Zuhur ini," jawab Pak Rus lugas.
"Baik Pak,
kalau begitu ditunggu saja," balasnya ramah.
Di beranda rumah yang asri, kami duduk sejenak. Pak Rus terus mencairkan suasana dengan canda dan obrolan ringan. Namun, penantian itu tak berlangsung lama. Sebuah mobil hitam masuk ke garasi rumah. Dari dalam mobil itu keluar sosok pejabat muda yang enerjik itu.
Tanpa sekat protokoler yang kaku, Dena Muhamad Ramdhan
menyalami kami satu per satu dengan senyum tulus yang mengembang, lalu mengajak
kami masuk ke dalam rumahnya.
Rasa syukur membuncah di dalam dada. Di hadapan kami duduk seorang pemimpin muda yang tidak hanya santun, tetapi juga berhati luas. Dengan penuh kerendahan hati, beliau mempersilahkan kami duduk, dan asistennya tak lama menyuguhkan air mineral.
Ia pun membuka pembicaraan secara hangat,
menanyakan kabar serta apa yang bisa dibantu untuk rombongan kami.
Kang Jeje, sebagai perwakilan rombongan, mengawali perbincangan dengan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas penerimaan yang luar biasa ini. Di sela-sela kesibukan dinasnya yang padat, beliau masih berkenan menyisihkan waktu dan ruang pribadinya untuk menerima warganya.
Kang Jeje lantas menyampaikan ikhtiar
dan cita-cita kami terkait pengembangan lembaga pendidikan Pesantren Tahfidz
Qur’an Nurul Bayan yang terletak di Blok Cintabakti RT 003 RW 004, Desa Mekarwangi.
Mendengar pemaparan tersebut, raut wajah Pak Wabup tampak penuh perhatian. Dengan nada mantap, beliau menegaskan kesiapannya untuk mendukung dan membantu apa yang bisa diupayakan demi kemajuan pesantren dan syiar Al-Qur'an di tanah Majalengka.
Perbincangan yang berlangsung selama lebih dari setengah jam itu
terasa begitu singkat. Sifatnya yang humble dan tidak membeda-bedakan
tamu membuat suasana mengalir tanpa rasa canggung.
Waktu jua yang memaksa kami untuk pamit. Sebelum melangkahkan kaki keluar, kami menyempatkan diri untuk mengabadikan momen tersebut dalam selembar foto bersama—sebuah kenang-kenangan manis tentang kerendahan hati seorang pemimpin.
Besar harapan
kami, di lain kesempatan, giliran beliau yang berkenan melangkah dan
bersilaturahmi ke Pesantren Tahfidz Qur’an Nurul Bayan.
Saat mobil kami
perlahan bergerak meninggalkan rumah itu, tak ada kata yang sanggup terucap di
dalam hati ini selain seutas doa yang terpanjat tulus: Semoga Allah SWT
senantiasa menjaga Pak Dena beserta keluarga dari segala keburukan, memudahkan
setiap urusannya, serta mengaruniakan kesehatan wal afiat agar dapat terus
membersamai warga Majalengka menuju perubahan yang langkung sae (lebih baik).
Perjalanan hari
ini mengajarkan kami bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari tingginya
benteng istana, melainkan dari keterbukaan pintu hati untuk mendengarkan dan
mengayomi.[BA]

Posting Komentar untuk "Menjemput Keberkahan di Majalengka: Jejak Langkah dan Ketulusan Sang Pemimpin Muda"