(Foto: IDN Time)
PELITA MAJALENGKA - Ada dosa yang mudah kita ingat. Kita ingat ketika mengambil hak orang lain. Kita ingat ketika meninggalkan shalat. Kita ingat ketika berbuat maksiat. Tetapi ada dosa yang sering kita lupakan: menyakiti hati orang lain. Kita mungkin sudah lupa kalimat yang pernah kita ucapkan. Kita mungkin menganggapnya hanya candaan. Kita mungkin merasa itu persoalan kecil. Tetapi bisa jadi, orang yang mendengarnya masih mengingatnya sampai hari ini.
Allah
berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat
tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul
kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58). Perhatikan kata yu’dzūna—menyakiti.
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kejahatan besar. Menyakiti seorang
mukmin tanpa alasan pun disebut sebagai dosa yang nyata. Artinya, hati
manusia bukan sesuatu yang boleh kita perlakukan sesuka hati.
Pernahkah kita
membuat seseorang menangis, lalu kita tidur dengan tenang? Pernahkah kita
mematahkan semangat seseorang hanya karena satu kalimat? Pernahkah kita
mempermalukan seseorang di depan banyak orang, lalu berkata, “Ah, cuma
bercanda”? Pernahkah kita mengabaikan seseorang yang sebenarnya sedang
membutuhkan perhatian kita? Bisa jadi bagi kita hanya beberapa detik. Tetapi
bagi orang lain, luka itu mungkin bertahun-tahun.
Yang lebih
menakutkan, terkadang kita menyakiti orang yang paling dekat dengan kita.
Pasangan. Anak. Orang tua. Saudara. Teman. Murid. Tetangga. Bahkan orang yang
selama ini paling banyak membantu kita. Kita terlalu mudah bersikap lembut
kepada orang jauh, tetapi kasar kepada orang rumah. Kita menjaga ucapan di
depan banyak orang, tetapi kehilangan kendali ketika berhadapan dengan
keluarga. Padahal, akhlak yang sebenarnya sering terlihat bukan ketika kita
berada di hadapan manusia, tetapi ketika tidak ada tepuk tangan yang
menyaksikan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang
Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim). Perhatikan: keselamatan orang lain dari lisan
disebut sebelum tangan. Sebab luka dari tangan mungkin terlihat. Luka dari
lisan sering tidak terlihat. Tidak ada darah. Tidak ada perban. Tidak ada rumah
sakit. Tetapi satu kalimat bisa tinggal sangat lama di dalam ingatan seseorang.
Kita sering
sibuk menghitung amal kita. Berapa kali kita sedekah. Berapa kali kita membaca
Al-Qur’an. Berapa banyak kajian yang kita hadiri. Berapa banyak orang yang kita
nasihati. Tetapi pernahkah kita menghitung berapa banyak hati yang terluka
karena kita? Berapa orang yang kehilangan kepercayaan kepada kita? Berapa
orang yang menangis diam-diam setelah berbicara dengan kita? Berapa orang yang
memilih diam karena merasa percuma menjelaskan perasaannya kepada kita?
Muhasabah tidak
selalu bertanya, “Apa yang sudah kita lakukan untuk Allah?” Kadang
muhasabah yang lebih menakutkan adalah: “Siapa yang terluka karena kita?”
Jangan-jangan kita rajin memperbaiki hubungan kita dengan Allah, tetapi lalai
memperbaiki hubungan dengan manusia. Jangan-jangan kita mudah meminta ampun
kepada Allah, tetapi terlalu gengsi meminta maaf kepada orang yang pernah kita
sakiti.
Ada orang yang
mungkin tidak pernah membalas kejahatan kita. Ia hanya diam. Ia tersenyum. Ia
menjauh. Kita mengira semuanya selesai. Padahal diamnya bukan berarti lukanya
hilang. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa orang yang bangkrut di akhirat bukan hanya
orang yang tidak memiliki harta, tetapi orang yang membawa pahala, lalu pahala
itu diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. (HR. Muslim).
Maka malam ini,
sebelum tidur, mari kita berhenti sejenak. Ingat wajah-wajah yang pernah kita
bentak. Ingat orang yang pernah kita rendahkan. Ingat pesan yang pernah kita
abaikan. Ingat janji yang pernah kita ingkari. Ingat kata-kata yang kita anggap
sepele, tetapi mungkin menjadi luka bagi seseorang.
Kemudian
tanyakan kepada diri kita sendiri: “Jika hari ini adalah hari terakhir hidup
kita, masih adakah hati yang perlu kita datangi untuk meminta maaf?”
Jangan menunggu
kematian untuk menyadari kesalahan. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai
seseorang. Jangan menunggu seseorang pergi untuk mengatakan bahwa kita
mencintainya.
Sebab bisa
jadi, orang yang hari ini masih bisa kita temui, besok sudah berada di bawah
tanah. Dan pada saat itu, kita hanya memiliki penyesalan.
Ya Allah,
lembutkan lisan kami. Bersihkan hati kami. Jangan jadikan kami sebab air mata
orang lain. Jika pernah ada hati yang kami sakiti, berilah kami keberanian
untuk meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan menjadi manusia yang lebih baik
sebelum kami kembali kepada-Mu. Aamiin.[BA]
.jpg)
Posting Komentar untuk "Berapa Banyak Hati yang Pernah Kita Sakiti? Memetik Ibroh dari QS. Al-Ahzab: 58"