Foto: BA
PELITA MAJALENGKA - Di balik lalu lalang pelayanan publik di Gedung Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, Jalan Raya K.H. Abdul Halim No. 233, tersimpan sebuah komitmen mulia untuk menghadirkan iklim belajar yang adaptif dan kokoh secara karakter.Semboyan "Memberikan pelayanan pendidikan terbaik untuk mencerdaskan generasi bangsa" bukan sekadar kalimat penghias dinding, melainkan napas dari setiap senyum dan keterbukaan layanan administrasi di sana.
Nilai pelayanan itu terasa hangat pada Rabu, 7 Oktober kemarin. Pagi di Pondok Pesantren Tahfidz Qur'an Nurul Bayan, Lemahsugih, dimulai dengan asa yang membumbung tinggi.
Lima anggota tim meluncur menembus jalanan Majalengka mengendarai mobil Terios keluaran 2010. Pukul sepuluh pagi mereka berangkat, membawa mimpi besar demi masa depan para santri dan anak-anak di pelosok desa.
Sebelum tiba di tujuan, mereka mampir sejenak mengganjal perut di sebuah warung prasmanan khas Sunda.
Hidangan hangat yang dinikmati bersama menjadi bahan bakar semangat sebelum menuntaskan niat suci hari itu.
Menjelang pukul sebelas, kendaraan tiba di seberang Alun-Alun Majalengka yang asri dan penuh tawa anak-anak. Di lobi Gedung Dinas Pendidikan, seorang staf ASN berkerudung rapi menyambut dengan santun.
Namun, ketika menyampaikan niat menemui Kepala Dinas sesuai arahan Wakil Bupati Majalengka, takdir meminta mereka belajar mengeja kesabaran—Bapak Kadis sedang bertugas di luar, sementara pejabat alternatif, Kepala Bidang PKBM dan TK, sedang memimpin rapat penting.
Satu jam lebih waktu penantian tak membuat niat mereka surut. Memasuki waktu zuhur, langkah kaki diayunkan menuju Masjid Agung Al-Imam di barat alun-alun.
Di beranda masjid bersejarah yang teduh itu, yang tak jaud dari Pendopo, kelima utusan pesantren melepas lelah. Ada yang merebahkan badan di lantai dingin, ada yang memeriksa kabar di layar ponsel, dan ada yang saling bertukar senyum menguatkan satu sama lain di tengah teriknya sengatan matahari Majalengka.
Kesabaran yang dibalut doa itu berbuah manis selepas shalat. Mereka dipanggil memasuki ruang kerja Kepala Bidang PAUD Dikmas, Pak Budie Winarto, S.Pd., M.I.P.
Sosok pejabat yang ramah dan pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan ini menyambut mereka tanpa jarak.
Kehangatan seketika membuncah saat terungkap sebuah takdir kecil: Pak Budie adalah putra asli Cibulan, daerah yang berada dalam satu kecamatan dengan Pesantren Nurul Bayan di Lemahsugih. Dinding pembatas antara pejabat dan masyarakat seketika runtuh.
Rasa kekeluargaan sebagai sesama "orang lembur" menyatu begitu alami. Tanpa canggung, Pak Budie bahkan mengambilkan sendiri air mineral dingin untuk membasahi tenggorokan para tamunya yang dahaga.
Di ruangan yang sejuk itu, obrolan mengalir penuh rasa empati. Tim Nurul Bayan memaparkan ikhtiar mereka dalam membina generasi penghafal Al-Qur'an.
Sementara itu, Pak Budie memberikan arahan yang teramat berharga mengenai prosedur formalisasi TK dan pendirian Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Perjalanan yang diawali dengan penantian panjang dan terik matahari itu ditutup dengan swafoto bersama dan senyuman hangat.
Sebuah bukti nyata bahwa di balik birokrasi, selalu ada ruang bagi nilai kemanusiaan, keakraban, dan harapan yang membimbing langkah pendidikan ke arah yang lebih cerah.[BA]

Posting Komentar untuk "Merajut Asa Pendidikan dari Ponpes Tahfidz Nurul Bayan: Silaturahmi, Penantian, dan Buah Kesabaran"