Ketika Subuh Menjadi Jalan Menyelami Kalam Allah


PELITA MAJALENGKA
,  Tasikmalaya — Saat sebagian orang masih terlelap dalam dinginnya pagi, Masjid Aayatul Muthmainnah telah dipenuhi suasana keilmuan. Jumat Subuh, 11 September 2026, para asatidz dan asatidzah Pondok Pesantren Al Jama'ah duduk bersama dalam sebuah kajian yang mengajak mereka kembali mendekat kepada sumber utama kehidupan seorang Muslim: Al-Qur'an.

Kajian tersebut menghadirkan Al Ustadz Rafi Abdul Rafi, M.Pd.I. sebagai penceramah. Bukan sekadar membaca ayat demi ayat, kajian kali ini mengajak para peserta untuk menyelami makna dan kandungan Al-Qur'an melalui kajian tafsir.

Kitab Tafsir Misbahul Munir fii Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir karya Syaikh Shofiyurrahman Al-Mubarokfuuri menjadi bahan utama pembahasan. Dari lembaran tafsir itulah, para peserta diajak memahami bahwa Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami, direnungkan, kemudian dihidupkan dalam kehidupan.

Ustadz Rafi menegaskan, mempelajari kandungan Al-Qur'an bukan sekadar aktivitas tambahan bagi seorang Muslim. Ada perintah Allah yang menuntut umat Islam untuk berusaha memahami petunjuk yang terkandung di dalam kitab-Nya.

“Betapa pentingnya kita sebagai seorang Muslim untuk memahami Al-Qur'an, karena ini merupakan perintah Allah SWT. Maka wajib atas ulama dan kaum muslimin khususnya untuk senantiasa membuka, membaca, dan mempelajari tafsir Al-Qur'an secara mendalam untuk mencari pemahaman dan mengambil pelajaran dan keutamaan dari Al-Qur'an,” ujar Ustadz Rafi di hadapan para asatidz dan asatidzah.

Pesan tersebut terasa semakin penting bagi para pendidik. Sebab, mereka bukan hanya dituntut memahami ilmu untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki amanah untuk menyampaikan kembali ilmu tersebut kepada generasi berikutnya.

Seorang guru yang dekat dengan Al-Qur'an diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca teksnya. Ia perlu berusaha memahami pesan yang dikandungnya, mengambil pelajaran darinya, lalu menjadikannya bekal dalam mendidik para santri.

Karena itu, kajian tafsir menjadi salah satu ruang penting untuk memperluas wawasan keilmuan para pendidik di Pondok Pesantren Al Jama'ah. Dari majelis kecil di waktu Subuh, diharapkan lahir pemahaman yang kemudian mengalir lebih luas—dari guru kepada santri, dari santri kepada keluarga, dan dari keluarga kepada masyarakat.

Kajian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan Al-Qur'an tidak cukup hanya dengan memiliki mushaf atau rutin membacanya. Ada perjalanan ilmu yang perlu ditempuh: membaca, memahami, merenungkan, mengambil pelajaran, kemudian mengamalkannya.

Subuh itu akhirnya bukan hanya tentang memulai hari. Ia bisa menjadi awal untuk kembali membuka Al-Qur'an, membuka tafsirnya, dan membuka hati untuk menerima petunjuk Allah.[Rizki] 

Posting Komentar untuk "Ketika Subuh Menjadi Jalan Menyelami Kalam Allah"