Racun Akhir Zaman: Budaya Umbar Aurat dan Tabarruj (2)


PELITA MAJALENGKA
- KITA hidup di zaman ketika hampir semua orang ingin dilihat. Wajah dipajang, tubuh dipamerkan, kehidupan pribadi dijadikan tontonan, bahkan hal-hal yang dahulu dijaga sebagai kehormatan kini dianggap biasa untuk dibagikan. 

Banyak perempuan tidak lagi bertanya, “Apakah ini baik untuk jiwaku?” tetapi, “Apakah ini cukup menarik untuk mendapatkan perhatian?” Perlahan-lahan, nilai diri dipindahkan dari tempat yang mulia—iman dan akhlak—ke tempat yang rapuh: pandangan manusia, jumlah pengikut, komentar, dan tanda suka.

Rasulullah mengingatkan tentang zaman kasiyātun ‘āriyāt—perempuan yang berpakaian, tetapi pada hakikatnya telanjang. Peringatan ini bukan sekadar tentang jenis kain atau model pakaian, melainkan tentang hilangnya fungsi pakaian sebagai penjaga kehormatan. 

Tubuh mungkin tertutup sebagian, tetapi lekuknya sengaja ditonjolkan; pakaian mungkin tampak indah, tetapi tujuannya mengundang pandangan; penampilan mungkin disebut kebebasan, tetapi diam-diam hati telah diperbudak oleh kebutuhan untuk dipuji. Inilah paradoks zaman kita: semakin banyak yang ditampilkan, semakin sedikit yang benar-benar terlindungi.

Tabarruj tidak selalu datang dengan wajah yang kasar. Ia bisa hadir dalam bentuk tren, konten, tantangan viral, dan nasihat palsu yang berkata, “Jadilah dirimu sendiri,” padahal yang dimaksud adalah, “Tampilkan dirimu agar dikonsumsi mata.” Algoritma digital memahami kelemahan manusia: apa yang menarik perhatian akan terus didorong, dan apa yang mengundang pandangan akan terus diproduksi. 

Akibatnya, sesuatu yang dahulu membuat malu perlahan dibuat tampak normal, lalu dibuat tampak keren, kemudian dianggap sebagai hak yang tidak boleh dikritik. Ketika dosa dikemas dengan estetika, hati bisa kehilangan kemampuan untuk mengenalinya.

Yang paling menyedihkan, budaya ini sering menyakiti perempuan dari dua arah. Ia mendorong perempuan untuk memamerkan diri demi validasi, tetapi pada saat yang sama menjadikan tubuhnya sasaran penilaian, komentar, pelecehan, dan perbandingan. Perempuan dipuji ketika sesuai selera pasar, lalu dihukum ketika mulai menua, berubah bentuk, atau tidak lagi menarik perhatian. Padahal seorang wanita bukan etalase yang harus selalu tampak sempurna. Ia adalah manusia yang memiliki jiwa, pikiran, luka, impian, dan hubungan yang dalam dengan Tuhannya.

Di tengah budaya yang gemar menampilkan segala sesuatu, Allah memperkenalkan gambaran yang sangat indah dalam QS. Ar-Rahman ayat 72: “Bidadari-bidadari yang dipingit dalam kemah-kemah.” Maqṣūrātun fil-khiyām mengajarkan keindahan yang tidak murahan, kemuliaan yang tidak diumbar, dan pesona yang tidak diserahkan kepada semua mata. 

Ada keindahan yang justru semakin bernilai karena dijaga. Ada kemuliaan yang tidak membutuhkan panggung. Tidak semua yang indah harus dipertontonkan, dan tidak semua yang disembunyikan berarti tidak berharga.

Inilah pelajaran tentang izzah: kemuliaan dan harga diri yang tidak bergantung pada berapa banyak mata yang melihat seorang wanita. Nilai seorang perempuan bukan terletak pada seberapa sering ia menjadi bahan pembicaraan, melainkan pada seberapa kuat ia menjaga dirinya ketika tidak ada yang memuji. 

Ia tidak harus membuktikan kecantikannya kepada dunia dengan membuka apa yang seharusnya dijaga. Ia boleh berkata, “Tidak semua orang berhak mengakses diriku, tubuhku, waktuku, dan kehidupanku.” Kalimat itu bukan kelemahan, melainkan tanda bahwa ia telah mengenal harga dirinya.

Rumah, hijab, dan rasa malu bukanlah penjara bagi perempuan yang memahami kemuliaannya. Rumah dapat menjadi tempat pulang bagi jiwa, hijab menjadi batas yang melindungi kehormatan, dan rasa malu menjadi cahaya yang mencegah seseorang menjual dirinya demi tepuk tangan. Tentu, menjaga diri tidak berarti perempuan harus berhenti belajar, berkarya, berbicara, atau berkontribusi. 

Ia tetap dapat hadir di tengah masyarakat dengan cerdas dan kuat, tetapi tidak perlu mengorbankan aurat, martabat, dan ketenangan hatinya untuk mendapatkan tempat di dalamnya. *Kemah-kemah surga mengajarkan bahwa perlindungan bukan penghapusan, melainkan penjagaan terhadap sesuatu yang berharga.*

Maka perubahan dapat dimulai dari hal-hal yang nyata: meninjau kembali pakaian yang dikenakan, membersihkan media sosial dari konten yang merusak rasa malu, berhenti mengejar perhatian yang tidak mendidik, dan berani memilih kesederhanaan meski tidak sedang menjadi tren. Namun tanggung jawab ini bukan hanya milik perempuan. 

Laki-laki juga wajib mendidik pandangannya, menghentikan kebiasaan menikmati aurat, tidak menyalahkan korban, dan tidak menjadikan perempuan sebagai objek. Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang menuntut perempuan terus menutup diri sementara laki-laki bebas menuruti mata, melainkan masyarakat yang bersama-sama menjaga kehormatan.

Pada akhirnya, setiap perempuan perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah aku sedang memperlihatkan diriku karena bahagia, atau karena haus pengakuan? Apakah penampilanku lahir dari rasa syukur, atau dari ketakutan bahwa aku tidak akan dicintai jika tidak terlihat? Dunia mungkin memanggil kita untuk membuka lebih banyak, tetapi Allah mengajarkan bahwa kemuliaan kadang tumbuh dalam sesuatu yang kita pilih untuk sembunyikan. 

Jadilah wanita yang tidak mudah dikonsumsi pandangan, tidak mudah dibeli pujian, dan tidak mudah ditundukkan tren. Karena kecantikan yang paling tinggi bukanlah kecantikan yang dimiliki semua mata, melainkan kemuliaan yang dijaga untuk Allah—seperti permata yang tetap berharga meski tidak dipamerkan kepada siapa saja. Wallahua'lam.(BA) 

Posting Komentar untuk "Racun Akhir Zaman: Budaya Umbar Aurat dan Tabarruj (2)"