Anak Banyak Dipuji, Tapi Mengapa Mentalnya Mudah Rapuh?


PELITA MAJALENGKA
Mereka bukan hanya butuh pujian. Mereka juga perlu belajar menerima teguran, menghadapi kegagalan, menanggung konsekuensi, dan bangkit ketika tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Ada anak yang usianya belum genap sembilan tahun, tetapi sudah mudah menangis ketika dikoreksi. Sedikit ditegur langsung merasa dirinya tidak disayang. Kalah bermain menjadi marah. Nilainya turun sedikit merasa dirinya bodoh. Tidak mendapatkan pujian membuatnya kehilangan semangat. Kita perlu bertanya: apakah anak sedang kurang kasih sayang, atau justru terlalu lama dibesarkan dalam lingkungan yang membuatnya tidak siap menghadapi kenyataan?

Pujian tentu bukan sesuatu yang salah. Anak membutuhkan apresiasi, penghargaan, kasih sayang, dan penguatan positif. Persoalannya adalah ketika semua hal dipuji tanpa ukuran, termasuk ketika anak melakukan kesalahan. Anak akhirnya tidak belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang layak dipertahankan dan mana yang harus diperbaiki.

Dalam psikologi pendidikan, Carol Dweck dan para peneliti membedakan antara person praise dan process praise. Memuji anak dengan mengatakan, “Kamu memang pintar,” dapat membuat anak mengikat harga dirinya pada label “pintar”. Sebaliknya, memuji usaha dan strategi seperti, “Kamu sudah berusaha keras dan menemukan cara yang lebih baik,” membantu anak membangun pola pikir berkembang. American Psychological Association menjelaskan bahwa pujian terhadap usaha dan strategi berkaitan dengan ketekunan, pencarian tantangan, dan kemampuan bangkit ketika menghadapi kesulitan.

Di sinilah orang tua dan guru harus berhati-hati. Anak tidak boleh dibuat kecanduan pujian. Sebab kehidupan tidak akan selalu memberinya tepuk tangan. Kelak ia akan bertemu guru yang mengoreksi, teman yang tidak menyukainya, atasan yang menilai pekerjaannya, kegagalan yang menyakitkan, bahkan kenyataan bahwa tidak semua keinginannya bisa diwujudkan.

Kalau sejak kecil setiap kesalahan selalu dibela, setiap kegagalan selalu dicarikan alasan, dan setiap perilaku selalu disebut “hebat”, anak bisa kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan kritik. Ia bukan menjadi kuat, tetapi menjadi sangat bergantung pada penilaian orang lain. Ketika pujian berhenti, kepercayaan dirinya ikut berhenti.

Karena itu, menegur anak bukan berarti membenci anak. Justru teguran yang benar adalah bagian dari kasih sayang. Anak perlu mendengar, “Kamu anak yang Ayah sayangi, tetapi perbuatanmu kali ini salah.” Kalimat seperti ini mengajarkan satu pelajaran penting: kesalahan tidak sama dengan kehancuran harga diri.

Al-Qur’an bahkan memberikan gambaran pendidikan yang sangat indah melalui nasihat Luqman kepada putranya. Luqman tidak hanya mengajarkan tauhid dan ibadah, tetapi juga amar makruf nahi mungkar dan kesabaran menghadapi apa yang menimpa. Artinya, pendidikan anak bukan sekadar membuat mereka merasa nyaman; pendidikan juga mempersiapkan mereka memiliki keteguhan jiwa ketika menghadapi ketidaknyamanan.

Perhatikan kalimat Luqman: “...dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu...” (QS. Luqman: 17). Ini sangat dalam. Anak tidak hanya diajari mendapatkan sesuatu, tetapi juga diajari bagaimana menghadapi sesuatu yang tidak ia sukai. Ia tidak hanya disiapkan untuk menang, tetapi juga untuk kalah. Tidak hanya menerima penghargaan, tetapi juga menerima koreksi.

Sunnah Nabi ﷺ pun menunjukkan bahwa pendidikan anak mengandung unsur pembiasaan, pengarahan, perintah, dan disiplin. Dalam hadis tentang shalat, anak diperintahkan untuk mulai diajari shalat sejak usia tujuh tahun dan diberikan disiplin yang lebih tegas pada usia sepuluh tahun. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam bukan pendidikan yang membiarkan anak melakukan apa saja atas nama “kebebasan”.

Para ulama memahami tarbiyah sebagai proses membimbing manusia menuju kebaikan secara bertahap. Anak membutuhkan rahmah, tetapi juga membutuhkan ta’dib—pembentukan adab dan disiplin. Kasih sayang tanpa batas yang jelas dapat berubah menjadi memanjakan; sementara disiplin tanpa kasih sayang dapat berubah menjadi kekerasan. Pendidikan yang sehat membutuhkan keduanya: hati yang lembut dan batas yang tegas.

Maka mulai sekarang, jangan hanya bertanya, “Sudahkah saya memuji anak?” Tanyakan pula, “Sudahkah saya mengajarinya menerima kesalahan?” Sudahkah kita membiarkannya menyelesaikan masalah sederhana sendiri? Sudahkah kita membiarkannya merasakan konsekuensi dari kelalaiannya? Sudahkah kita mengajarinya meminta maaf tanpa mencari kambing hitam?

Anak yang kuat bukan anak yang selalu dipuji. Anak yang kuat adalah anak yang tahu dirinya dicintai meskipun sedang dikoreksi, tahu bahwa gagal bukan akhir kehidupan, dan tahu bahwa kesalahan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.

Jangan wariskan kepada anak sebuah dunia khayalan bahwa ia selalu hebat, selalu benar, dan selalu harus menang. Wariskan kepadanya sesuatu yang jauh lebih berharga: iman yang kokoh, adab yang baik, keberanian menerima kebenaran, kesabaran menghadapi kesulitan, dan kemampuan untuk bangkit setiap kali jatuh.

Sebab suatu hari nanti, Ayah dan Ibu tidak akan selalu berada di sampingnya. Guru juga tidak akan selalu mendampinginya. Ketika dunia memberikan pukulan pertamanya, semoga anak kita tidak hancur karena selama ini hanya mengenal pujian. Semoga ia berdiri, mengusap air mata, mengevaluasi diri, lalu berkata: “Aku harus belajar lagi. Aku harus memperbaikinya. Aku akan bangkit.”

Itulah mental yang sesungguhnya kuat. Bukan mental yang tidak pernah menangis, tetapi mental yang tetap mampu berjalan setelah menangis.[BA]

Posting Komentar untuk "Anak Banyak Dipuji, Tapi Mengapa Mentalnya Mudah Rapuh?"