KPI: Mencetak Komunikator Islam Masa Depan


PELITA MAJALENGKA -
Di tengah derasnya arus informasi, perubahan teknologi, dan perang narasi yang semakin kompleks, dunia Islam membutuhkan lebih dari sekadar orang yang mampu berbicara. Umat membutuhkan komunikator Islam yang mampu menyampaikan kebenaran dengan ilmu, membangun kepercayaan dengan akhlak, serta menghadirkan dakwah melalui bahasa yang dipahami masyarakat zaman ini. Di sinilah Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) memiliki posisi yang sangat strategis.

KPI tidak boleh dipandang hanya sebagai program studi yang mengajarkan teori komunikasi, jurnalistik, penyiaran, atau produksi media. KPI seharusnya menjadi ruang kaderisasi komunikator Islam masa depan—generasi yang menguasai ilmu komunikasi sekaligus memiliki kemampuan dakwah, baik bil lisan maupun bil digital. Mereka harus mampu berdiri di mimbar, berbicara di depan kamera, menulis berita, membuat podcast, mengelola media sosial, memproduksi film, membangun personal branding, hingga mengembangkan strategi komunikasi dakwah di tengah masyarakat digital.

Para pemangku kepentingan perguruan tinggi perlu melihat perubahan ini sebagai peluang besar. Dunia komunikasi sedang berkembang sangat cepat. Profesi komunikasi tidak lagi terbatas pada wartawan, penyiar radio, presenter televisi, atau humas. Hari ini lahir berbagai profesi baru: content creator, social media strategist, digital storyteller, copywriter, podcaster, digital journalist, public relations specialist, communication consultant, brand communication, hingga pengelola media dakwah digital.

Artinya, lulusan KPI sesungguhnya memiliki ruang pengabdian dan lapangan kerja yang sangat luas. Persoalannya bukan apakah prospek KPI ada, tetapi apakah perguruan tinggi mampu menyiapkan lulusan yang benar-benar kompeten dan relevan dengan kebutuhan zaman?

Mahasiswa KPI harus didorong menjadi generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang dakwah, tetapi mampu mempraktikkan dakwah secara kreatif, profesional, dan bertanggung jawab. Mereka harus belajar bagaimana menyusun pesan yang kuat, memahami karakter audiens, membaca algoritma media sosial, menguasai teknik produksi konten, melakukan riset khalayak, mengelola krisis komunikasi, sekaligus memahami etika Islam dalam menyampaikan informasi.

Dakwah hari ini tidak cukup hanya menunggu manusia datang ke masjid. Pesan-pesan Islam harus hadir di ruang tempat manusia menghabiskan waktunya. Ketika jutaan orang membuka TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, podcast, dan berbagai platform digital setiap hari, maka para mahasiswa KPI harus disiapkan untuk menjadi dai yang mampu memasuki ruang-ruang tersebut dengan ilmu dan kreativitas.

Namun, kemampuan digital saja tidak cukup. Seorang komunikator Islam harus memiliki fondasi keislaman yang kokoh. Ia harus memahami Al-Qur’an, hadis, akhlak, fikih dakwah, sejarah Islam, serta prinsip-prinsip komunikasi Islam. Sebab kecanggihan teknologi tanpa kedalaman ilmu dapat melahirkan konten yang viral tetapi kehilangan nilai. Sebaliknya, ilmu agama tanpa kemampuan komunikasi dapat membuat pesan kebaikan sulit menjangkau masyarakat luas.

Karena itu, paradigma pendidikan KPI perlu diarahkan pada perpaduan “kompeten dalam komunikasi, kuat dalam keislaman, kreatif dalam dakwah, dan profesional dalam karya.” Mahasiswa tidak cukup hanya mendapatkan nilai dari ruang kelas. Mereka harus memiliki portofolio nyata sebelum lulus: karya jurnalistik, video dakwah, podcast, desain kampanye digital, tulisan, dokumenter, program radio, kanal media sosial, hingga proyek komunikasi masyarakat.

Kampus juga perlu membangun ekosistem yang mendukung. Program studi KPI dapat mengembangkan laboratorium media, studio podcast, newsroom mahasiswa, media dakwah digital, production house, inkubator bisnis komunikasi, serta kerja sama dengan media, pesantren, lembaga dakwah, industri kreatif, dan institusi pemerintahan. Dengan demikian, mahasiswa belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari persoalan nyata.

Dan yang paling penting, alumni KPI harus memiliki kebanggaan terhadap profesinya. Mereka bukan “sekadar lulusan KPI”. Mereka adalah calon komunikator, jurnalis, penyiar, praktisi humas, kreator digital, konsultan komunikasi, pengelola media, dan dai profesional yang membawa nilai-nilai Islam ke tengah masyarakat.

KPI memiliki masa depan yang besar jika berani melakukan transformasi. Kampus yang mampu melahirkan komunikator Islam yang cerdas, berakhlak, melek teknologi, kreatif, dan profesional sesungguhnya sedang melakukan investasi besar bagi masa depan umat.

Sebab suatu hari nanti, ketika ruang publik dipenuhi jutaan suara, umat Islam membutuhkan generasi yang tidak sekadar ikut berbicara, tetapi tahu apa yang harus disampaikan, bagaimana menyampaikannya, kepada siapa pesan itu ditujukan, dan untuk perubahan apa komunikasi itu dilakukan.

Itulah misi besar KPI: bukan sekadar mencetak sarjana komunikasi, tetapi mencetak komunikator Islam masa depan—yang mampu mengubah kata menjadi cahaya, pesan menjadi perubahan, dan teknologi menjadi jalan dakwah.[BA]

  

Posting Komentar untuk "KPI: Mencetak Komunikator Islam Masa Depan"