Racun Akhir Zaman: Ketika Standar Cantik Dipisahkan dari Akhlak (1)


PELITA MAJALENGKA - 
KITA hidup di zaman ketika cermin tidak lagi hanya memantulkan wajah, tetapi juga menagih pengakuan. Setiap hari, perempuan disuguhi wajah yang telah disaring, tubuh yang telah diedit, dan gaya hidup yang dikemas seolah-olah itulah ukuran kebahagiaan. Lama-kelamaan, kita bukan hanya ingin terlihat cantik; kita merasa wajib memenuhi standar cantik yang terus bergerak, semakin tinggi, semakin mahal, dan semakin jauh dari diri sendiri. Di titik itulah kecantikan berubah dari anugerah menjadi beban.

Racun itu bekerja diam-diam. Ia masuk melalui layar ponsel, melalui iklan, komentar, video pendek, dan budaya visual yang menjadikan tubuh sebagai komoditas. Di zaman filter dan

pornografi, mata kita dilatih untuk melihat tubuh tanpa jiwa, lekuk tanpa martabat, dan penampilan tanpa akhlak. Perempuan akhirnya belajar membenci bagian tubuhnya sendiri, sementara laki-laki dibiasakan mengonsumsi keindahan tanpa tanggung jawab. Yang rusak bukan hanya cara kita memandang orang lain, melainkan juga cara kita memandang kemuliaan manusia.

Tidak sedikit perempuan yang tampak percaya diri di luar, tetapi diam-diam sedang berperang dengan rasa tidak cukup di dalam. Ia merasa terlalu gemuk, terlalu gelap, terlalu tua, terlalu biasa, atau tidak cukup menarik untuk dicintai. Ia menghabiskan waktu mengejar bentuk yang disukai pasar, padahal pasar tidak pernah benar-benar puas. Hari ini wajah tanpa pori dianggap cantik; besok tubuh tertentu menjadi tren; lusa standar itu berganti lagi. Jika harga diri diserahkan kepada algoritma, maka ketenangan jiwa akan selalu berada di tangan orang lain.

Al-Qur’an menawarkan koreksi yang sangat dalam melalui firman Allah dalam QS. Ar-Rahman ayat 70: “Di dalamnya ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi jelita”—khairātun ḥisān. Perhatikan urutannya: *baik terlebih dahulu, kemudian jelita. Ayat ini seakan mengguncang kesadaran kita bahwa keindahan yang Allah muliakan bukanlah kecantikan yang berdiri sendirian, melainkan kecantikan yang ditemani kebaikan. Solusinya ada di ayat ini: *khairat dan hisan, akhlak dan keindahan, jiwa dan raga, bukan salah satunya saja.

Bagi laki-laki, pesan ini adalah pendidikan untuk menjalankan ghaddul bashar, menundukkan pandangan. Menjaga mata bukan berarti membenci keindahan, melainkan menolak menjadikan manusia sebagai tontonan. Keindahan sejati yang Allah janjikan bukanlah sesuatu yang harus diburu melalui layar ponsel, konten vulgar, atau fantasi yang merusak kesucian hati. Laki-laki yang mampu menahan pandangan sedang membangun keteguhan jiwa, karena ia tidak membiarkan matanya menjadi pintu masuk bagi kerakusan.

Bagi perempuan, khairātun ḥisān adalah kabar yang membebaskan. Merawat wajah, tubuh, pakaian, dan penampilan tentu bukan dosa; yang perlu diluruskan adalah ketika semua itu menjadi satu-satunya sumber nilai diri. Inner beauty—kebaikan, ilmu, keteguhan, rasa malu, kasih sayang, kejujuran, dan kedewasaan—bukan aksesori tambahan setelah outer beauty. Ia adalah inti kecantikan yang membuat penampilan memiliki cahaya. Wajah yang indah dapat menarik pandangan, tetapi akhlaklah yang membuat seseorang layak dihormati dan dirindukan.

Karena itu, perempuan era digital perlu berani melakukan puasa dari standar yang melemahkan. Berhentilah mengikuti akun yang membuat kita terus membandingkan diri, batasi konten yang mengotori pandangan, dan pilihlah lingkungan yang menumbuhkan ilmu serta iman. Isi kembali ruang batin dengan membaca, berkarya, beribadah, melayani, dan membangun batas diri. Setiap kali muncul suara yang berkata, “Aku tidak cukup cantik,” jawablah dengan kesadaran: “Nilai diriku tidak ditentukan oleh kamera, komentar, atau jumlah orang yang menyukaiku.”

Kecantikan yang sehat bukanlah pengingkaran terhadap penampilan, tetapi penempatan penampilan pada tempatnya. Kita boleh tampil rapi tanpa menjadi budak penilaian manusia; boleh merawat diri tanpa menghina ciptaan Allah; boleh menyukai keindahan tanpa kehilangan kesopanan. Dunia membutuhkan perempuan yang bukan hanya enak dipandang, tetapi juga aman dipercaya, luas wawasannya, kuat prinsipnya, lembut hatinya, dan berani mengatakan tidak kepada sesuatu yang merendahkan martabatnya.

Pada akhirnya, yang akan bertahan bukanlah wajah yang paling sering dipuji, melainkan jiwa yang paling banyak memberi arti. Ketika filter menghilang, usia berjalan, dan layar ponsel padam, pertanyaan terbesar bukan lagi, “Seberapa cantik aku terlihat?” melainkan, “Kebaikan apa yang tumbuh dalam diriku?” Inilah saatnya perempuan merebut kembali definisi cantiknya, dan laki-laki mendidik kembali pandangannya. Sebab kecantikan yang utuh adalah ketika wajah tidak mempermalukan jiwa, dan jiwa tidak mengkhianati keindahan wajah—khairat sebelum hisan, baik sebelum jelita. Wallahua'lam.(BA) 

Posting Komentar untuk "Racun Akhir Zaman: Ketika Standar Cantik Dipisahkan dari Akhlak (1)"