PELIAT MAJALENGKA - Di tengah dunia yang dipenuhi hiruk-pikuk informasi, ada satu amal yang sering dianggap sederhana, padahal dampaknya mampu melintasi ruang dan waktu: menulis. Sebagian orang mengira bahwa menulis hanyalah pekerjaan penulis, wartawan, dosen, atau akademisi. Padahal, dalam pandangan Islam, menulis adalah salah satu bentuk dakwah yang paling panjang umurnya. Lisan hanya didengar oleh mereka yang hadir. Namun tulisan dapat dibaca oleh orang yang belum lahir pada hari ini. Lisan akan berhenti ketika suara menghilang, sedangkan tulisan akan terus berbicara ketika penulisnya telah berada di alam kubur. Karena itulah, menulis merupakan jihad yang tidak pernah mati.
Bukan tanpa
alasan Allah mengawali turunnya wahyu dengan perintah membaca, kemudian
langsung mengaitkannya dengan pena. Allah berfirman, "Bacalah dengan
nama Tuhanmu yang menciptakan... Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS.
Al-'Alaq: 1–5). Bahkan Allah mengabadikan kemuliaan pena dalam firman-Nya, "Nun.
Demi pena dan apa yang mereka tuliskan." (QS. Al-Qalam: 1). Para
mufasir menjelaskan bahwa Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang
memiliki kedudukan agung. Pena menjadi simbol ilmu, peradaban, dan warisan yang
terus hidup. Dengan pena, wahyu dicatat, ilmu dipelihara, sejarah dijaga, dan
generasi dibimbing.
Rasulullah ﷺ sendiri
memberikan teladan tentang pentingnya menjaga ilmu. Beliau memerintahkan para
sahabat untuk menulis dalam berbagai kesempatan. Wahyu ditulis oleh para
penulis wahyu, surat-surat dikirim kepada para raja, perjanjian dituliskan, dan
berbagai catatan penting didokumentasikan. Rasulullah ﷺ juga bersabda,
"Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat." (HR. Muhammad
al-Bukhari). Perintah ini berlaku sepanjang zaman. Jika dahulu dakwah dilakukan
melalui lembaran kulit dan tinta, maka hari ini ia dapat dilakukan melalui
buku, artikel, jurnal, website, hingga media digital. Sarana boleh berubah,
tetapi kewajiban menyampaikan kebenaran tetap sama.
Sejarah Islam
membuktikan bahwa kekuatan umat tidak hanya dibangun oleh pedang para mujahid,
tetapi juga oleh pena para ulama. Banyak negeri ditaklukkan dengan kekuatan
fisik, tetapi hati manusia ditaklukkan oleh ilmu. Kitab-kitab para ulama
menjadi benteng akidah, penjaga sunnah, sekaligus cahaya bagi umat hingga hari
ini. Tanpa tradisi menulis, mungkin kita tidak akan mengenal secara utuh
Al-Qur'an, hadis, fikih, tafsir, sirah, maupun sejarah Islam.
Lihatlah
perjuangan Muhammad al-Bukhari. Beliau menghabiskan belasan tahun mengembara
dari satu negeri ke negeri lain demi mengumpulkan hadis-hadis Rasulullah ﷺ. Ribuan
kilometer ditempuh, ribuan guru ditemui, ratusan ribu hadis diteliti dengan
sangat ketat. Dari sekitar enam ratus ribu riwayat yang beliau pelajari, hanya
sebagian kecil yang memenuhi syarat sangat ketat untuk dimasukkan ke dalam
kitab Shahih al-Bukhari. Setiap kali hendak menuliskan sebuah hadis,
diriwayatkan beliau berwudu dan melaksanakan shalat dua rakaat memohon petunjuk
kepada Allah. Hari ini, lebih dari seribu tahun setelah wafatnya, kitab beliau
masih dipelajari di pesantren, universitas, dan masjid di seluruh dunia. Pena
beliau masih berbicara, sementara jasadnya telah lama kembali ke tanah.
Perhatikan pula
Muslim bin al-Hajjaj. Beliau juga menghabiskan hidupnya untuk menyaring
hadis-hadis Rasulullah ﷺ dengan metode ilmiah yang sangat teliti. Hasilnya adalah Shahih
Muslim, kitab yang menjadi rujukan utama umat Islam sepanjang zaman. Setiap
kali seseorang membaca hadis dari kitab tersebut, mempelajari, lalu
mengamalkannya, insya Allah pahala ilmu yang bermanfaat terus mengalir kepada
penulisnya.
Kisah lain
datang dari Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Umur beliau tidak panjang, hanya
sekitar empat puluh lima tahun. Namun keberkahan hidupnya luar biasa. Dalam
waktu yang singkat beliau menghasilkan karya-karya monumental seperti Riyadhus
Shalihin, Al-Arba'in An-Nawawiyyah, dan Al-Majmu'. Hampir
tidak ada pesantren di dunia yang tidak mengenal karya beliau. Umurnya singkat,
tetapi pengaruh tulisannya melintasi berabad-abad. Ini menjadi pelajaran bahwa
keberkahan hidup tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari besarnya
manfaat yang ditinggalkan.
Demikian pula
Ibnu Katsir. Melalui kitab tafsirnya, jutaan kaum Muslimin dapat memahami makna
Al-Qur'an dengan lebih baik. Tafsir beliau bukan hanya kumpulan penjelasan
ayat, tetapi juga perpaduan antara Al-Qur'an, hadis, dan penjelasan para
sahabat serta tabi'in. Berapa banyak orang yang menangis ketika membaca
ayat-ayat Allah setelah memahami tafsir beliau? Berapa banyak yang mendapatkan
hidayah melalui karya tersebut? Semua itu menjadi amal yang terus mengalir.
Kita juga
mengenal Ibnu Taimiyah. Sebagian besar hidupnya diwarnai ujian, fitnah, bahkan
penjara. Namun penjara tidak mampu memenjarakan ilmunya. Justru di balik
dinding penjara lahir banyak karya yang hingga kini menjadi rujukan dunia
Islam. Beliau pernah mengatakan bahwa musuh tidak dapat mengambil
"surga" yang ada di dalam hatinya. Ketika lisannya dibatasi, penanya
tetap bekerja. Ketika langkahnya dihalangi, pikirannya tetap melahirkan karya.
Inilah bukti bahwa dakwah dengan tulisan tidak dapat dipenjara.
Kisah-kisah ini
menunjukkan satu pelajaran penting. Para ulama salaf tidak menulis demi
ketenaran. Mereka tidak mengejar gelar "penulis terlaris". Mereka
menulis karena takut ilmu hilang. Mereka khawatir generasi berikutnya
kehilangan petunjuk. Mereka sadar bahwa usia manusia terbatas, tetapi tulisan
dapat memperpanjang manfaat kehidupan. Karena itu, setiap lembar yang mereka
tulis dilandasi keikhlasan, kehati-hatian, dan rasa tanggung jawab di hadapan
Allah.
Hari ini,
kesempatan berjihad dengan tulisan justru jauh lebih besar dibandingkan masa
lalu. Jika dahulu seorang ulama harus menempuh perjalanan berbulan-bulan hanya
untuk mengirimkan sebuah kitab, kini sebuah artikel dapat dibaca jutaan orang
dalam hitungan detik. Seorang guru dapat membagikan modul pembelajaran kepada
murid-muridnya secara daring. Seorang dai dapat menyebarkan nasihat melalui
blog atau media sosial. Seorang mahasiswa dapat menerbitkan hasil penelitiannya
agar memberi manfaat bagi masyarakat. Seorang jurnalis Muslim dapat membela
kebenaran melalui berita yang jujur dan berimbang. Semua ini merupakan medan
jihad ilmu yang sangat luas.
Namun kemudahan
teknologi juga membawa tanggung jawab yang lebih besar. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang
siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala
orang-orang yang mengikutinya..." (HR. Muslim). Sebaliknya, siapa yang
mengajak kepada kesesatan akan menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya.
Karena itu, setiap tulisan harus dipastikan kebenarannya. Allah berfirman, "Wahai
orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu
berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6). Menulis
dalam Islam bukan sekadar menghasilkan banyak konten, tetapi menghadirkan
tulisan yang jujur, ilmiah, santun, dan membawa manusia semakin dekat kepada
Allah.
Dunia digital
saat ini dipenuhi jutaan tulisan setiap hari. Sayangnya, tidak sedikit yang
hanya mengejar sensasi, perdebatan, atau popularitas sesaat. Padahal umat Islam
membutuhkan lebih banyak penulis yang menghadirkan solusi, menumbuhkan
optimisme, memperkuat persatuan, menghidupkan semangat menuntut ilmu, membela
kehormatan Islam, mengangkat kisah perjuangan kaum Muslimin, dan mengajak
manusia kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Pena seorang mukmin seharusnya
menjadi sumber cahaya, bukan sumber fitnah.
Jangan pernah
berkata, "Saya bukan penulis." Semua orang yang mampu menyampaikan
ilmu dapat belajar menulis. Seorang ayah dapat menulis nasihat untuk
anak-anaknya. Seorang ibu dapat menulis pengalaman mendidik keluarga dengan
nilai-nilai Islam. Seorang guru dapat menyusun modul pembelajaran. Seorang
mahasiswa dapat menulis hasil riset yang bermanfaat. Seorang aktivis dakwah
dapat mendokumentasikan pengalaman perjuangan agar menjadi pelajaran bagi
generasi berikutnya. Bahkan catatan sederhana yang ditulis dengan ikhlas bisa
lebih bernilai daripada buku tebal yang ditulis demi pujian manusia.
Bayangkan jika
setiap Muslim berkomitmen menulis satu artikel bermanfaat setiap bulan. Dalam
setahun akan lahir jutaan tulisan yang mengajak kepada tauhid, akhlak, ilmu,
ukhuwah, pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial, dan kemajuan umat. Sedikit
demi sedikit, ruang digital yang selama ini dipenuhi kebisingan akan berubah
menjadi taman ilmu. Peradaban besar tidak dibangun dalam satu malam. Ia
dibangun oleh ribuan pena yang bekerja dalam diam, oleh orang-orang yang
mungkin tidak pernah tampil di panggung, tetapi meninggalkan jejak yang tidak
pernah hilang.
Pada akhirnya,
setiap kita akan meninggalkan dunia ini. Jabatan akan berakhir. Kekayaan akan
diwariskan. Popularitas akan dilupakan. Yang tetap hidup hanyalah amal yang
Allah terima. Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka
terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim bin
al-Hajjaj). Tulisan yang mengajarkan ilmu, menguatkan iman, memperbaiki akhlak,
menghidupkan semangat dakwah, dan mengajak manusia menuju ridha Allah termasuk
ilmu yang manfaatnya terus mengalir.
Maka jangan
biarkan pena kita mengering sebelum meninggalkan warisan bagi umat. Jangan
biarkan jemari kita lebih sibuk menyebarkan hal yang sia-sia daripada menebarkan
ilmu yang menyelamatkan. Tulislah meskipun hanya satu halaman. Tulislah
meskipun hanya satu hikmah. Tulislah meskipun pembacanya belum banyak. Sebab
kita tidak pernah tahu tulisan mana yang akan menjadi sebab seseorang
mendapatkan hidayah, memperbaiki shalatnya, kembali kepada Al-Qur'an, mencintai
sunnah, atau bangkit untuk berjuang di jalan Allah. Ketika itu terjadi, tulisan
tersebut akan terus hidup. Dan selama ia masih mengalirkan manfaat, selama
itulah jihad pena tidak pernah berakhir.[BA]

Posting Komentar untuk " Menulis Adalah Jihad yang Tidak Pernah Mati"